Ruang Publik yang Manusiawi bersama Pancasila

Oleh: Nurul H. Maarif*, Dosen filsafat hukum pada Program Sarjana dan Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Merespon Esai Denny JA: NKRI Bersyariah atau Ruang Publik Yang Manusiawi

SERUJI.CO.ID – Proposal akademis Denny JA dapat mengundang polemik, dan bukan tidak mungkin, dapat mengundang cibiran, karena bagaimana mungkin sebuah keyakinan (belief) sebagai pengalaman hidup dikuantifikasi ke dalam suatu indeks?

Kuantifikasi itu jangan-jangan mengabaikan realitas yang ada, seperti dikatakan oleh Shelina Zahra Janmohamed dalam tulisannya yang berjudul “‘Islamicity’ rankings ignore the realities” (The National, 13 Juni 2014).

Padahal jika peringkat ini, seperti dikatakan oleh Denny JA, berkisar hubungan sosial menurut Al Quran; apakah memang pengalaman hidup (sosial) tak bisa diuji secara rasional? Apakah mengujinya secara kuantitatif akan berakhir pada pengabaian realitas hidup? Apakah jangan-jangan sikap menolak uji kuantitatif ini akan membuat pengalaman hidup (sosial) itu tercerabut dari realitasnya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas patut untuk direnungkan karena beberapa alasan berikut.


Pertama, kepercayaan (belief) membutuhkan tafsir. Dalam (filsafat) fenomenologi agama, ajaran (doktrin) agama dan pengalaman individu adalah dua elemen yang saling melengkapi, yang satu sama lainnya saling menginformasikan. Sederhananya, seorang semakin beriman akan ajarannya itu berkat pengalaman hidupnya. Di lain sisi, pengalaman hidupnya semakin berkualitas seiring dengan kedalaman keimanannya.

Baca Juga: Soal Gagasan Habib Rizieq “NKRI Bersyariah”: Label atau Substansi?

Lalu bagaimana mengukurnya secara ilmiah, apabila tafsir akan kepercayaan (belief) betul-betul ingin menjadi pengalaman yang hidup, terhubung dengan realitasnya? Menurut hemat saya, tidak ada salahnya jika tafsir tersebut diperkuat dengan data kuantitatif.

Oleh karena itu, Islamicity Index menjadi metode yang terukur untuk menyempurnakan tafsir akan ajaran (doktrin), karena indeks tersebut bisa dijadikan bahan refleksi akan pengalaman hidup (sosial) tiap-tiap individu.

Dengan kata lain, si A menjalankan ajarannya dalam pengalaman keseharian. Si A bukan sendirian. Ada banyak yang memiliki fenomena serupa dengan si A.

Pengalaman si A dan katakanlah jutaan umat lainnya, kemudian dapat direfleksikan apakah itu telah sesuai dengan ajaran (doktrin) agamanya, salah satunya, melalui indikator-indikator yang disediakan oleh Islamicity Index. Toh, yang hendak dituju dari indeks ini, seperti dikatakan oleh Denny JA, adalah aspek hubungan sosial, bukan soal ajarannya an sich.

Di sinilah relevansi indeks ini. Ia dapat digunakan untuk membuktikan seberapa nyatanya kepercayaan (belief) tertuang dalam pengalaman hidup (sosial) seseorang dalam menjalani realitasnya.

BACA JUGA

Loading...

Kolom dr. Irsyal, Sp PD

Nikmat Allah Jangan Dustakan

Kenapa anak itu bahagia? Karena dia tahu berterimakasih dan menghargai hadiah yang didapatnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Loading...

Pendidikan Antikorupsi di Perguruan Tinggi

Menurut Laode M Syarif, saat ini 68% pelaku korupsi merupakan lulusan perguruan tinggi. Makanya, perguruan tinggi harus bertanggungjawab atas kejahatan korupsi yang dilakukan lulusannya.

