Mengapa Islamophobia?

0
26

 

Colchester, Seruji.com- Biasanya orang takut dengan ketinggian, takut pada kegelapan, cemas terhadap kesendirian, risau kepada benda atau hewan tertentu menjadi istilah untuk munculnya kata phobia.

Penulis belum pernah mendengar ada Kristenphobia, walaupun bangsa Eropa menjajah banyak negara-negara Islam ratusan tahun lamanya. Tidak juga ada kampanye Hinduphobia untuk mendeskripsikan bagaimana dahsyatnya penderitaan dan ketakutan masyarakat Rohingya di Myanmar. Yahudiphobia juga tidak muncul saat Israel merampas tanah Palestina hingga kini. Syiahphobia, Konghucuphobia dan Budhaphobia juga tidak. Mengapa ‘hantu ketakutan tak berdasar itu dilabelkan khusus untuk Islam?

Tentunya kita pernah mendengar nama Isaac Newton. Ia tercatat sebagai salah satu ilmuan terjenius dalam sejarah. Prestasi dan temuannya menempatkan Newton pada posisi ilmuan paling berpengaruh di dunia sebagaimana diurutkan Michael H. Hart setelah Nabi Muhammad SAW dalam bukunya berjudul, Seratus Orang Paling Berpengaruh di Dunia.  Penemuan paling fenomenal dan popular adalah ketika ia menemukan teori gravitasi lewat sebuah apel yang jatuh saat Newton duduk di bawah pohonnya. Berdasarkan pengamatan itu, Newton membuat pernyataan dalam teori fisika yang dalam bahasa awamnya menyatakan, setiap benda di muka bumi akan jatuh ke bawah.

Hanya saja untuk membuat kesimpulan, tentu tidak bisa tiba-tiba. Saya sepakat dengan pembimbing saya, Profesor Hadi Susanto yang mengajar di Matematika Terapan, Universitas Essex, Colchester, UK. Dalam bukunya berjudul Tuhan Pasti Ahli Matematika disebutkan pengambilan kesimpulan berdasarkan pengamatan dalam matematika merupakan sebuah kesimpulan yang melompat. Bila kita ingin membuktikan setiap benda di muka bumi akan jatuh ke bawah, berarti kita harus menunjukkan bahwa ‘semua’benda di muka bumi ini bila jatuh maka benar-benar jatuhnya ke bawah. Untuk itu, kita harus melakukan percobaan untuk ‘semua’benda yang ada di muka bumi ini. Sanggupkah?

Tulisan ini ingin melihat fenomena terburu-burunya membuat kesimpulan, yang merupakan sebuah kesalahan fatal. Kesimpulan melompat dapat mengarahkan pada prasangka, pembuatan tindakan, kebijakan atau efek negatif bukan hanya kepada diri pembuat kesimpulan sendiri tapi juga pada orang banyak.

Belakangan ini, banyak orang membuat kesimpulan terburu-buru, yang kadang hanya berdasarkan berita atau cerita dari media arus utama yang notabene memiliki misi sesuai dengan keinginan pemiliknya, atau media sosial yang lebih cenderung merupakan pendapat pribadi. Peristiwa penembakan Charli Hebddo, Januari 2015 dan penembakan massal atau dikenal dengan peristiwa serangan Paris bulan November 2015 lalu diberitakan begitu besar. Hampir semua media mainstream di Inggris, United Kingdom (UK) membuat headline berita mereka dengan peristiwa itu. Berdasarkan pengamatan mereka, kesimpulannya Islam berada di belakang peristiwa tersebut.

Efeknya, begitu banyak simpati dari dunia internasional kepada ‘korban’, namun korban yang baru banyak bermunculan tanpa mendapat simpati. Tindakan kriminal terhadap Muslimah di London hanya karena ia berjilbab pasca peristiwa di Paris, sentimen dan kampanye anti Islam di daratan Eropa hanyalah sedikit dari korban-korban baru yang dihasilkan dari kesimpulan melompat. Umat Islam dipojokkan. Lalu, seperti biasa Islamic Society yang ada di tempat  masing-masing akan mengimbau komunitasnya agar menghindari berjalan atau pulang dari kampus pada malam hari. Terutama para perempuan yang menggunakan hijab atau jilbab.

Belum lama ini, saya bersama keluarga mengikuti sebuah kegiatan di kampus. Dalam perjalanan pulang dari kampus, dengan berjalan kaki saya sekeluarga (saya dan anak perempuan saya berjilbab, sehingga mudah mengidentifikasi bahwa kami adalah keluarga muslim) mencoba menelusuri jalan-jalan kecil agar cepat tiba di rumah.  Begitu melewati suatu perumahan, kami tiba-tiba mendengar teriakan memanggil berkali-kali terdengar dari lantai atas suatu flat. “Hi you…hi,” teriak beberapa anak muda perempuan dengan aksen Colchester-nya. Merasa bahwa kamilah yang dipanggil, karena tidak ada orang lain yang lewat saat itu, maka kami menoleh ke atas dan apa yang kami dapati? “This ass is for all of you,” kata mereka sambil tertawa dan menggoyang-goyangkan -maaf- bokong-bokong mereka kepada kami. Astagfirullah…kami hanya mampu beristighfar saat itu, sambil mengajak anak-anak segera berlalu. Dapatkah disimpulkan bahwa semua perempuan Inggris berperangai buruk kepada semua Muslim?

