JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Minum teh saat makan adalah kebiasaan yang sangat umum di Indonesia, dari teh manis di warung nasi hingga teh tarik di restoran Padang. Namun, riset ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal-jurnal nutrisi bereputasi tinggi mengungkap fakta mengejutkan: kebiasaan ini bisa menghambat penyerapan zat besi dalam tubuh secara signifikan, bahkan hingga 70% dalam kondisi tertentu.
Ini bukan mitos atau teori belaka. Sejak dekade 1970-an, para peneliti secara konsisten menemukan bukti bahwa senyawa dalam teh, terutama tannin dan polyphenol, membentuk kompleks dengan zat besi sehingga tubuh tidak bisa menyerapnya dengan baik. Pertanyaannya: seberapa serius dampaknya, siapa yang paling berisiko, dan apa yang harus dilakukan?
Apa yang Terjadi di Dalam Tubuh Saat Teh Bertemu Makanan?
Teh, baik teh hitam, teh hijau, maupun teh oolong, mengandung senyawa bioaktif yang disebut polifenol, termasuk tannin, catechin, dan theaflavin. Senyawa-senyawa ini adalah “pahlawan” yang membuat teh memiliki banyak manfaat kesehatan: antioksidan kuat, anti-inflamasi, hingga potensi perlindungan terhadap kanker dan penyakit jantung.
Namun ada sisi gelap yang sering diabaikan. Ketika teh dikonsumsi bersamaan dengan makanan, tannin dalam teh akan mengikat zat besi non-heme (zat besi dari sumber nabati seperti bayam, tempe, tahu, kacang-kacangan) dan membentuk senyawa kompleks yang tidak dapat larut, disebut iron-tannate complex. Kompleks ini kemudian dikeluarkan dari tubuh melalui feses tanpa sempat diserap usus halus.
Akibatnya, sebagian besar zat besi dari makanan yang Anda konsumsi terbuang sia-sia, meski makanan tersebut kaya nutrisi sekalipun.
Bukti Ilmiah: Bukan Sekadar Klaim
Ini bukan klaim media kesehatan biasa. Bukti ilmiahnya sudah sangat kuat:
1. Studi Klasik di Jurnal Gut (1975)
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Gut, jurnal gastroenterologi terkemuka dunia, merupakan salah satu studi paling awal dan paling sering dikutip tentang efek teh terhadap penyerapan zat besi. Para peneliti menguji penyerapan zat besi dari berbagai sumber makanan (larutan FeCl3, roti, nasi dengan sup, hingga hemoglobin mentah) pada sukarelawan manusia.
Hasilnya konsisten: ketika teh dikonsumsi bersamaan dengan makanan, penyerapan zat besi dari semua sumber nabati tersebut terhambat secara signifikan. Para peneliti menyimpulkan bahwa minum teh yang mengandung tannin bersama makanan dapat berkontribusi pada munculnya defisiensi zat besi, terutama jika pola makan didominasi oleh bahan-bahan nabati.
2. Narrative Review di Current Developments in Nutrition / PMC (2017)
Sebuah narrative review komprehensif yang dipublikasikan di jurnal Current Developments in Nutrition (diindeks di PubMed/PMC) menganalisis puluhan studi intervensi dan epidemiologi tentang tannin dan bioavailabilitas zat besi. Temuan kunci: studi satu kali makan secara konsisten menunjukkan penurunan penyerapan zat besi (non-heme iron) dengan konsumsi tannin.
Salah satu studi yang dikutip melibatkan perempuan India premenopause, baik yang anemia maupun yang tidak, yang mengonsumsi 200 mL teh hitam bersama makanan: penyerapan zat besi mereka turun 21% dibanding kelompok yang minum air putih. Review ini juga menegaskan bahwa teh hitam memiliki efek penghambatan paling kuat karena kandungan tanninnya yang tinggi.
