Dari Plot Pembunuhan Menuju Monarkhi Konstitusional di Arab Saudia

Oleh: Denny JA

SERUJI.CO.ID – Rakyat banyak, keluarga Kerajaan, kaum terpelajar dan para pemimpin di Arab Saudi: BERSATULAH! Ini momen yang tak datang dua kali. Jika benar putra mahkota terlibat menggerakkan 15 pasukan untuk membunuh dan memutilasi wartawan, telah datang waktu membuat perubahan mendasar!!

Perubahan itu tak hanya mengganti putra mahkota. Tapi mengubah sistem kerajaan menjadi monarkhi konstitusional. Raja hanya sebagai kepala negara saja seperti di Inggris. Tapi untuk kepala pemerintahan, pilihlah seperti yang dilakukan generasi pertama Muslim memilih Abu Bakar: Pilihlah secara demokratis yang terbaik di antara kamu.

Inilah renungan terjauh setelah dua hari ini saya tekun mengikuti kisah pembunuhan wartawan. Saya tak mempunyai ikatan emosional dengan kerajaan Arab Saudi, apalagi pangeran Salman.

Ikatan emosional saya mendalam hanya dengan Mekkah; Madinah, dan peradaban Islam. Semua itu sedikit banyak akan dipengaruhi oleh kualitas pemerintahan Arab Saudi.

Memang sudah ada kemajuan di Arab Saudi. Negara itu sudah membolehkan wanita menyetir mobil tanpa muhrim. Ia sudah pula membolehkan wanita menonton bola di stadium. Itu hak yang oleh peradaban modern sudah diberikan 50 tahun sebelumnya.

Entah salah dimana. Hak untuk kaum hawa di atas akhirnya diberikan pula, walau telat 50 tahun.

-000-

Masih sulit saya terima mengapa di era Google masih ada yang mencoba menggabungkan kekejaman dan kebodohan sekaligus untuk kasus pembunuhan itu.

Aneka media luar dan dalam negeri dengan telanjang menggambarkannya. Tim 15 orang memutilasi, memotong korban ketika korban masih hidup. Suara melengking korban kesakitan yang luar biasa terdengar dan terekam.

Cukup tujuh menit, pembunuhan dan mutilasi selesai. Mereka yang mencincang wartawan itu santai saja memutulasi sambil mendengar musik di earphone.

Kebodohan terasa telanjang pula karena itu semua dikerjakan di dalam kantor pemerintahan resmi. Semua kejadian, tak mereka sadari terekam secara audio melalui jam tangan korban yang terkoneksi kepada handphone korban. Tim eksekutor adalah mereka yang sangat mudah pula dikenali dekat dengan, bahkan sebagian pengawal Pangeran Mohammed Bin Salman.

Kekejaman dan kebodohan itu hanya mungkin terjadi dari jiwa yang begitu angkuh seolah tak akan tersentuh oleh hukum. Seolah tak ada ketakutan atau rasa bersalah bahwa kekejaman itu mudah sekali terbongkar. Apalagi sudah luas diberitakan korban wartawan bernama Kashoggi itu sangat vokal mengkritik pangeran Salman di mass media luar negeri.

Di luar dirinya, apakah tim algojo dan tuannya menganggap dunia ini hanya rempah rempah belaka? Lalu seenaknya dunia itu ia kunyah dan ia muntahkan? Seolah dunia di luarnya tak punya kecerdasan dan kekuatan menangkap tuan dari pelaku pembunuhan?

-000-

Aneka media memberitakan sedang terjadi kasak kasuk di keluarga kerajaan. Sangat mungkin mereka akan mencari pangeran baru yang akan menjadi raja. Arab Saudi akan sangat kehilangan reputasi jika bertahan dengan pangeran yang sudah disalahkan oleh opini dunia.

Namun Salman dan kelompoknya terus melawan dan bertahan ingin tetap menjadi raja. Akan terjadi dinamika istana. Belum kita tahu ujung dari dinamika itu.

