JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Rupiah melemah tajam pada pembukaan perdagangan awal pekan ini. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tercatat menyentuh level terlemah harian di Rp17.122 per dolar AS pada Senin pagi, 13 April 2026, dengan harga pembukaan di Rp17.080, naik dari penutupan Jumat (10/4) di level Rp17.051,5.
Pelemahan rupiah ini melanjutkan tren tekanan yang sudah berlangsung selama dua pekan terakhir, seiring dengan kombinasi sentimen geopolitik Timur Tengah yang belum tuntas dan ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Rupiah Melemah, Dolar Perkasa di Rp17.122
Berdasarkan data Investing.com pada perdagangan Senin pagi, USD/IDR bergerak dalam kisaran harian antara Rp17.076,5 hingga Rp17.122,5, jauh di atas level psikologis Rp17.000. Analis pasar uang Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memprediksi rupiah bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah pada rentang Rp17.040 hingga Rp17.200 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.
Ibrahim menegaskan nilai tukar rupiah masih sukar untuk beranjak dari level Rp17.000 per dolar AS dalam sepekan ke depan, karena kurs masih dipengaruhi tensi geopolitik di Timur Tengah serta ketidakpastian kebijakan moneter AS.
Sementara itu, kurs e-Rate BCA per 12 April 2026 pukul 16.57 WIB menunjukkan dolar AS berada di posisi beli Rp17.035 dan jual Rp17.135, mencerminkan tekanan yang konsisten dari sesi akhir pekan lalu.
Konflik Timur Tengah dan Ancaman Senjata China–Iran
Pelemahan rupiah diperparah oleh laporan intelijen mengenai pengiriman persenjataan dari China ke Iran yang memicu kemarahan Presiden AS Donald Trump. Situasi ini menambah lapisan ketidakpastian di atas gencatan senjata AS–Iran dua pekan yang ditengahi Pakistan, sebuah kesepakatan yang dinilai pasar masih sangat rapuh.
Selat Hormuz juga tetap sebagian besar tertutup, menjaga harga minyak tetap tinggi dan mempersulit negosiasi lebih lanjut. Kondisi ini mendorong investor global kembali berlindung pada dolar AS sebagai aset safe haven, yang pada gilirannya menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Kalau terjadi perang terbuka, harga emas naik, harga minyak naik, dan dolar pun ikut naik. Ini yang berdampak pada pelemahan rupiah sehingga harga logam mulia di dalam negeri pun ikut terdongkrak,” ujar Ibrahim, dikutip Bisnis.com, Senin (13/4/2026).
Indeks Dolar AS Bergerak Melebar 97–101
Secara teknikal, indeks dolar AS (DXY) diprediksi bergerak melebar dalam rentang 97 hingga 101. Penguatan DXY menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, yang saat ini sangat sensitif terhadap arus keluar modal asing (capital outflow).
Indeks Dolar AS telah turun sekitar 1,33% dalam sepekan terakhir dan 2,07% sepanjang tahun berjalan , namun tekanan jangka pendek dari eskalasi geopolitik kembali mendorong permintaan dolar. Pelemahan DXY yang sempat terjadi pasca-gencatan senjata awal April tidak bertahan lama seiring munculnya ketegangan baru.
Tabel Kurs Referensi, Senin 13 April 2026
| Bank / Sumber | Kurs Beli (Rp) | Kurs Jual (Rp) | Keterangan |
|---|---|---|---|
| BCA e-Rate (12/4) | 17.035 | 17.135 | Update 16:57 WIB |
| BCA TT Counter (12/4) | 16.935 | 17.235 | Counter fisik |
| Investing.com (13/4 pagi) | 17.076 | 17.122 | Kisaran harian tertinggi pagi ini |
| Prediksi Ibrahim Assuaibi | 17.040 | 17.200 | Rentang perdagangan hari ini |
*Kurs bersifat indikatif dan dapat berubah sewaktu-waktu.
Grafik Pergerakan USD/IDR
Fundamental Domestik Turut Membebani Rupiah
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari luar. Cadangan devisa Indonesia pada Maret 2026 turun ke level terendah dalam hampir dua tahun, sementara surplus neraca perdagangan Februari menyempit — dua indikator yang menandakan melemahnya penyangga eksternal Indonesia.
Keyakinan konsumen juga mencapai titik terendah dalam lima bulan pada Maret 2026, sementara Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan Indonesia untuk tahun ini. Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi berpendapat proyeksi tersebut mengabaikan berbagai langkah dukungan yang telah disiapkan pemerintah.
Bank Indonesia Jaga Stabilitas Rupiah
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan bank sentral akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter untuk menjaga kestabilan nilai tukar. “Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka saat ini stabilitas menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia,” kata Destry.
BI disebut telah dan akan terus melakukan intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta instrumen moneter lainnya secara konsisten dan terukur. Bank sentral menekankan bahwa pelemahan rupiah saat ini sebagian besar bersumber dari faktor global, bukan kelemahan fundamental ekonomi Indonesia.
Outlook: Rupiah Masih Tertekan Sepekan ke Depan
Para pelaku pasar memperkirakan rupiah akan sulit keluar dari zona tekanan selama ketegangan geopolitik belum mereda secara definitif. Fokus pasar pekan ini akan tertuju pada perkembangan pembicaraan diplomatik AS–Iran, pergerakan harga minyak mentah global, serta data ekonomi AS yang dapat mengubah ekspektasi kebijakan The Fed.
Dari sisi domestik, pasar menantikan data cadangan devisa April dan perkembangan neraca perdagangan sebagai sinyal ketahanan eksternal Indonesia. Dengan kisaran prediksi Rp17.040–Rp17.200, rupiah berpotensi menguji level tertinggi barunya apabila eskalasi geopolitik kembali memanas dalam beberapa hari ke depan.
Disclaimer: Informasi nilai tukar dalam artikel ini bersifat indikatif berdasarkan data pasar yang tersedia pada pagi hari, Senin 13 April 2026. Kurs dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dinamika pasar valuta asing. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi atau transaksi valuta asing.
