Tentang Sebuah Nama

Oleh: Fahd Pahdepie

SERUJI.CO.ID – Denny JA. Nama itu barangkali tak asing. Nama di antara pujian dan cibiran. Nama yang disebut-sebut oleh orang-orang yang menghormatinya—maupun membencinya. Man of ideas. Man of controversy.

Pertama kali bertemu dengannya dan menjabat tangannya hampir enam tahun lalu, saya mengais-ngais ingatan tentangnya. Suatu hari, guru Bahasa Indonesia saya di SMA menyebut namanya. “Ada seorang penulis, Denny JA namanya, meraih rekor penulis dengan jumlah buku terbanyak yang diterbitkan dalam waktu satu tahun. Kalau dihitung jumlah halamannya, ia rata-rata menulis 7 halaman sehari.”

Mendengar cerita itu, sebagai penulis remaja, saya tersulut. Bisakah saya punya stamina, produktivitas, dan konsistensi menulis semacam itu? Saya tidak peduli pada rekornya. Saya tidak peduli pada publisitasnya.

Bertahun kemudian, saya bertemu orang itu. Nama yang dulu disebut guru Bahasa Indonesia saya. Nama yang pernah melecut motivasi saya sebagai seorang penulis pemula. Namun, kali itu saya tak menemuinya sebagai seorang penulis. Kami dipertemukan di sebuah forum diskusi. Dan entah bagaimana, sepulang diskusi itu saya mendapatkan pesan BBM, “Saya mau menggunakan jasa Anda sebagai profesional.” Bunyi pesan itu. Dikirim oleh Denny JA.

Sebagai anak muda, saya merasa tersanjung dikirimi pesan semacam itu. Pesan yang bukan hanya memuat ‘respect’ tetapi juga kepercayaan. Apalagi pesan itu datang dari seorang yang ‘besar’. Saya berpikir lama untuk membalas pesan itu, mencari kata-kata yang pas. Saya ingin menulis, “Tentu saja saya mau!” atau “Mau banget!”, tapi saya tak senorak itu, saya ingin berusaha bersikap tenang.

Singkat kata, kamipun bekerjasama. Saya mengerjakan sebuah project non-komersial yang berhubungan dengan teknologi yang dapat memberikan manfaat untuk literasi publik. Awalnya semua berjalan baik, hingga sejumlah teman datang dengan berbagai peringatan.

“Sekarang kamu sama Denny JA?” tanya salah satu di antaranya, dengan sedikit sinisme yang membuat saya bertanya-tanya.

“Hati-hati, jangan terlalu dekat dengan Denny,” kata teman lain. Tapi ketika saya tanya kenapa, ia hanya menjawab, “Hati-hati aja.”

“Sayang banget sekarang kamu sama Denny JA! Kamu cuma dimanfaatin aja.” Ujar yang lain.

Belakangan saya baru memahami bahwa ada sejumlah kontroversi di seputar Denny JA. Tetapi, bukankah saya tak berurusan dengan semua itu? Juga saya tak tahu pokok perkaranya? Yang jelas, saya merasa tak ada yang salah dengan kerjasama bersama Denny JA, tak ada yang merugikan saya, begitupun saya tak merasa dicurangi apalagi dimanfaatkan. Semua fair dan wajar belaka.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Refleksi Akhir Tahun Pendidikan

Persekolahan tidak pernah dirancang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Bangsa

Walaupun telah merdeka secara politik sejak tahun 1945, akan tetapi RI masih terus tergantung produk perusahaan-perusahaan asing hingga saat ini. Mulai dari bangun pagi ke bangun pagi berikutnya kita menggunakan dan mengkonsumsi produk-produk perusahaan asing. Mulai dari urusan remeh temeh seperti semir sepatu dan jarum jahit sampai urusan canggih-canggih seperti pesawat terbang dan gadged.

Lompatan Kinerja Helmy Yahya

Yang harus dikelola Helmy bukan hanya peralatan yang jadul, namun juga anggaran yang sangat minim. Dengan jumlah karyawan terbatas, TVRI masih harus mengelola pemancar yang berlokasi di seluruh Nusantara, bahkan di pelosok negeri yang tidak marketable seperti di Pulau Miangas atau Rote.

Inilah 4 Keuntungan Membeli Apartemen Tipe Studio

Tinggal di apartemen saat ini sudah menjadi gaya hidup. Lokasi yang strategis dan ditunjang dengan berbagai fasilitas kemudahan menyebabkan banyak masyarakat urban, khususnya para eksekutif muda tertarik untuk tinggal di hunian vertikal.

Aksi Solidaritas Jurnalis-Aktivis di Pengadilan Tinggi Kalsel: Diananta Tidak Sendiri

Para aktivis dan jurnalis terus menggelar aksi solidaritas untuk mantan Pemred Banjarhits, Diananta Putera Sumedi yang disidang sebab menulis berita konflik lahan masyarakat adat versus perusahaan.

Masuki Masa Transisi New Normal, AMSI Jatim Keluarkan 7 Poin Imbauan

Mencermati perkembangan penyebaran Covid-19 di masa transisi New Normal yang semakin meningkat, AMSI Jawa Timur, mengeluarkan 7 poin imbauan.

CFD Kembali Ditiadakan, Fahira: Review dan Evaluasi Kunci Jakarta Kendalikan Covid-19

Senator DKI Jakarta Fahira Idris mengapresiasi keputusan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang kembali meniadakan sementara kegiatan car free day (CFD).

Inilah 5 Kota Yang Jadi Incaran Calon Pembeli Rumah Saat Pandemi Covid-19

Pandemi corona telah mengubah wajah bisnis tanah air, termasuk sektor properti. Jika dulu orang membeli rumah harus datang ke lokasi proyek, sekarang tidak lagi.

Senator DKI: Pasar Harus Jadi Area Paling Aman dari Penyebaran Corona

Pencegahan penyebaran corona di pasar termasuk pasar tradisional menjadi salah satu langkah strategis dan efektif untuk menahan laju dan menghentikan penularan dan penyebaran Covid-19 di Indonesia

TERPOPULER

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

Tiga Budaya Sunda yang Unik, Nomer 1 Sudah Jarang Ditemukan

Semua tradisi dan budaya di Indonesia unik dan mempunyai ciri khas tersendiri. Tak ketinggalan juga budaya Sunda dan segala tradisi yang dijalankan.