☢️ PERINGATAN NUKLIR — 28 Februari 2026 | Data Terverifikasi Ganda
JAKARTA, SERUJI.CO.ID — Di tengah hujan bom AS dan Israel yang menghancurkan Teheran hari ini, Sabtu (28/02/2026),satu pertanyaan paling mengerikan menggantung di benak komunitas intelijen internasional: apakah Iran akan mengaktifkan opsi nuklirnya?
Berdasarkan data yang telah diverifikasi dari IAEA, ISIS Institute, Critical Threats Project, dan pernyataan resmi para pejabat Iran sendiri — jawabannya bukan lagi sekadar spekulasi.
☢️ PERNYATAAN PALING MENGANCAM: “UJUNGNYA TAK LAGI DI TANGAN KALIAN”
Segera setelah serangan pertama AS dan Israel mengguncang Teheran pagi ini, Kepala Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, langsung angkat bicara di media sosial dengan nada yang membuat bulu kuduk berdiri:
“Kami sudah memperingatkan kalian! Sekarang kalian telah memulai perjalanan yang ujungnya tidak lagi berada dalam kendali kalian.”
— Ebrahim Azizi, Kepala Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, 28 Februari 2026
Kalimat itu bukan sekadar retorika. Bagi para analis nuklir, frasa “ujung yang tidak lagi dalam kendali kalian” adalah kode yang sangat spesifik — merujuk pada skenario di mana Iran merasa eksistensinya benar-benar terancam, dan opsi nuklir menjadi kartu terakhir yang dipertimbangkan.
💣 KHARRAZI: “BISA BERUBAH JIKA EKSISTENSI IRAN TERANCAM”
Ini bukan ancaman baru yang muncul hari ini. Jauh sebelum serangan ini, penasihat senior dan mantan Menlu Iran, Kamal Kharrazi, sudah secara blak-blakan menyatakan kepada dunia bahwa Iran memiliki kapasitas teknis penuh untuk membangun senjata nuklir.
Namun selama ini, kata Kharrazi, Iran menahan diri berdasarkan fatwa (dekrit keagamaan) yang dikeluarkan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei yang melarang pengembangan senjata nuklir.
Yang paling mengkhawatirkan: Kharrazi secara eksplisit menambahkan bahwa sikap itu “bisa berubah jika eksistensi Iran terancam.”
Hari ini, dengan ibu kota Iran dihujani bom dan status Khamenei yang tidak diketahui — pertanyaan apakah Iran kini merasa eksistensinya benar-benar terancam bukan lagi retorik. Itu adalah pertanyaan yang kini sedang dihitung oleh setiap badan intelijen di dunia.
