Siapa yang Paling Berisiko?
Perlu dipahami bahwa dampak negatif ini tidak seragam untuk semua orang. Bagi orang sehat dengan status zat besi yang baik dan pola makan seimbang, sesekali minum teh bersamaan dengan makanan tidak akan langsung menyebabkan masalah kesehatan serius. Risiko meningkat secara bermakna pada kelompok-kelompok berikut:
Ibu hamil dan menyusui — Kebutuhan zat besi melonjak drastis selama kehamilan. Hambatan penyerapan zat besi dari teh dapat memperburuk risiko anemia gestasional yang sudah cukup tinggi di Indonesia.
Perempuan usia subur — Kehilangan zat besi secara reguler melalui menstruasi membuat wanita lebih rentan terhadap defisiensi zat besi. Kebiasaan minum teh saat makan setiap hari bisa menjadi faktor kontribusi yang tidak disadari.
Anak-anak dan remaja — Dalam fase pertumbuhan, kebutuhan zat besi sangat tinggi untuk mendukung pembentukan sel darah merah, perkembangan otak, dan pertumbuhan fisik.
Vegetarian dan vegan — Zat besi dari sumber nabati (non-heme iron) memang sejak awal memiliki tingkat penyerapan yang lebih rendah dibanding zat besi dari daging (heme iron). Tannin dalam teh memperparah masalah ini secara signifikan.
Penderita anemia defisiensi zat besi — Jika seseorang sedang menjalani terapi suplemen zat besi, mengonsumsi teh bersamaan dengan suplemen atau makanan kaya zat besi bisa menggagalkan pengobatan. Tubuh tidak menyerap zat besi dari suplemen secara optimal, dan pemulihan anemia menjadi jauh lebih lambat.
Mereka yang menjalani pola makan berbasis tanaman (plant-based diet) — Pola makan yang didominasi sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian memang kaya zat besi, tetapi semua dalam bentuk non-heme yang paling rentan terhadap penghambatan tannin.
Perbedaan Antar Jenis Teh: Tidak Semua Teh Sama
Tingkat bahaya minum teh saat makan berbeda-beda tergantung jenis teh yang dikonsumsi:
| Jenis Teh | Kandungan Tannin | Efek Hambat Zat Besi | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Teh Hitam | Sangat Tinggi | Paling Kuat | Teh yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia; termasuk teh celup, teh tubruk, teh tarik |
| Teh Oolong | Tinggi | Kuat | Di antara teh hitam dan hijau dalam hal penghambatan |
| Teh Hijau | Sedang | Sedang | Lebih ringan dari teh hitam, tetapi tetap menghambat penyerapan zat besi non-heme |
| Teh Putih | Rendah–Sedang | Ringan | Data masih terbatas, diperkirakan efeknya lebih ringan |
| Teh Herbal (jahe, chamomile, peppermint, rooibos) |
Sangat Rendah | Minimal | Umumnya aman diminum saat makan; tidak mengandung tannin signifikan |
| Teh dengan Susu | Berkurang | Agak Berkurang | Protein susu mengikat sebagian tannin, tetapi penghambatan zat besi tidak hilang sepenuhnya |
| Teh Lemon | Tergantung Jenis | Berkurang | Vitamin C dalam lemon membantu mengkonversi zat besi ke bentuk yang lebih mudah diserap, sehingga sebagian mengurangi efek penghambatan tannin |
Catatan: Teh hitam yang biasa dikonsumsi masyarakat Indonesia sehari-hari, teh celup, teh tubruk, teh manis dalam botol, teh tarik, termasuk dalam kategori penghambat terkuat.
