Kivlan Zen Akan Dihadapkan Dengan Habil Marati Untuk Interogasi

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Keterangan tersangka dugaan kepemilikan senjata api ilegal Kivlan Zen akan dikonfrontasi dengan keterangan tersangka percobaan pembunuhan Habil Marati, Iwan Kurniawan dan nama lainnya yang akan saling dihadapkan untuk interogasi pada Selasa (18/6) petang ini.

“Kami semua akan hadir sekitar pukul 17:00 WIB di Polda Metro Jaya,” kata kuasa hukum Kivlan, Muhammad Yuntri, seperti yang dilansir dari Antara, Selasa (18/6).

Selain dihadap-hadapkan bersama Habil dan Iwan, kata Yuntri, kliennya juga akan dihadapkan dengan Titi dan Azmi yang juga saksi dalam kasus percobaan pembunuhan yang menetapkan Habil Marati sebagai tersangka.

“Iya nanti ada lima orang, ada Habil Marati, Iwan Kurniawan, pak Kivlan, Titi dan Azmi. Ini semua pihak yang ada di unit II terkait dengan tersangka Habil Marati,” ujar Yuntri.

Yuntri menuturkan, pada pemeriksaan Kivlan sebelumnya pada Senin (17/6), ia membantah semua keterangan yang disampaikan tersangka Iwan Kurniawan yang menurutnya adalah saksi kunci dalam kasus Habil Marati.

“Karena saksi kunci daripada Habil Marati itu Iwan. Nah, kita bantah semua itu, nanti akan dibuktikan ketika dikonfrontasi apa iya ada keterlibatan pak Kivlan di situ,” ucapnya.

Jika nantinya hasil konfrontasi tidak dapat membuktikan keterlibatan Kivlan, maka menurutnya, polisi wajib membebaskan mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) tersebut.

“Ini akan menentukan apakah benar atau tidak daripada berita yang disangkakan kepada Habil Marati, kalau tidak sesuai ya nanti Pak Kivlan dibebaskan dari situ,” ucapnya.

Sebelumnya, Kivlan mengakui telah menerima uang dari Politikus PPP Habil Marati. Ia menerima 4.000 dolar Singapura atau setara Rp42.400.000.

“Mengakui, tapi tidak sesuai dengan tuduhan. Uang itu hanya untuk demo (Supersemar). Tidak ada kaitan sama sekali dengan masalah pembelian senjata, membunuh tidak ada sama sekali,” kata Yuntri.

Dalam pemeriksaan terakhirnya Senin (17/6), Kivlan memberikan nomor rekening ke penyidik untuk mengecek uang yang masuk.

“Dicek tadi rekening. Dikasihkan rekeningnya, bahwa terima ke rekening ia terima dan sampaikan ada. Yang satu Rp50 juta. Yang satu lagi 4.000 dolar Singapura untuk kegiatan antikomunis atau supersemar yang di Monas,” tutur Yuntri.

Yuntri menerangkan, uang Rp50 juta itu diberikan Kivlan kepada anak buahnya Iwan Kurniawan (HK) yang saat ini juga telah ditetapkan sebagai tersangka. Uang itu digunakan untuk tour ke daerah-daerah mengantisipasi gerakan-gerakan komunis.

Namun, Iwan yang menyanggupi mendatangkan 1.000, ternyata tidak terjadi, bahkan Iwan sempat menghilang.

Adapun Yuntri mengungkapkan Kivlan dan Habil saling kenal mengenal sejak setahun yang lalu. Mereka kenal lewat sebuah grup di media sosial WhatsApp (WA).

Yuntri mengatakan, uang yang diterima Kivlan diberikan secara sukarela oleh Habil. Tak ada imbalan apa pun yang diharapkan oleh Habil.

“Sukarela saja. Mereka kan kenal dari WA grup. Itu grup untuk diskusi saja tentang masalah kebangsaan. Itu ada gerakan GMBI, karena di diskusi itu berkembang butuh uang untuk keperluan gerakan antikomunis, beliau (Habil) kasih,” terang Yuntri.

Meski telah kenal satu tahun, Yuntri menyebut kliennya tak terlalu dekat dengan politikus PPP itu. “Dekat juga enggak, jauh juga enggak, tapi kenal baik,” kata Yuntri.

Habil Marati disebut sebagai donatur eksekutor empat pejabat negara yang menjadi target pembunuhan. Ia menyerahkan uang Rp60 juta kepada para calon eksekutor.

Habil telah ditahan polisi. Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya AKBP, Ade Ary mengungkapkan Habil memberi uang kepada mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayjen (Purn) Kivlan Zen sebesar 15 ribu dolar Singapura atau setara Rp150 juta.

Kivlan memberikan uang itu kepada anak buahnya, Iwan Kurniawan alias Helmi Kurniawan, untuk membeli senjata laras panjang dan pendek. Senjata itu disebut untuk menembak mati empat tokoh nasional dan satu pimpinan lembaga survei.

Sumber:Ant

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

PR Mendikbud Nadiem: Jadikan Mapel Sejarah Penguat Pendidikan Karakter

Setelah sempat menjadi polemik panas, informasi yang yang menyebutkan mata pelajaran (mapel) Sejarah akan dihapus dari kurikulum sekolah sudah diklarifikasi langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim

Bahagia itu Tidak Bersyarat

Bahagia adalah kata yang tidak asing bagi kita semua. Bahagia merupakan impian semua orang yang hidup di dunia ini. Bahkan tidak hanya di dunia, di Akhirat pun kita mendambakannya. Setiap waktu kita berdoa untuk meraih kebahagian ini, sayang kita tidak pernah belajar bagaimana mencari, menggapai, menemukan kebahagiaan itu.

Diabetes Melitus: Mengingkari Diagnosis Dapat Berakibat Fatal

Bermacam reaksi pasien ketika pertama kali diberitahu bahwa mereka menderita diabetes melitus. Ada pasien yang dapat memerima dengan tenang, memahaminya, ada juga yang kecewa, stress, tidak percaya, marah, tidak menerimanya, atau bahkan mengingkarinya.

Innalillahi, Indonesia Kembali Berduka Mantan Mendiknas Prof Malik Fadjar Wafat

Indonesia kembali kehilangan putra  terbaiknya, hari ini, Senin (7/9), dengan wafatnya Prof Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional (2001-2004).

Boneka Cantik dari Balaikota

Seperti drama korea (drakor), ada yang menangis ada yang tertawa. Akhirnya perburuan rekom PDIP untuk pilwali Surabaya mencapai antiklimaks, Rabu (2/9). And the winner is...Tri Rismaharini sebagai sutradara terbaik. Whisnu berusaha tatag, berdiri di depan kamera menghadap Megawati Soekarnoputri. "Aku tidak akan buang kamu, Whisnu," kata Mega.

Pria 57 Tahun di Bogor: Jari Kaki Terasa Kaku, Bekas Luka Menghitam dan Bersisik

Dok, jari-jari kaki saya terasa kaku, agak mati rasa kadang nyeri, terus kaki kanan di atas mata kaki awalnta gatal saya garuk luka, sekarang sembuh tapi kulitnya jadi bersisik dan menghitam. Ini indikasi apa ya dokter?

TERPOPULER