Di lain waktu, tak jauh dari rumah saat saya pulang dari sebuah toko dan menyeberang jalan. Tiba-tiba saya dikejutkan dengan teriakan beberapa orang lelaki dari dalam mobil yang melewati saya sambil berkata-kata,” You go to the hell, *uc* you,” teriak mereka seperti penuh kebencian. Lagi-lagi saya istighfar dengan sedikit rasa takut karena hanya seorang sendiri padahal hari sudah menjelang gelap. Mungkinkah disimpulkan bahwa semua lelaki bule kasar sangat buruk dalam berbicara?

Ada beberapa kejadian serupa yang saya atau keluarga saya alami setelah itu. Persis awal tahun baru masehi 2016, saya dan suami berjalan kaki ke arah rumah Profesor Hadi yang dapat ditempuh berjalan kaki untuk menghadiri acara bulanan PPI (Persatuan Pelajar Indonesia)dan Keluarga Islam Britania Raya (KIBAR),Colchester. Di dalam perjalanan melewati lapangan berumput, kami berpapasan dengan seorang nenek yang membawa anjing tinggibesar peliharaannya. Untuk menghormati orang tua dan budaya UK yang tidak melarang orang untuk saling menyapa, maka kami coba memberikan senyum terbaik dan menyapa lembut. ‘’Hai,’’ begitu kami menyapanya. Di luar dugaan, dan sempat membuat saya sedikit shock dengan kalimat pedas tak beradab tiba-tiba darinya. “I don’t like f*** rubbish like you in here,” katanya terus memaki kami dengan kata-kata yang tidak lebih baik dari itu. Merasa kurang senang dengan perkataan nenek itu, suami saya coba menjawab, tapi langsung saya cegah dan mengajaknya untuk beristighfar dan berdoa semoga nenek itu mendapat hidayah.

Hal serupa ternyata juga dialami anak perempuan kami yang sekolah negeri di Colchester. Pada hari pertama masuk sekolah setelah liburan tahun baru, saat menaiki tangga sekolah seorang pelajar pria keturunan lokal menarik bahunya lalu mengucapkan kata-kata setali tiga uang dengan yang disampaikan nenek yang kami jumpai di jalan. Anak saya pun sudah melaporkan kejadian tersebut ke pengelola sekolahnya.

Sebelum itu, persis setelah peristiwa penembakan membabi buta di Paris, saat saya sedang menunggu giliran bertemu dengan guru anak saya, saya mendengar perbincangan antar dua orang wali murid di sekolah yang sama tentang buruknya umat Islam di mata mereka. Mereka persis berbincang di depan saya, karena saat itu kebetulan televisi yang ada di sekolah sedang memutar berita BBC yang memberitakan tentang siapa dalang dibalik penembakan di Paris. Rasa begitu membuncah saat itu ingin ikut perbincangan mereka, tapi mereka seperti memang sengaja untuk memancing emosi saya, sehingga saya memutuskan untuk hanya memasang wajah ramah dan meyakinkan mereka bahwa kesimpulan mereka salah melalui bahasa tubuh yang saya lakukan. Bahwa Inggris merupakan negara penjajah hampir setengah permukaan bumi di masa lalu seakan-akan mereka lupakan begitu saja ketika melihat seorang yang hanya berpakaian muslimah.

Apa yang saya dan keluarga alami tentu termasuk kasus ringan dan tidak sampai membahayakan nyawa saya dan keluarga. Beberapa keluarga Muslim lainnya di UK, ada yang mengalami pengalaman lebih pahit lagi. Sebut saja Miss Choudhury, pelajar muslimah di Birmingham, yang mendapatkan pukulan telak di wajahnya hanya karena berjilbab. Ada lagi muslimah di London yang jilbabnya ditarik saat berada di dalam tube, kereta bawah tanah.

Bukan Kesimpulan

Dari sejumlah diskusi dengan warga Muslim di UK, terungkap informasi bahwa mereka yang sangat hafal dan selalu mengulang-ulang kata-kata secara verbal berisi merendahkan, menghina, mencaci, memaki, dan ungkapan nonverbal seperti supir bus tidak mau menerima penumpang berhijab dan lainnya, dilakukan oleh warga keturunan konservatif UK. Mungkin lebih tepat warga kolot-kampungan. Biasanya mereka adalah warga yang takut kehilangan hidup nyaman dari subsidi pemerintah atau takut kehilangan pekerjaan. Terungkap pula bahwa mereka itu sangat jarang bertemu dengan orang asing, dan berasal dari keluarga yang tidak memiliki keluarga dari keturunan bangsa lain, terasing dari keluarga intinya, dan sangat individualis.

