Skenario 3 — Perang Berkepanjangan + Pergantian Rezim: 3–12 Bulan
Ini adalah skenario yang paling berbahaya. Trump sudah secara eksplisit menyerukan rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintah mereka, bahkan menyebut ini “mungkin satu-satunya kesempatan kalian selama beberapa generasi.” Netanyahu juga menyerukan pergantian rezim di Teheran.
Jika operasi militer dipadukan dengan tujuan regime change, konflik bisa berlangsung berbulan-bulan — mirip model Irak 2003, namun dengan medan yang jauh lebih kompleks.
Para analis seperti Amir Avivi dari Israel’s Defense and Security Forum justru optimistis bahwa masyarakat Iran yang sudah terkuras akibat inflasi 68 persen, pembantaian 30.000 demonstran oleh rezim, dan pemadaman internet, akan bangkit melawan pemerintah. Namun sejarah membuktikan bahwa transisi kekuasaan di negara sebesar Iran tidak pernah berlangsung bersih.
⚠️ RISIKO BAGI AMERIKA SERIKAT
1. Serangan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah
Ini adalah risiko paling nyata dan paling segera. Iran telah mengidentifikasi setidaknya 10 pangkalan militer AS sebagai target: Al Udeid di Qatar, Incirlik di Turki, Al Dhafra di UAE, pangkalan di Kuwait, Bahrain, dan Oman. Lebih dari 40.000 personel militer AS tersebar di kawasan ini. Pada 2020, setelah AS membunuh Jenderal Qasem Soleimani, Iran menyerang pangkalan Ain al-Assad di Irak dengan rudal balistik — menyebabkan cedera otak pada lebih dari 100 prajurit AS. Skala pembalasan kali ini bisa jauh lebih besar.
2. Gangguan Selat Hormuz dan Krisis Energi Global
Sekitar 20–21 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz setiap harinya. Iran sudah mengancam akan menutupnya, bahkan sempat melakukan simulasi penutupan parsial dalam latihan militer pekan lalu. IRGC telah memperkuat posisi di pulau-pulau strategis — Greater Tunb, Lesser Tunb, dan Abu Musa — dan dilaporkan meletakkan ranjau laut. Jika Hormuz ditutup bahkan hanya beberapa hari, harga minyak dunia bisa melonjak melampaui $150 per barel, memicu inflasi global dan resesi.
3. Serangan Siber Skala Besar
CSIS mencatat bahwa Iran memiliki rekam jejak panjang operasi siber ofensif — dari serangan ke lembaga keuangan AS (Operation Ababil 2012–2014) hingga serangan 700 persen ke Israel pasca-serangan Juni 2025. Infrastruktur kritis AS, mulai dari jaringan listrik, sistem keuangan, hingga fasilitas air, berpotensi menjadi sasaran.
4. Serangan Terorisme Transnasional
Selain serangan militer langsung, Iran memiliki jaringan agen dan kelompok proksi di luar Timur Tengah yang bisa melancarkan serangan teror ke aset-aset Israel, AS, dan Yahudi di seluruh dunia. Alma Research Center secara eksplisit memperingatkan bahwa kedutaan besar, lembaga komunitas Yahudi, dan diplomat bisa menjadi target.
5. Tekanan Politik Dalam Negeri AS
Berbeda dari serangan operasional Juni 2025 yang lebih terbatas, operasi hari ini Trump sendiri sebut sebagai “major combat operation.” Jika korban jiwa AS mulai berjatuhan, tekanan politik di Kongres — baik dari kubu isolasionis Partai Republik maupun Demokrat — bisa mempersulit Trump untuk mempertahankan dukungan publik jangka panjang.
