
SERUJI.CO.ID – Pada akhir 1990-an, sekelompok peneliti psikologi di University of Washington melakukan eksperimen sederhana namun memikat.
Mereka membagikan kacamata berwarna lembut kepada para peserta yang baru saja kembali dari perjalanan lapangan.
Para peserta diminta menilai pengalaman mereka saat itu, lalu beberapa minggu kemudian diminta menilainya kembali.
Hasilnya mencengangkan: penilaian kedua selalu lebih tinggi, lebih indah, lebih hangat.
Kacamata, baik yang benar-benar dipakai maupun yang secara metaforis tertanam dalam ingatan, telah mengubah cara manusia menatap masa lalu.
Warna merah muda pada lensa itu bukan sekadar pigmen, tetapi simbol dari kecenderungan batin kita: melunakkan masa lalu agar terasa lebih bisa diterima.
Dari situlah lahir istilah rosy retrospection bias, atau dalam bahasa sehari-hari: melihat dunia dengan kacamata merah muda.
Ini sebuah bias yang membuat kita percaya bahwa dulu segalanya lebih baik, bahkan ketika dulu pun penuh cela.
Kisah ini yang saya ingat ketika ponsel bergetar: laporan akhir tim LSI Denny JA masuk ke meja saya.
Data itu menampilkan siapa presiden Indonesia yang paling disukai publik: dari Bung Karno, Pak Harto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY hingga Jokowi.