Faktor internal ini didukung oleh ‘iklan’ bertubi-tubi media setempat tentang pandangan palsu, sumir, dan sepihak atau bahkan tendensius tentang Islam dan kaum Muslim guna memicu kebencian. Ketakutan tanpa alasan ini, rasis dan penuh kebencian terhadap Muslim juga menjadi bahan kampanye pemilihan presiden di AS serta kampanye Inggris untuk keluar dari perkumpulan Eropa (European Union).Siapa di belakang medianya? Tulisan ini bukan untuk menjawabnya.

Hanya saja, bila cara membuat kesimpulan masyarakat barat yang melompat ini juga dijadikan sebagai dasar untuk menyimpulkan perilaku mereka? Apakah dari kasus ini dapat dibuat kesimpulan bahwa seluruh rakyat Inggris tidak beradab? Tidak punya toleransi? Tidakkah pelajaran mereka mendapat pendidikan tentang kemanusiaan dan tatakrama? Bukankah bangsa ini sudah menjelajah separuh bumi untuk menguras kekayaan negeri-negeri yang mereka jajah dan mereka bersua dengan beragam jenis budaya, agama dan tradisi? Tidakkah negeri ini termasuk yang nyinyir tentang penegakan hak azasi manusia di luar negaranya?

Apa pun itu, terbukti bahwa masyarakat UK saat ini tengah berbondong-bondong untuk mengetahui lebih banyak tentang Islam dan Muslim. Walaupun Alquran berumur lebih dari 1.400 tahun ternyata ada di negeri Ratu Elizabeth ini, namun mereka berabad-abad terhalang untuk mengetahuinya. Kini, mereka ingin mengenal lebih dekat, lebih mendalam, lebih nyata secara langsung apa yang dikabarkan media mereka tentang sesuatu yang menakutkan.. Bukan dari kicauan media ‘pengompor’, tapi dari interaksi mereka dengan sumber ajaran Islam, Al-quran.

Dalam sebuah diskusi di Univesitas Essex pada penghujung tahun lalu Yusha Evans, mualaf keturunan Amerika Serikat yang aktif berdakwah menyatakan lebih kurang tentang kondisi masyarakat barat. Menurut Evans, mereka tidak tahu dan tidak mengenal tentang Islam. Bila mereka tahu, maka pastilah mereka akan mendatanginya. Di sinilah tugas kaum Muslimin untuk menyampaikan kepada mereka arti Islam melalui pergaulan sembari menunjukkan identitas, citra dan informasi secara terbuka dan adil.

Memang, untuk memastikan bahwa berita yang dibaca benar, memang perlu menjadi pembaca yang cerdas, dan untuk menjadi pembaca yang cerdas tidaklah sulit. Selalulah ber-tabayyun dengan berita yang telah dibaca dalam arti harus selalu cek dan ricek sambil terus belajar dengan membaca dan bertanya. Bila tidak, maka phobia lama akan terus dipeliharan sementara phobia baru yang mendukung phobia lama akan semakin mendapat tempat. (Yuslenita Muda*)

*Penulis adalah Dosen di Jurusan Matematika, FST UIN Suska Riau. Sedang mengambil program Ph.D di Department of Mathematical Science, University of Essex, UK

Keterangan foto: ilustrasi (ist)

BAGIKAN
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

Terbaru

Donald Trump

Trump Berencana Buka ke Publik Dokumen Rahasia Pembunuhan John F Kennedy

WASHINGTON, SERUJI.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan, Sabtu (21/10) waktu setempat, ia berencana untuk mengizinkan agar dokumen pembunuhan Presiden John F. Kennedy pada...

Tiba di Arab Saudi, Wapres JK Langsung Tunaikan Ibadah Umrah

MEKKAH, SERUJI.CO.ID - Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla menunaikan ibadah Umrah di Tanah Suci Mekkah pada Sabtu (21/10) malam waktu setempat, setelah sebelumnya menghadiri KTT...

Kerjasama Dengan SERUJI, KPPN Pacitan Adakan Workshop Jurnalistik

PACITAN, SERUJI.CO.ID - Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Pacitan akan mengadakan pelatihan jurnalistik yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan menulis artikel dan press rilis bagi...
Wilda Mukhlis

Dana Desa Diawasi oleh Kapolsek, Ini Kata Ketua Apdesi Aceh

LANGSA, SERUJI.CO.ID – Terkait kewenangan pengawasan dana desa oleh Kapolsek di setiap daerah, Pengurus Daerah Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Provinsi Aceh mendukung...

Pickup Tata Super Ace HT Dipasarkan Pertama Kali di Makassar

MAKASSAR, SERUJI.CO.ID - Perusahaan pabrikan otomotif asal India, Tata Motors Distribusi Indonesia (TMDI) resmi memasarkan kendaraan pickup Tata Super Ace HT pertama secara regional...

Indonesia dan Turki akan Bentuk Forum Strategis Tingkat Tinggi

MADINAH, SERUJI.CO.ID - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan sepakat untuk membentuk forum strategis tingkat tinggi (high level strategic council) antara Indonesia dengan Turki sebagai...