CHINA: Kecam Keras, tapi Diam-Diam Bantu Intelijen Iran
Beijing mengeluarkan kecaman yang paling keras secara retorika namun, seperti pola sebelumnya saat perang 12 hari Juni 2025, tidak menerjemahkannya ke dalam tindakan militer nyata.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa “China menentang segala pelanggaran terhadap kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah Iran, menentang eskalasi ketegangan, serta sangat khawatir dengan potensi konsekuensi serius dari operasi ini.”
Sebelumnya, China juga dengan tegas menolak sanksi baru PBB terhadap Iran, menyatakan bahwa “negara-negara harus berhenti mendorong sanksi terhadap Iran dan memancing konfrontasi.”
Di balik kata-kata keras itu, China mengambil langkah yang jauh lebih substansial: kapal riset China Da Yang Yi Hao sudah mengintai Gugus Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln sejak Januari 2026. Kapal pelacak luar angkasa maritim Liaowang-1 beserta dua kapal perusak escort juga ditempatkan di Teluk Oman — mengumpulkan intelijen tentang pergerakan militer AS dan Israel.
Menurut National Interest, IRGC Iran juga dilaporkan bernegosiasi dengan produsen satelit China untuk mendapatkan akses citra satelit resolusi tinggi sebagai sistem peringatan dini.
China juga hampir menyelesaikan kesepakatan penjualan rudal jelajah anti-kapal supersonik CM-302 ke Iran pada Februari 2026 — meskipun rudal itu belum akan tiba tepat waktu untuk konflik hari ini.
Analisis Middle East Institute menyimpulkan bahwa China menjalankan strategi “active non-alignment” — mengecam AS dan Israel di podium PBB, sambil diam-diam melindungi kepentingan energi dan Belt and Road Initiative-nya di Iran.
