Pak Harto, Pahlawan Nasional dan Kisah Kacamata Merah Muda

Oleh Denny JA

Kaget saya melihat hasilnya. “Benarkah?” saya bertanya dalam hati.

Saya meminta mereka memeriksa ulang: barangkali ada salah ketik, salah hitung, atau salah tabulasi.

Jawabnya: tidak ada yang salah. Prosedur baku dijalankan: multi-stage random sampling, 1.200 responden, wawancara tatap muka, margin of error ±2,9 persen, bulan Oktober 2025.

Ketelitian yang sama yang membuat LSI Denny JA mampu memprediksi pemenang lima pilpres berturut-turut.

Siapa presiden Indonesia yang paling disukai pemilih dari Aceh hingga Papua?

Angka-angka itu dingin, tetapi nadinya panas:

Soeharto — 29,0 persen.
Joko Widodo — 26,6 persen.
Soekarno — 15,1 persen.
Susilo Bambang Yudhoyono — 14,2 persen.
Gus Dur — 5,0 persen.
B.J. Habibie — 5,0 persen.
Megawati Soekarnoputri — 1,2 persen.
Tidak tahu/tidak jawab — 3,9 persen.

Saya teringat kembali kisah kacamata merah muda di atas.
Apakah kita sedang mengenakan kacamata yang sama ketika menilai masa lalu?

Apakah itu sebabnya Pak Harto, sosok yang diturunkan pdi 1998, tiga puluh tujuh tahun silam, kini justru paling disukai?

Psikologi kognitif menyebutnya rosy retrospection, bias kacamata merah muda.
Seiring waktu, detail pahit era Pak Harto memudar lebih cepat, yang manis menetap lebih lama.

Yang tegang di era Pak Harto diringankan, yang keras dilapisi kelembutan. Kita menatap ke belakang dan merasa hidup dulu lebih sederhana, lebih murah, lebih tertib.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER