Gencatan Senjata AS Iran Berlaku, Selat Hormuz Dibuka: Perundingan Damai Dimulai di Islamabad

JAKARTA, SERUJI.CO.IDGencatan senjata AS Iran resmi berlaku mulai Rabu, 8 April 2026, menghentikan sekitar 40 hari konflik bersenjata yang telah mengguncang kawasan Timur Tengah dan mengancam stabilitas ekonomi global. Kesepakatan yang dimediasi Pakistan ini menjadi titik balik penting setelah konflik paling menegangkan antara Washington dan Teheran sejak awal 2026.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penangguhan serangan militer selama dua pekan dengan syarat utama Iran membuka penuh jalur pelayaran di Selat Hormuz. Iran kemudian mengonfirmasi kesepakatan tersebut melalui Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan menyebutnya sebagai “kemenangan bagi Iran”. Pemimpin Tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, dilaporkan telah menyetujui kesepakatan ini.

Kronologi 40 Hari Konflik AS-Iran

Konflik ini berakar dari serangkaian eskalasi yang berlangsung sepanjang awal 2026. Pada akhir Desember 2025, protes antipemerintah terbesar sejak Revolusi 1979 meletus di Iran, dipicu oleh krisis ekonomi dan anjloknya nilai rial. Pemerintah Iran merespons dengan tindakan yang mengakibatkan ribuan korban jiwa.

Titik didih terbesar terjadi pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel secara bersama-sama melancarkan serangan udara ke sejumlah titik strategis di Iran dalam operasi yang diberi kode Operation Epic Fury. Serangan ini menargetkan fasilitas nuklir, instalasi militer, dan infrastruktur energi Iran. Dampak paling mengejutkan adalah laporan tewasnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dalam serangan tersebut.

Selama 40 hari konflik berlangsung, total korban jiwa di kawasan Timur Tengah telah melampaui 3.400 orang. Di Iran, serangan udara AS dan Israel dilaporkan menewaskan lebih dari 1.900 warga sipil dan personel militer berdasarkan laporan Deputi Menteri Kesehatan Iran. Lebanon mencatat minimal 1.400 korban jiwa, sementara di pihak AS, 13 tentara gugur dalam 40 hari konflik.

Selat Hormuz Dibuka, Harga Minyak Anjlok

Salah satu dampak paling signifikan dari konflik ini adalah penutupan Selat Hormuz oleh Iran, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Penutupan jalur ini menyebabkan lonjakan harga energi global dan gangguan rantai pasok internasional.

Dengan disepakatinya gencatan senjata, Iran mengonfirmasi akan kembali membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz selama periode gencatan senjata berlangsung. Kabar ini langsung berdampak positif pada pasar global: harga minyak mentah dilaporkan anjlok hingga 16 persen sesaat setelah pengumuman Trump, sementara bursa saham Amerika melonjak tajam.

Namun situasi tidak sepenuhnya stabil. Beberapa jam setelah gencatan senjata diumumkan, Israel melakukan serangan besar-besaran ke Lebanon, yang disebut sebagai serangan terkoordinasi “terbesar” sejak dimulainya konflik terbaru. Iran langsung memperingatkan AS harus memilih antara gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel.

Kedua Pihak Klaim Kemenangan

Meski berhasil menghentikan tembak-menembak, kedua belah pihak saling klaim kemenangan. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan ini merupakan “kemenangan militer kapital V”, dan mengklaim militer Iran telah dibuat tidak efektif. Sementara Iran menyebut AS telah “menyerah pada kehendak rakyat Iran” dan kesepakatan ini “kemenangan di medan pertempuran akan dikonsolidasikan” dalam perundingan mendatang.

Trump sendiri menyebutkan pihaknya telah menerima proposal damai 10 poin dari Iran yang dinilai sebagai dasar negosiasi yang “layak”. Trump juga menyatakan AS akan bekerja sama secara erat dengan Iran terkait program nuklir dan memastikan tidak akan ada pengayaan uranium. Namun Iran mengklaim justru AS telah menyetujui pengayaan uranium di Iran, mencerminkan kesenjangan interpretasi yang masih lebar.

Perundingan Damai Dimulai di Islamabad

Sebagai tindak lanjut, putaran pertama pembicaraan antara AS dan Iran dibuka di ibu kota Pakistan, Islamabad, pada Sabtu, 11 April 2026. Kesepakatan ini dimediasi oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Panglima Militer Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir.

Delegasi Iran dipimpin langsung oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, didampingi Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Ketua Dewan Keamanan Nasional Ali Akbar Ahmadian, dan Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati. Sementara delegasi AS dipimpin oleh Wakil Presiden J.D. Vance bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Dalam perkembangan terbaru hingga Minggu (12/4/2026), perundingan di Islamabad dilaporkan belum mencapai kesepakatan setelah 21 jam pembicaraan. Wakil Presiden AS J.D. Vance menyatakan pihaknya telah memberikan yang terbaik. Namun perundingan dilaporkan akan diperpanjang satu hari lagi guna mencari titik temu yang lebih konkret.

Dampak terhadap Ekonomi Indonesia

Konflik AS-Iran selama 40 hari ini memberikan tekanan nyata terhadap perekonomian Indonesia. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia mencatat bahwa sejak memanasnya konflik, arus modal keluar dari pasar obligasi Indonesia mencapai US$0,41 miliar hingga awal Maret 2026. Nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp17.000 per dolar AS pada 9 Maret sebelum sedikit menguat.

Di sektor riil, harga plastik di beberapa kota naik hingga 50 persen akibat terganggunya pasokan bahan baku petrokimia dari Timur Tengah. Kapal tanker milik Pertamina juga sempat tertahan di Selat Hormuz dan pemerintah terus melakukan lobi untuk pembebasannya. APBN 2026 yang menggunakan asumsi harga minyak US$70 per barel kini terancam meleset dari proyeksi awal.

Gencatan senjata memberikan sedikit napas bagi perekonomian global termasuk Indonesia, namun pengamat mengingatkan bahwa tekanan ekonomi yang sudah menghantam Indonesia selama perang berlangsung tidak langsung lenyap begitu saja. Stabilitas permanen baru bisa dirasakan jika perundingan di Islamabad berhasil menghasilkan kesepakatan damai jangka panjang.

Pengamat hubungan internasional memprediksi perang AS-Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026 ini bisa selesai pada 30 April 2026, mengingat Kongres AS membatasi presiden berperang maksimal 60 hari tanpa persetujuan legislatif. Dengan gencatan senjata dua pekan yang berlaku mulai 8 April, negosiasi permanen di Islamabad menjadi penentu apakah perdamaian jangka panjang benar-benar dapat tercapai.

Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan informasi dari sumber-sumber media terpercaya. Situasi konflik bersifat dinamis dan terus berkembang.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER