Isu Kuatkan Ekonomi Umat pun Disuarakan oleh TGB Zainul Majdi

Renungan Singkat Indonesia (3). Oleh: Denny JA

Bagi dunia politik, apa beda politisi dengan pemimpin? Orientasi politisi adalah jabatan. Mereka hanya tamu di dunia politik karena datang dan pergi sesuai dengan menang atau kalah dalam pemilihan umum.

Namun orientasi dari pemimpin adalah perubahan. Mereka adalah tuan rumah di dunia politik. Mereka datang membawa gagasan, the politics of ideas. Dalam pemilu mereka mungkin menang atau kalah. Namun jika gagasan yang ia bawa relevan, usia gagasan itu hidup lebih panjang dari sekedar jabatan politik.

Di tahun politik 2018, kita melihat dua tokoh nasional baru, yang potensial bercorak pemimpin. Satu Airlangga Hartarto dengan gagasan Revolusi Industri ke-4. Satu lagi TGB Zainul Majdi dengan gagasan Kuatkan Ekonomi Umat.

-000-

Mengapa isu kuatkan ekonomi umat menjadi penting?

Tak kurang dari Kemenko Ekonomi sendiri, Darmin Nasution, menyuarakannya. Bulan Desember 2017, Kemenko Ekonomi resmi memayungi program ekonomi berbasis keagamaan. Ia beri nama program kemitraan ekonomi umat. Inti dari program itu ada pada isu besar, pemerataan ekonomi. Tak ada negara yang stabil jika ketimpangan ekonomi semakin melebar.

ILO, organisasi buruh internasional, bahkan menyusun social unrest index. Ini semacam warning bahaya untuk dunia. Ketimpangan ekonomi mudah disulut menjadi kerusuhan sosial. Apalagi di zaman social media, dimana setiap individu bebas memposting kemarahannnya.

TGB Zainul Majdi agaknya merespon situasi itu. Berbeda dengan tokoh lain yang juga peduli dengan isu ekonomi umat, TGB Zainul Majdi lebih siap dan terprogram menyuarakannya.

Beredar luas video, meme, dan berita berikut alasannya. Ujar TGB Zainul Majdi, ketimpangan ekonomi Indonesia saat ini dibandingkan 20 tahun lalu semakin menjadi. Cukup kita melihat data yang dikeluarkan BPS, dan membandingkan Ginni Coeficient Index, trend semakin timpang itu terbaca.

Isu ketimpangan ekonomi, juga ekonomi umat, terlalu penting jika hanya diserahkan kepada Menko Ekonomi. Ini masalah besar dan sensitif. Semakin banyak tokoh yang menyuarakannya, semakin baik. TGB sendiri mengikrarkan diri menjadikan isu Kuatkan Ekonomi Umat sebagai agenda utama.

Namun agar ia tak terjebak dalam sektarianisme dan primordialisme yang juga bahaya, TGB Zainul Majdi menggandeng agenda itu dalam satu kesatuan dengan sejahterahkan rakyat kecil dan budayakan Pancasila.

Agenda publik apapun yang perlu dipopulerkan, menjadi harga mati, ia harus ada dalam platform Pancasila. Ini simbol dari keberagaman Indonesia yang tetap dilindungi dan diperlakukan secara adil.

Tapi bagaimanakah tepatnya program ekonomi umat yang baik untuk Indonesia yang beragam?

Pentingnya justru ada pada detail program. Pihak swasta, pemerintah, para dan ahli ekonomi harus menyusunnya. Itu bahkan kerja generasional, yang terus disempurnakan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Walau di tingkat gagasan ia jelas, namun ketika diterjemahkan dalam program operasional, program ekonomi umat tentu akan banyak trial and error, serta modifikasi.

Namun yang penting, isu ekonomi umat sudah disuarakan. Politik akan kering dan membosankan jika hanya berebut jabatan: apakah jabatan presiden, wapres, menteri, gubernur, bupati, walikota.

