Tentang Sebuah Nama

Oleh: Fahd Pahdepie

Buat saya, sederhana saja, ketika saya diberi kepercayaan dan tanggung jawab, saya harus melaksanakannya sebaik mungkin. Sesimpel itu.

Dan seiring waktu, orang-orang mulai melihat project yang saya kerjakan bersama Pak Denny—begitu saya memanggilnya—berjalan baik. Saya pun ditawari kerjasama yang lebih serius dan jangka panjang. Anehnya, di saat-saat seperti itu, teman-teman yang tadinya mencibir, kini berusaha merapat?

Saya ingat ketika saya menjawab salah satu tawaran terbesar dalam hidup saya itu. Saya bilang, “Saya tidak bisa, Pak Denny. Saya mau sekolah ke luar negeri.”

Teman-teman yang saya ceritakan tadi pun mencibir lagi. Intinya, “Kamu ini aneh banget. Orang mah ngejar-ngejar dikasih kesempatan kayak gini, kamu malah pergi!” Pernyataan yang bikin saya garuk-garuk kepala, tentu saja.

Tapi saya ingat jawaban Pak Denny, “Fahd sekolah aja, nggak apa-apa. Tapi tetap bantu dari jarak jauh.”

Saya tak bisa menolak klausul yang baik itu. Dan sejak itu kami bersahabat. Saya menganggap Pak Denny sudah bukan sekadar teman atau rekan bisnis. Bagi saya ia seorang mentor. Seorang yang memberi saya kesempatan, ilmu, kepercayaan dan tanggung jawab.

Sepulang dari luar negeri, saya datang di waktu di mana Denny JA sedang menjadi musuh publik karena aktivitas-aktivitasnya di dunia sastra. Di sana saya melihat sosok Denny JA yang dicibir dan dibenci banyak orang. Karena teman-teman saya tahu bahwa saya dekat dengannya, saya pun kena imbasnya. Sesekali saya harus ikut memberi klarifikasi tentang beberapa hal—yang saya tahu saja.

Saat saya diajak untuk menulis puisi esai olehnya, saya tak menyanggupinya karena saya tak bisa menulis genre semacam itu. Pak Denny menghormati keputusan saya. Kami menghormati wilayah satu sama lain.

Kami pun bekerjasama untuk hal lain. Kali ini dalam bisnis yang lebih matang dan serius. Saya menyanggupinya. Dan dimulailah kerja yang lebih besar serta kompleks. Kerja yang melelahkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Diskursus Jernih DAS Citarum

Melalui seminar ini, BPK ingin berperan memperbaiki sungai sepanjang 300 kilometer yang didapuk oleh Bank Dunia sebagai sungai terkotor di dunia tersebut.

5 Gili Paling Indah di Lombok Selain Gili Trawangan

Lombok enggak melulu soal Gili Trawangan karena ada gili-gili lainnya yang enggak kalah menarik untuk dikunjungi.

Orang Lebih Suka Cari Rumah Saat Sedang Bekerja

Berdasarkan traffic pengunjung portal properti Lamudi.co.id, ternyata waktu favorit masyarakat mencari rumah adalah saat di hari kerja, yakni pada hari Selasa hingga Kamis mulai pukul 10.00 pagi sampai 14.00 siang.

Nilai Nadiem Belum Layak Jadi Menteri, Driver Online: Lebih Baik Fokus Besarkan Gojek

Rahmat menilai, Nadiem belum layak menjadi menteri. Contoh skala kecil saja, dalam menjalankan bisnisnya di Gojek, Nadiem belum mampu mensejahterakan mitra nya, para driver online, baik yang roda dua maupun roda empat.

Tidak Larang Demo Saat Pelantikan, Jokowi: Dijamin Konstitusi

Presiden Jokowi menegaskan bahwa pihaknya tidak melarang aksi unjuk rasa atau demonstrasi yang ingin dilakukan masyarakat, menjelang dan saat pelantikan Presiden-Wakil Presiden terpilih Pilpres 2019, pada tanggal 20 Oktober mendatang.

La Nyalla: Kongres PSSI Merupakan Momentum Mengembalikan Kedaulatan Voters

"Dengan hak suaranya di kongres, voters lah yang akan menjadi penentu hitam putihnya sepakbola negeri ini. Sebab, voters-lah yang memilih 15 pejabat elit PSSI untuk periode 2019-2023. Yaitu Ketua Umum, 2 Wakil Ketua Umum, dan 12 Exco," kata La Nyalla

Rhenald Kasali: CEO Harus Bisa Bedakan Resesi dengan Disrupsi

Pakar disrupsi Indonesia, Prof Rhenald Kasali mengingatkan agar pelaku usaha dan BUMN bisa membedakan ancaman resesi dengan disrupsi. Terlebih saat sejumlah unicorn mulai diuji di pasar modal dan beralih dari angel investor ke publik.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

Demokrasi di Minangkabau