Media di Tengah Masyarakat Yang Terjangkit Post Truth

Bagi media, Post Truth itu sesungguhnya sangat menguntungkan. Karena di tengah masyarakat yang terjangkiti Post Truth mereka tidak sedang mencari kebenaran, tapi kesukaan.

Pakar Gempa AS Minta Maaf ke Masyarakat NTB Atas Prediksi Potensi Gempa di Lombok

Ahli geologi dan kegempaan asal Amerika Serikat, Prof Ron A Harris meminta maaf kepada masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) atas pernyataanya mengenai hasil penelitian potensi gempa di selatan Lombok, sehingga membuat rasa takut masyarakat.

Indonesia Kecam Dewan Kota Oxford Yang Berikan Penghargaan Pada Benny Wenda

Pemerintah Indonesia mengecam keras pemberian penghargaan oleh Dewan Kota Oxford, Inggris, kepada Benny Wenda, anggota kelompok gerakan separatis Kemerdekaan Papua Barat.

Terbukti Langgar Kode Etik Saat Pemilu 2019, DKPP Copot Ketua KPU Sumut

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara (Sumut), Yulhasni diberi peringatan keras dan dicopot dari jabatannya oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI.

Kasus Korupsi Jasmas, Wakil Ketua DPRD dari Gerindra Ini Dijebloskan ke Rutan Medaeng

Wakil Ketua DPRD Surabaya dari Partai Gerindra, Darmawan (Aden) usai diperiksa sebagai saksi terkait aliran dana Jasmas senilai Rp4,9 miliar yang bermasalah tersebut, Selasa (16/7) langsung ditahan penyidik Kejari Tanjung Perak.

Pendidikan Antikorupsi di Perguruan Tinggi

Menurut Laode M Syarif, saat ini 68% pelaku korupsi merupakan lulusan perguruan tinggi. Makanya, perguruan tinggi harus bertanggungjawab atas kejahatan korupsi yang dilakukan lulusannya.

Wow, Utang Pemerintah Kembali Naik Capai Rp4.570 Triliun, Beginilah Posturnya

Jika dibandingkan dengan posisi utang pemerintah pada akhir Desember 2018 yang berjumlah Rp3.995,25 triliun, utang pemerintah pusat ini mengalami kenaikan sebesar 14,39% atau sebesar Rp574,92 triliun.

Terbukti Langgar Kode Etik Saat Pemilu 2019, DKPP Copot Ketua KPU Sumut

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara (Sumut), Yulhasni diberi peringatan keras dan dicopot dari jabatannya oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI.

Ucapkan Selamat Pada Jokowi, Prabowo: Kami Siap Membantu Jika Diperlukan

Prabowo juga menyatakan kesiapannya untuk membantu pemerintahan Jokowi bila diperlukan untuk kepentingan rakyat. “Menjadi Presiden itu mengabdi. Masalah yang dihapi besar, kami siap membantu kalau diperlukan untuk kepentingan rakyat,” ujar Prabowo.

Jokowi-Prabowo Bertemu, Berakhirlah Era Cebong-Kampret

Akhirnya Presiden terpilih dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, Jokowi bertemu dengan calon Presiden Prabowo Subianto. Pertemuan bersejarah itu terjadi di stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) Lebak Bulus Jakarta Selatan, Sabtu (13/7) pukul 10.00 WIB.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

MUI Kecam Iklan Lowongan Kerja Yang Mensyaratkan Melepas Hijab Saat Bekerja

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mengecam perusahaan yang mengiklankan lowongan kerja dengan mensyaratkan harus bersedia melepas jilbab selama bekerja.

Wow, Utang Pemerintah Kembali Naik Capai Rp4.570 Triliun, Beginilah Posturnya

Jika dibandingkan dengan posisi utang pemerintah pada akhir Desember 2018 yang berjumlah Rp3.995,25 triliun, utang pemerintah pusat ini mengalami kenaikan sebesar 14,39% atau sebesar Rp574,92 triliun.