Saatnya, politik harus “kembali ke khittah,”: perbanyak debat gagasan besar. Isu kuatkan ekonomi umat, sejahterahkan rakyat kecil dan budayakan Pancasila menjadi segar karena semakin jarangnya gagasan diperdebatkan dalam politik kita hari hari ini. *

April 2018

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Prabowo, Jokowi dan Massa

Bila peristiwa 212 yang penuh makna direvisi pada versi pengkerdilan, sebuah perubahan sosial yang akan terjadi setelahnya sulit diprediksi. Itu seperti terjadi beberapa waktu sebelum keruntuhan rezim Suharto dua dekade lalu.

Anak Mudah Tersinggung dan Hilang Kontrol, Apa Yang Harus Dilakukan Ortu?

Anak saya pelajar, wanita, umur 15 tahun, sudah berjalan 2 bulan, berobat jalan di RJS Lawang, Malang. Tapi dia masih besar ketersinggungan, kesalah pahaman dalam menerima omongan dan perkataan orang lain.

Potret Pengelolaan BUMN: Prinsip GCG vs Managemen “Koncoisme”

Fenomena pengelolaan BUMN dan BUMD yang tidak mengindahkan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip GCG sangat potensial membawa kerugian dan kebangkrutan terhadap perusahaan BUMN dan BUMD yang bersangkutan.

Belajar, Bukan Bersekolah

Akhir pandemi belum juga jelas, satu hal sekarang makin jelas: Gedung-gedung megah persekolahan itu makin tidak relevan jika dipaksakan untuk kembali menampung kegiatan bersekolah lagi. Sekolah harus direposisi. Juga guru.

Bertema “Inovasi Beyond Pandemi”, AMSI Gelar Indonesian Digital Conference 2020

Ketua Umum AMSI, Wenseslaus Manggut mengatakan IDC yang digelar AMSI bertujuan untuk melihat sejauh mana berbagai sektor melakukan inovasi di tengah pandemi Covid-19 dan seperti apa ke depan.

Cek Fakta: Debat Pilkada Tangsel, Seluruh Paslon Minim Paparkan Data

Debat pemilihan umum kepala daerah (pilkada) Tangerang Selatan (Tangsel) membeberkan program kerja yang dimiliki para peserta. Sayangnya, dalam debat tersebut masing-masing pasangan calon (paslon) lebih banyak bicara dalam tatanan konsep.

PasarLukisan.com Gelar Pameran Lukisan Virtual Karya Pelukis dari Berbagai Daerah

"Ini adalah solusi yang diharapkan akan memecahkan kebekuan kegiatan kesenian, khususnya pameran seni rupa, akibat pandemi yang belum kunjung berakhir," kata M. Anis,

Paman Donald dan Eyang Joe

Banyak yang usil menyamakan pilpres Amerika dengan Indonesia, termasuk kemungkinan Biden akan mengajak Trump bertemu di MRT dan menawarinya menjadi menteri pertahanan.

Berikut Berbagai Larangan Bagi Penasihat Investasi Yang Diatur dalam Keputusan BPPM

Penasihat Investasi dalam menjalankan kegiatannya harus bersikap hati–hati, dikarenakan terdapat larangan yang harus diperhatikan oleh Penasihat Investasi agar terhindar dari sanksi.

TERPOPULER

Lima Macam Riba Yang Diharamkam

Diserbu Penumpang, Tarif Kapal Pelni Kendari-Jakarta Hanya Rp529 Ribu

Kebetulan harga tiket kapal laut milik Pelni masih relatif murah. Untuk penumpang dewasa dari Kendari hingga Tanjung Priuk, Jakarta Utara hanya dibanderol Rp529 ribu, termasuk tiket kapal super ekspres Jetliner Kendari-Baubau hanya Rp100 ribu perpenumpang.