Trump Tunda Serang Iran hingga 6 April, Tapi Teheran Tegaskan Tidak Ada Negosiasi!

WASHINGTON DC, SERUJI.CO.ID — Perang AS-Iran yang telah berjalan hampir sebulan memasuki momen paling membingungkan sejauh ini. Pada Senin 23 Maret 2026, Presiden Donald Trump melalui platform Truth Social mengumumkan dirinya menginstruksikan militer AS untuk menunda seluruh serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran, semula selama lima hari, namun diperpanjang hingga 6 April 2026.

Trump mengklaim kedua negara telah mengadakan “percakapan yang sangat baik dan produktif mengenai penyelesaian lengkap dan total atas permusuhan di Timur Tengah.” Ia menyebut Iran mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz sebagai “tanda niat baik” Teheran.

Keputusan ini datang setelah pada Sabtu 21 Maret, Trump memberi ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam 48 jam, atau AS akan “menghancurkan berbagai pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar.” Ancaman itu membuat pasar minyak bergolak dan dunia menahan napas.

Iran Membantah Keras: Tidak Ada Negosiasi

Namun Teheran langsung bersikap berbeda. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dengan tegas menyatakan tidak ada negosiasi dengan Amerika Serikat. Pejabat Iran lain bahkan menyindir langsung: juru bicara militer Iran Ebrahim Zolfaghari merekam video berbahasa Inggris dengan mengejek Trump menggunakan kalimat khasnya sendiri: “Hey Trump, You’re fired!”

Iran menegaskan posisinya tidak berubah terkait Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan bahwa meski ada pesan tidak langsung dari negara-negara sahabat terkait permintaan AS untuk bernegosiasi, tidak ada negosiasi langsung yang terjadi.

Pasar Minyak Merespons, Tapi Premium Geopolitik Tetap Tinggi

Pasar energi dunia merespons cepat pernyataan Trump. Harga minyak mentah WTI dan Brent sempat anjlok setelah pengumuman penundaan serangan, karena harga minyak telah melonjak hampir 40 persen sepanjang Maret 2026 akibat krisis Hormuz.

Namun ahli strategi komoditas dari ING Groep, Ewa Manthey, mengingatkan bahwa premium geopolitik kemungkinan tidak akan berkurang secara signifikan, mengingat sekitar 8 juta barel pasokan harian masih terhenti.

Dunia kini memasuki hitungan mundur: 6 April 2026 adalah batas waktu yang ditetapkan Trump. Jika tidak ada kemajuan diplomasi yang nyata, perang bisa kembali berkobar dengan skala yang lebih besar dari sebelumnya.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER