Pembaca Al-Quran (ilustrasi)

Sepuluh mutiara ini yang saya temukan ketika intens menyelami samudera Alquran. Individu lain sangat mungkin menemukan mutiara yang berbeda. Bisa pula mereka menemukan mutiara yang sama tapi berbeda dalam memberi makna.

Aneka mutiara itu lalu saya puisikan setiap sahur. Satu sahur satu puisi. Sengaja pula saya pilih puisi esai mini.

Apa pula itu puisi esai mini? Puisi esai adalah puisi panjang, sangat panjang, dengan catatan kaki. Ia menggabungkan realitas dan fiksi. Aneka realitas dituliskan dalam catatan kaki. Lalu ia dikembangkan menjadi fiksi dalam teks puisi. Fiksi mempunyai fungsi memberi efek dramatisasi agar pesan lebih menyentuh.

Puisi esai mini tetap memenuhi kriteria itu. Bedanya, ini versi mini. Jika puisi esai itu minimal ada 2000 kata dan 10 catatan kaki, puisi esai mini kurang dari 500 kata, dan kurang dari 10 catatan kaki.

Yang dikisahkan dalam puisi esai mini bisa apa saja. Untuk kali ini, dalam kumpulan buku ini, itu adalah mutiara Alquran. Mutiara itu diselipkan dalam kisah sejarah.

Sengaja saya pilih menceritakan kisah teladan tokoh non-Muslim. Ada Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, Nelson Mandela, George Washington, Chuck Feeney, dan lain lain.

Latar pemilihan tokoh non muslim justru untuk menunjukkan. Mutiara dalam Alquran itu berlaku universal. Ia juga menyentuh tokoh non-Muslim.

Agama berbeda dalam hal ritual dan konsep ketuhanan. Namun untuk kebajikan dan keadilan dalam hubungan manusia dan duniawi, dapat dicari titik temu antar agama.

-000-

Selesai sudah bulan puasa 2018. Bersyukur saya melewatinya dengan tuntas membaca 30 Juz Alquran. Bersyukur pula saya karena selama ramadhan itu akhirnya menulis dan mengumpulkannya dalam satu buku puisi esai mini.

Namun di atas segala, saya bawa 10 mutiara al quran itu di hati saya. Saya patri di sana dan membuatnya abadi. Seraya berdoa agar 10 mutiara itu senantiasa mengarahkan hidup saya.*

Juni 2018

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama