Menakar Janji Jokowi: Mungkinkah Statistik Memfitnah?

Oleh: Ahsanul Fuad Saragih

SERUJI.CO.ID – Pada masa kampanye pemilihan Presiden tahun 2014 silam, mantan Wali Kota Solo, Jokowi, dihadapan para pelaku usaha menjanjikan mampu membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 7%. Yang menurut Gubernur DKI Jakarta yang tidak genap dua tahun menjabat ini tidaklah sulit dicapai.

“Saya meyakini, kalau hal-hal yang rumit-rumit tadi lebih disederhanakan, hal-hal yang sebetulnya mudah itu lebih digampangkan, saya kira untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tujuh persen juga bukan sesuatu yang sulit,” kata Jokowi masa itu.

Janji memang manis, tapi kenyataan berkata sebaliknya.

Mari kita lihat!

Pada tahun 2015 , target pertumbuhan ekonomi hanya berkisar 5,8%. Kenyataanya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi 2015 sebesar 4,88%. Realisasi tersebut ternyata merupakan yang terendah sejak enam tahun terakhir.

Tahun 2016 pun idem. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,02% di 2016. Masih jauh dari janji Jokowi.

Untuk 2017 sendiri, Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyepakati target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1%.

Bagaimana 2018?

Target pertumbuhan ekonomi yang diusulkan pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2018 sebesar 5,4%. Namun para pelaku usaha yang bernaung di bawah Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 berkisar antara 5,05-5,20%.

Jika demikian, apakah alasan cerdas untuk “2 periode”?

Tampaknya pendukung Pak Jokowi harus kerja keras untuk mengangkat elektabilitas beliau.

Boleh jadi got-got parit bisa jadi pilihan tempat blusukan. Bukankah ini musim penghujan?

Oh ya. Jadi ingat janji yang lain. Jejak digital memang sulit dihapus. “Macet dan Banjir Lebih Mudah Diatasi jika Jadi Presiden,” kata Jokowi saat meninggalkan kursi Gubernur DKI Jakarta untuk mendapatkan kursi Presiden.

Tulisan ini cukup ditutup dengan kalimat; “Manusia itu yang dipegang janjinya. Apalagi agama mengatakan: ingkar janji adalah ciri orang munafik”.

1 KOMENTAR

  1. Namanya juga janji…..namanya juga lidah yg bikin janji , namanya juga usaha…kalau emang belum berhasil ya dibantu, kalau ada yg bisa lebih baik,apa salahnya?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Reposisi Sekolah Demi Pendidikan

Menempatkan sekolah sebagai lembaga yang paling membentuk keterpelajaran seseorang adalah mitos dan tahayul, kalau tidak bisa disebut hoaks.

PT Semen Indonesia: Jebloknya Arus Kas Pasca Akuisisi Super Mahal Holcim

Akuisisi mestinya adalah sesuatu yang positif. Tetapi laporan keuangan terbaru SI berkata lain. Akuisisi justru menurunkan kinerja. Mengapa?

Terpilih Secara Aklamasi, Sutopo Kristanto Pimpin IKA ITS Periode 2019-2023

Pria kelahiran Tulungagung, 25 Desember 1954 ini menggantikan Ketua Umum sebelumnya, Dwi Sutjipto yang merupakan Kepala SKK Migas. Adapun Sutopo sehari-harinya adalah Presiden Direktur PT Jaya Konstruksi.

“Tenggelamkan!” Yang Populer di Era Susi Pudjiastuti, Bakal Hilang di Era Edhy Prabowo

"Tenggelamkan!" yang selama 5 tahun belakangan akrab di telinga masyarakat, akan hilang pasca Susi tidak lagi menjabat sebagai Menteri KKP, digantikan politisi Gerindra, Edhy Prabowo.

Bantah Pangkas Anggaran Pendidikan Demi Formula E, Begini Penjelasan Pemprov DKI

Malah kata Syaefuloh, Pemprov DKI Jakarta terus melakukan peningkatan anggaran rehabilitasi total gedung sekolah secara signifikan, terutama pada 2017 sampai 2020

Pangkas Anggaran Pendidikan Demi Formula E, PSI: Bukti Kepedulian Anies Sangat Rendah Pada Pelajar

Diungkapkan Anggara, bahwa untuk melaksanakan perhelatan balap mobil listrik tersebut, Pemprov DKI menganggarkan sebesar Rp1,16 triliun. Namun, anggaran sebesar itu ternyata diambil dengan cara memangkas anggaran lain yang jauh lebih penting.

Bertemu Dubes Saudi Siang Ini, Menhan Prabowo Akan Bahas Soal Habib Rizieq

Dalam pertemuan yang direncanakan berlangsung pukul 15.00 WIB tersebut, Prabowo berharap dapat juga membahas soal klaim HRS yang mengatakan dicekal Kerajaan Arab Saudi.

Setelah 25 Tahun Bekerja Sebagai Dokter, Baru Ketahuan Ijazah Yang Digunakan Palsu

Ijazah kedokteran SU diketahui palsu setelah 25 tahun bekerja sebagai dokter di PT Pelni.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

close