Namun pemimpin lain, kaum terpelajar dan rakyat banyak Arab Saudi perlu meminta lebih. Jangan hanya mengganti pangeran. Tapi ubah sistem monarkhi tradisional Arab Saudi menjadi Monarkhi konstitusional.

Kerajaan Inggris menjadi model monarkhi konstitusional. Tetap hadir Raja atau Ratu yang dihormati sebagai kepala negara. Ia diberikan hak khusus seperti otoritas tertinggi untuk menyatakan perang atau damai dengan negara lain. Bahkan Arab Saudi dapat menambahkan hak khusus tertentu sesuai kondisi lokal.

Namun yang penting, kepala pemerintahan biarlah dipilih oleh rakyatnya sendiri. Saatnya Arab Saudi memberikan hak politik kepada warganya untuk mengurus pemerintahannya sendiri. Toh tetap ada lembaga ulama nasional di sana yang dihormati, yang bisa ikut mengarahkan ruang publik.

Arab Saudi pernah sangat telat memberikan warga negaranya hak menonton bola di stadion dan hak menyetir mobil bagi kaum wanita. Jangan sampai Arab Saudi lebih telat lagi memberikan hak kepada rakyatnya untuk memilih sendiri kepala pemerintahan.

Celakanya, aneka yang telat – telat ini dijustifikasi seolah olah begitulah pemerintahan atau Negara Islam!

Pembunuhan yang kejam atas wartawan kini menjadi perhatian dunia. Semoga momentum itu melahirkan seorang pahlawan. Yaitu tokoh yang kuat, yang berani, yang cerdas, yang modern, yang mungkin dari anggota kerajaan juga. Pahlawan itu menjadikan “malu nasional” plot pembunuhan dengan “penebusan dosa” gerakan membawa Arab Saudi menuju Monarkhi Konstitusional!!

Teriakkanlan perubahan itu. Sisanya adalah perjuangan.

Oktober 2018

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Paman Donald dan Eyang Joe

Banyak yang usil menyamakan pilpres Amerika dengan Indonesia, termasuk kemungkinan Biden akan mengajak Trump bertemu di MRT dan menawarinya menjadi menteri pertahanan.

Berikut Berbagai Larangan Bagi Penasihat Investasi Yang Diatur dalam Keputusan BPPM

Penasihat Investasi dalam menjalankan kegiatannya harus bersikap hati–hati, dikarenakan terdapat larangan yang harus diperhatikan oleh Penasihat Investasi agar terhindar dari sanksi.

Sambut Festival Belanja Lajang 11.11, Ecovacs Robotics Beri Promo Diskon Hingga 55%

Perusahaan penyedia Robot Rumah Tangga, ECOVACS ROBOTICS, akan meberikan promos diskon besar-besaran hingga 55% untuk berbagai produk unggulan seperti DEEBOT OZMO T8 AIVI, DEEBOT OZMO T8, dan DEEBOT U2 PRO.

150 Ide Bisnis Terbaik Siap Bersaing dalam DSC XI

Program Initiator DSC XI, Edric Chandra mengungkapkan dii tengah kondisi perekonomian yang masih belum stabil lantaran pandemi COVID-19, semangat gerakan wirausaha justru diterima oleh DSC XI.

Kembali Terjadi, Ratusan Kader Militan PDIP Alihkan Dukungan ke Machfud-Mujiaman

Kader yang tergabung dalam kelompok yang menamakan diri Banteng Ketaton tersebut mendeklarasikan dukungannya pada Ahad (8/11) kemarin di daerah Pandegiling yang dikenal sebagai jantungnya PDI Perjuangan di Surabaya.

Tekan Hoaks Selama Pilkada 2020, AMSI Gelar Cek Fakta di 16 Wilayah

Kegiatan Cek Fakta sebagai bentuk kontribusi AMSI kepada publik dengan memberikan informasi yang bermutu selama masa Pemilihan Kepala Daerah 2020 dan menekan hoaks (mis/disinformasi) yang berpotensi beredar selama berlangsungnya masa kampanye dan Debat Pilkada 2020.

TERPOPULER