Tentang Sebuah Nama

Oleh: Fahd Pahdepie

0
36
  • 2
    Shares
Denny JA dan Fahd Pahdepie.

SERUJI.CO.ID – Denny JA. Nama itu barangkali tak asing. Nama di antara pujian dan cibiran. Nama yang disebut-sebut oleh orang-orang yang menghormatinya—maupun membencinya. Man of ideas. Man of controversy.

Pertama kali bertemu dengannya dan menjabat tangannya hampir enam tahun lalu, saya mengais-ngais ingatan tentangnya. Suatu hari, guru Bahasa Indonesia saya di SMA menyebut namanya. “Ada seorang penulis, Denny JA namanya, meraih rekor penulis dengan jumlah buku terbanyak yang diterbitkan dalam waktu satu tahun. Kalau dihitung jumlah halamannya, ia rata-rata menulis 7 halaman sehari.”

Mendengar cerita itu, sebagai penulis remaja, saya tersulut. Bisakah saya punya stamina, produktivitas, dan konsistensi menulis semacam itu? Saya tidak peduli pada rekornya. Saya tidak peduli pada publisitasnya.

Loading...

Bertahun kemudian, saya bertemu orang itu. Nama yang dulu disebut guru Bahasa Indonesia saya. Nama yang pernah melecut motivasi saya sebagai seorang penulis pemula. Namun, kali itu saya tak menemuinya sebagai seorang penulis. Kami dipertemukan di sebuah forum diskusi. Dan entah bagaimana, sepulang diskusi itu saya mendapatkan pesan BBM, “Saya mau menggunakan jasa Anda sebagai profesional.” Bunyi pesan itu. Dikirim oleh Denny JA.

Sebagai anak muda, saya merasa tersanjung dikirimi pesan semacam itu. Pesan yang bukan hanya memuat ‘respect’ tetapi juga kepercayaan. Apalagi pesan itu datang dari seorang yang ‘besar’. Saya berpikir lama untuk membalas pesan itu, mencari kata-kata yang pas. Saya ingin menulis, “Tentu saja saya mau!” atau “Mau banget!”, tapi saya tak senorak itu, saya ingin berusaha bersikap tenang.

Singkat kata, kamipun bekerjasama. Saya mengerjakan sebuah project non-komersial yang berhubungan dengan teknologi yang dapat memberikan manfaat untuk literasi publik. Awalnya semua berjalan baik, hingga sejumlah teman datang dengan berbagai peringatan.

“Sekarang kamu sama Denny JA?” tanya salah satu di antaranya, dengan sedikit sinisme yang membuat saya bertanya-tanya.

“Hati-hati, jangan terlalu dekat dengan Denny,” kata teman lain. Tapi ketika saya tanya kenapa, ia hanya menjawab, “Hati-hati aja.”

“Sayang banget sekarang kamu sama Denny JA! Kamu cuma dimanfaatin aja.” Ujar yang lain.

Belakangan saya baru memahami bahwa ada sejumlah kontroversi di seputar Denny JA. Tetapi, bukankah saya tak berurusan dengan semua itu? Juga saya tak tahu pokok perkaranya? Yang jelas, saya merasa tak ada yang salah dengan kerjasama bersama Denny JA, tak ada yang merugikan saya, begitupun saya tak merasa dicurangi apalagi dimanfaatkan. Semua fair dan wajar belaka.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU