Mungkin begitulah bangsa ini mengingat Pak Harto.
Represi, sensor, rasa takut—semuanya pelan menyingkir ke tepian bingkai.
Yang tinggal di tengah: jalan desa yang mulus, listrik yang akhirnya menyala, posyandu yang sibuk tiap pekan, beras yang harganya terasa terjaga.
Mungkinkah Pak Harto menjadi presiden yang kini paling disukai karena bias kacamata merah muda?
Dengan merujuk teori psikologi kognitif Daniel Kahneman, riset ini menjelaskan bahwa bias tersebut mekanisme alamiah otak yang menyaring memori negatif.
Kenangan kolektif bangsa terhadap era tertentu bisa berubah seiring waktu, terlepas dari fakta sejarah yang kompleks.
Namun kacamata merah muda bukan satu-satunya penjelasan.
Sebab jika semua presiden masa lalu kita lihat dengan lensa yang sama, mengapa Soeharto yang berada di puncak?
Mengapa bukan presiden lain yang sama-sama kita kenang dengan nostalgia?
Jawaban pertama: karena ingatan banyak orang bukan teori, melainkan tanah yang pernah diinjak, perubahan yang memang terjadi di era Pak Harto.
Sekolah yang berdiri, irigasi yang mengalir, pasar yang tertata. Itu semua benda nyata, bukan wacana, bukan omon-omon. Itu warisan konkret dari era Soeharto.
Jawaban kedua: citra paternal yang melekat. Soeharto tampil sebagai ayah rumah besar bernama Indonesia: Bapak Pembangunan.
Ia tegas, protektif, tidak banyak bicara.
Dalam zaman yang gaduh, citra seperti itu memberi rasa aman: seseorang yang “menjaga malam,” agar rakyat dapat tidur dengan tenang.
