Orang-Orang Merdeka

Catatan akhir tahun, Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle

SERUJI.CO.ID – Beberapa hari lalu saya melihat tulisan Tjahja Gunawan Diredja berdedar di media sosial menyoroti soal ketidakpantasan Jokowi selfie di bencana Banten/Lampung. Saya mengenal dia puluhan tahun lalu sebagai wartawan di Bandung. Terakhir dia menulis biography Chairul Tanjung si Anak Singkong.

Tulisan dia yang melakukan kritik terhadap rezim Jokowi, menambah jumlah wartawan senior atau mantan penulis-penulis volunteer dalam membela kebenaran di masyarakat kita.

Keheranan saya yang bercampur kekaguman saat ini berfokus pada banyaknya mantan-mantan wartawan top saat ini membuat tulisan di media sosial untuk mengkritik Jokowi dan pendukungnya.

Tentu saja mereka sebagian besarnya, kalau tidak semua, juga membela Prabowo Subianto.

Awalnya penulis-penulis eks wartawan di kelompok oposisi hanya nama-nama itu saja, seperti Naniek S Dayeng, Djoko Edhi Abdurrahman, Zeng Wie Jan, dan Nasihin (Nasihin sekarang menghilang atau menghilangkan dirinya?). Namun, saat ini sudah berpuluh eks wartawan yang menulis sebagai oposisi. Ada Asyari Usman, Hersubono Arief, Tony Rasyid, M Ali, Nasrudin Joha, Tjahja Gunawan, dan lainnya, yang saya sulit menghapal namanya.

Oh dulu juga ada almarhum Derek Manangka, yang bahkan membuat tulisan “Jokowi ada Affair dengan Rini Sumarno”. Kita doakan saja beliau masuk Surga. Aamiin

Kenapa kita perlu mencatat fenomena ini? pentingkah?

Ada 3 hal yang menjadi alasan bagi kita untuk membahas tentang mereka, yaitu; soal idealisme, kemampuan menulis, dan “Seeking the Truth“.

Soal idealisme, ini benar benar menyentakkan kita. Sebab, mayoritas wartawan saat ini identik dengan amplop. Berbeda di masa lalu, di mana wartawan identik dengan perjuangan. Jaman Mocthar Lubis, misalnya, menjadi wartawan dianggap sebuah idelalisme.

Jus Soema Dipraja, misalnya, bergabung dengan pemberontak Malari, tahun 1974, ketika koran di mana dia menjadi wartawan dianggapnya tidak sejalan dengan hati nurani.

Tentu wartawan bajingan juga ada di masa lalu. Namun, wartawan sebagai simbol idealisme menjadi mainstream. Sehingga pemilik koran atau media memberi ruang kebebasan bagi wartawan dan keredaksian.

Namun, sejak media menjadi industri dan sumber uang, informasi dan berita harus tunduk pada kepentingan pemilik modal. Wartawan dianggap hanya sebagai alat produksi. Karyawan semata.

Sejak media menjadi industri, informasi dan berita harus tunduk pada kepentingan pemilik modal, dan erubahlan wartawan hanya sebagai alat produksi semata

Disinilah awal hilangnya idealisme.

Wartawan-wartawan atau mantan wartawan yang semakin banyak menulis di dunia media sosial menulis tanpa uang. Mereka bukan seperti konsultan politik, misalnya seperti Denny JA yang dibayar mahal untuk setiap Meme. Saya coba tanyakan hal itu ke Kisman Latumakulita, yang mengenal mereka, menurut Kisman semuanya volunteer.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Sikap PSI Tolak Perda Syariah Dapat Dikategorikan Anti Pancasila dan Konstitusi

Untuk masyarakat daerah yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam, tentunya wajar bahkan wajib bagi mereka untuk memperjuangkan adanya Perda-Perda yang berdasarkan Syariat Islam di daerahnya. Jadi tidaklah tepat bila kita atau siapapun, partai politik manapun, kelompok manapun, bahkan pemerintah sekalipun ingin menghempang suatu Perda yang bernuansa Syariah.

Bisa Terima Capres Yang “Ikut” Perayaan Natal, Kenapa Keberatan Jika Hadiah Lomba dari Denny JA?

Karena sifat lomba ini yang sedemikian terbuka, tentu pihak-pihak yang mendukung wacana "NKRI Bersyariah" ini dapat juga menulis pemikirannya dan ikut serta dalam lomba ini. Apalagi jelas-jelas topik yang dilombakan ini adalah MENGUPAS esai yang ditulis Denny JA. Apakah mengupas dalam koteks setuju dengan tesis Denny JA, maupun tidak bersepakat dengannya.

PR Mendikbud Nadiem: Jadikan Mapel Sejarah Penguat Pendidikan Karakter

Setelah sempat menjadi polemik panas, informasi yang yang menyebutkan mata pelajaran (mapel) Sejarah akan dihapus dari kurikulum sekolah sudah diklarifikasi langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim

Bahagia itu Tidak Bersyarat

Bahagia adalah kata yang tidak asing bagi kita semua. Bahagia merupakan impian semua orang yang hidup di dunia ini. Bahkan tidak hanya di dunia, di Akhirat pun kita mendambakannya. Setiap waktu kita berdoa untuk meraih kebahagian ini, sayang kita tidak pernah belajar bagaimana mencari, menggapai, menemukan kebahagiaan itu.

Diabetes Melitus: Mengingkari Diagnosis Dapat Berakibat Fatal

Bermacam reaksi pasien ketika pertama kali diberitahu bahwa mereka menderita diabetes melitus. Ada pasien yang dapat memerima dengan tenang, memahaminya, ada juga yang kecewa, stress, tidak percaya, marah, tidak menerimanya, atau bahkan mengingkarinya.

Innalillahi, Indonesia Kembali Berduka Mantan Mendiknas Prof Malik Fadjar Wafat

Indonesia kembali kehilangan putra  terbaiknya, hari ini, Senin (7/9), dengan wafatnya Prof Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional (2001-2004).

Boneka Cantik dari Balaikota

Seperti drama korea (drakor), ada yang menangis ada yang tertawa. Akhirnya perburuan rekom PDIP untuk pilwali Surabaya mencapai antiklimaks, Rabu (2/9). And the winner is...Tri Rismaharini sebagai sutradara terbaik. Whisnu berusaha tatag, berdiri di depan kamera menghadap Megawati Soekarnoputri. "Aku tidak akan buang kamu, Whisnu," kata Mega.

Pria 57 Tahun di Bogor: Jari Kaki Terasa Kaku, Bekas Luka Menghitam dan Bersisik

Dok, jari-jari kaki saya terasa kaku, agak mati rasa kadang nyeri, terus kaki kanan di atas mata kaki awalnta gatal saya garuk luka, sekarang sembuh tapi kulitnya jadi bersisik dan menghitam. Ini indikasi apa ya dokter?

TERPOPULER

KUNTUM KHAIRA UMMATIN

Mengenal Ide Pendirian Ruangguru.com, Berawal Dari Kesulitan Iman Usman dan Belva Devara

Inspirasi bisnis bisa datang darimana saja. Termasuk dari masalah yang kita hadapi sehari-hari.