SERUJI.CO.ID – “Jika anda hidup di Brazil,” ujar Jose Padilha, “dan hidup di bawah tekanan pemerintahan diktaktor kapitalisme, anda akan berpikir Marxisme adalah pembebasan. Namun jika anda tumbuh di Czekoslowakia atau Uni Sovyet, pemerintahan komunisme yang mengontrol apa saja dan mudah membunuh siapa saja, anda akan bepikir, kapitalisme adalah pembebasan.”

“Percayalah,” lanjut Padilha, “dua dua harapan itu salah. Tak perlu seorang cerdas untuk tahu harapan itu palsu.”

Padilha menyatakan secara puitis realitas dari dunia pemikiran atau ideologi. Ketika ideologi itu baru hadir sebagai cita cita, dan kritik atas kondisi status quo, ideologi itu begitu bersinar. Namun ketika ideologi yang bersinar itu diterapkan dalam dunia nyata, akan terlihat aneka kelemahannya.

Pernyataan Padilha ini saya ingat sebelum saya menonton film the Young Karl Marx. Film ini memotret persahabatan Karl Marx dan Friedrich Engels di masa muda, ketika akhirnya mereka menyusun “Manifesto Komunis” yang mengubah wajah dunia.

Marx dan Engels membangun persahabatan dua pemikir, dua penulis, dua aktivis, dua ideolog, dua pejuang yang sangat jarang. Terlahir dari keluarga kaya, Engles membantu Karl Marx yang hidup miskin, bersama mereka menyusun “kitab suci” bagi gerakan revolusioner.

Adegan dan kutipan Engels itu dikenang ketika ia berpidato mengantarkan Karl Marx beristirahat di pemakaman.

Ujar Engles: “Hari ini pemikir terbesar dunia berhenti berpikir. Ia sejenak tertidur dalam damai di kursinya. Namun ia tidur untuk selamanya.”

Setelah kepergian Karl Marx, Engels tetap meneruskan dan menerbitkan aneka manuskrip Marx yang tersisa. Engels tetap pula membantu ekonomi keluarga Marx yang ada. Bahkan ketika wafat, Engels juga menyisihkan warisan harta untuk anak-anak Marx. Dua keluarga tetap bersahabat bahkan ketika keduanya, Marx dan Engels, tiada.

BACA JUGA:  Tragedi Lion Air JT-610: Momentum Peningkatan Kesadaran Hukum Keselamatan Penerbangan

Ketika Karl Marx dimakamkan, yang hadir hanya belasan orang. Namun puluhan tahun kemudian, Marx menjelma menjadi pemikir yang mungkin paling berpengaruh dalam sejarah. Pengaruhnya meluas kepada aneka dimensi kehidupan.

Di bidang politik, Marx mempengaruhi dua revolusi yang melahirkan dua negara super power: Uni Sovyet, RRC, dan kemudian meluas ke separuh dunia. Politisi besar dunia terpengaruh olehnya: Lenin, Stalin, Mao Tse Tung, Fidel Castro dan Che Guevara.

Di bidang ekonomi, Marx dikenang sebagai raksasa ekonom disamping Adam Smith. Di dunia sosiologi, Marx dianggap founding fathers bersama Max Weber dan Emile Durkeim.

Di bidang ilmu sosial, Marxisme menjadi kerangka atau paradigma besar untuk memahami dan menjelaskan perkembangan masyarakat. Untuk Anthropology, Feminisme, bahkan ilmu sejarah, Karl Marx masuk dalam list pemikir utama.

Bagaimana bisa? Apa yang membuat raksasa di banyak bidang: politik, ekonomi, ilmu sosial, feminisme, anthropologi, dan lain lain berkumpul pada satu pribadi: Karl Marx?

Bagaimana pula menjelaskan, raksasa terbesar masa silam itu, yang dulu nampak brilian, jenius, kini nampak kuno, usang dan banyak salahnya. Alangkah hebatnya perubahan zaman yang membuat raksasa masa silam kini nampak kehilangan relevansi.

Adegan di atas tak ada di film. Ia hanya kita baca dalam buku biografi dan sejarah.

Namun awal mula bertemunya dua pemikir, Marx dan Engels, persahabatan, kisah cinta, pertarungan mereka melawan sesama pemikir dan aktivis di zamannya, terpotret indah di film itu, the Young Karl Marx.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama