Pembaca Al-Quran (ilustrasi)

SERUJI.CO.ID – Di era Google, apa jadinya jika seorang aktivis demokrasi, yang mengagumi prinsip hak asasi manusia, yang suka puisi, dengan latar pendidikan barat yang kuat, lalu menyelami samudera Alquran selama bulan Ramadhan?

Para Nabi dan Rasul mendapatkan wahyu. Tapi untuk seorang aktivis, pemikir, penyair, penulis atau seorang pencari, cukuplah baginya mendapatkan inspirasi.

Bulan Ramadhan mempunyai arti khusus bagi saya selaku aktivis yang senang menggali, membaca dan menulis. Ini sudah ramadhan yang keempat, yang memberikan saya kreativitas, stamina dan inspirasi. Setiap sahur sayapun tergerak membaca dan menulis sesuatu.

Ramadhan kali ini setiap sahur saya membaca satu Juz Alquran. Dalam 29 malam sahur plus malam hari raya, lengkap 30 Juz Alquran saya baca. Sudah pula saya ekspresikan inspirasi yang saya peroleh dari setiap Juz, dan saya tuliskan dalam puisi esai mini. Sebanyak 30 malam, 30 Juz Alquran, lalu menjadi 30 puisi esai mini.

Selesai Hari Raya, saya renungkan sekali lagi. Prinsip hidup bagaimanakah yang saya temukan dalam Alquran?

-000-

Saya bukan seorang yang ahli Alquran. Tak sedikitpun saya berpretensi mengklaim inilah intisari Alquran.

Saya ibaratkan diri sebagai seorang penyelam. Tujuan saya menyelami samudra bukan untuk menceritakan secara obyektif dan sistematis hal ihwal apapun yang ada di bawah permukaan samudera.

Saya hanya mencari mutiara saja. Dengan sendirinya yang akan saya ekspresikan hanya hal ihwal mutiara. Pun tak semua mutiara yang ada dalam samudera saya temukan. Samudera begitu luas. Yang mampu saya jangkau begitu terbatas.

Mutiara pun banyak jenisnyq. Yang saya ambil dan bawa serta hanya mutiara yang sesuai dengan imajinasi dan selera. Ditambah lagi, saya menceritakan mutiara itu melalui mata batin saya sendiri.

Selaku aktivis demokrasi dan pengagum prinsip hak asasi, dengan sendirinya sudah ada bias dan subyektivitas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama