Kisah Ratna Sarumpaet dan Satu Babak Drama Pilpres 2019

Oleh: Denny JA

SERUJI.CO.ID – Jika kasus penganiayaan fisik atas Ratna Sarumpaet benar, ini akan memberikan efek elektoral negatif kepada Jokowi. Tapi jika kasus penganiayan Ratna ternyata hanya kebohongan publik, ini akan memberikan efek elektoral negatif kepada Prabowo. Efek itu akan segera terasa di segmen pemilih kaum terpelajar.

Itulah reaksi cepat saya selaku peneliti opini publik. Karena tradisi yang panjang, saya terbentuk tak hanya melihat benar atau tidaknya sebuah peristiwa. Ada impulse otomatis yang membuat saya mengimajinasikan efek elektoralnya.

-000-

Sejak semalam, lama saya tercenung oleh kasus Ratna Sarumpaet. Saya sudah melihat kejanggalan walau simpati saya ada pada Ratna yang menjadi korban.


Malam itu selesai sudah meme saya buat tentang Ratna, dan siap saya publikasi. Walau sering berbeda soal isu politik, saya ingin membela Ratna Sarumpaet jika benar ia dianiaya hanya karena sikap politiknya.

Berita online begitu gencar soal pemukulan Ratna oleh orang tak dikenal. Kubu politik sebelah sana, termasuk Prabowo, Amien Rais, Fadli Zon sudah menyatakan sikap simpati dan protes. Bahkan banyak pula pendukung kubu Jokowi tak bisa menerima jika Ratna dianiaya.

Saya pandang sekali lagi meme saya untuk Ratna. Tapi ada dua kejanggalan di sana. Saya tunda dulu niat saya mengirimkannya ke ke publik.

Kejanggalan pertama, soal sikap Ratna. Dalam kasus penganiayaan itu, kok Ratna tak seperti yang saya kenal.

Yang saya kenal, Ratna seorang wanita besi, the Iron Lady. Ia tak bisa dibuat bisu jika ia merasa ada yang tak adil. Tak peduli, siapapun ia terjang.

Tanya saya dalam hati, kok kali ini Ratna tampil beda. Padahal Ia tak hanya melihat ketidak adilan. Ia sendiri dianiaya secara fisik. Mengapa aum singanya tak keluar. Ia malah dikesankan trauma, diam, takut.

Separah itu kah efek psikologis kasus penganiayaan ini? Sehinggq karakter Ratnapun berubah?

Kejanggalan kedua ada pada foto wajahnya yang bonyok. Kok kekerasan bisa membuat bonyok yang sangat simetris di mata kanan dan kiri? Saya pandang lagi kedua matanya. Lembamnya sungguh simetris, mirip antara kanan dan kiri.

Apakah ini sebuah kebetulan yang sangat?

-000-

Besok paginya, sayapun mengeksplor. Sebagai peniliti dan aktivis, saya kontak kanan dan kiri.

Hari ini sejak jam 6.00 pagi saya mendapatkan info yang sangat berbeda. Sayapun dikirim hasil investigasi polisi lengkap dengan tak hanya data CCTV, transfer bank, dan hasil alat detektor yang bisa menyelidiki ketika kejadian 21 Sept itu, sesungguhnya Ratna ada dimana.

Data HP menunjukkan tanggal 21 Sept yang dikabarkan Ratna di Bandung, sebenarnya ia ada di Jakarta bahkan sampai hari berikutnya. Tak ada pula seminar internasional yang melibatkan orang asing di Bandung saat itu, seperti yang beredar.

Munculah narasi yang berbeda. Tak ada kasus pemukulan atas Ratna Sarumpaet. Wajah bonyok itu hanya efek operasi kecantikan belaka. Namun foto Ratna yang bonyok itu keburu viral.

Dalam suasana persaingan pilpres, kisah wajah bonyok karena operasi kecantikan pun berubah. Ia menjadi bonyok karena dikeroyok orang tak dikenal. Ratna Sarumpaet sendiri ketika tulisan ini dibuat belum bersuara.

-000-

Akhirnya saya mengubah meme saya untuk Ratna Sarumpaet. Saya buat lebih seimbang. Jika Ratna dianiaya, saya ingin mengutuk penganiayaan. Namun jika kisah penganiayaan oleh orang tak dikenal ternyata hanya kebohongan publik, saya pun mengutuknya.

Saya beri teks meme itu: “Theater Dalam Piplres 2019: Dan kita termasuk orang yang tak menyukai kekerasan ataupun kebohongan publik.”

Yang mana yang benar dari dua narasi itu? Kini kasus Ratna sedang ditangani polisi

-000-

Apa pembelajaran penting kasus Ratna? Tak hanya orang awam, pemimpin politik kita terlalu cepat berprasangka. Tanpa cek dan recek yang memadai, langsung membuat pernyataan.

Apa jadinya jika kita berkuasa nanti, jika karakter kita terlalu cepat merespon tanpa melakukan cek dan recheck yang memadai?

Jika nanti terbukti kasus Ratna itu hanya operasi kecantikan belaka, sama sekali tak ada kasus pemukulan, tidakkah semua kita menjadi malu? Atau kita semua tertawa memikirkan alangkah lucunya kita bisa dikecoh dan dipermainkan, dengan mudahnya?

Namun jika ternyata Ratna mengalami kekerasan, hati kita untuk Ratna dan semua pihak yang membelanya.

Pilpres 2019 akan juga dikenang karena drama satu babak Ratna Sarumpaet ini.

Oktober 2018

BACA JUGA

Loading...

Kolom dr. Irsyal, Sp PD

Nikmat Allah Jangan Dustakan

Kenapa anak itu bahagia? Karena dia tahu berterimakasih dan menghargai hadiah yang didapatnya.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Loading...

Pendidikan Antikorupsi di Perguruan Tinggi

Menurut Laode M Syarif, saat ini 68% pelaku korupsi merupakan lulusan perguruan tinggi. Makanya, perguruan tinggi harus bertanggungjawab atas kejahatan korupsi yang dilakukan lulusannya.

Media di Tengah Masyarakat Yang Terjangkit Post Truth

Bagi media, Post Truth itu sesungguhnya sangat menguntungkan. Karena di tengah masyarakat yang terjangkiti Post Truth mereka tidak sedang mencari kebenaran, tapi kesukaan.

Pakar Gempa AS Minta Maaf ke Masyarakat NTB Atas Prediksi Potensi Gempa di Lombok

Ahli geologi dan kegempaan asal Amerika Serikat, Prof Ron A Harris meminta maaf kepada masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) atas pernyataanya mengenai hasil penelitian potensi gempa di selatan Lombok, sehingga membuat rasa takut masyarakat.

Indonesia Kecam Dewan Kota Oxford Yang Berikan Penghargaan Pada Benny Wenda

Pemerintah Indonesia mengecam keras pemberian penghargaan oleh Dewan Kota Oxford, Inggris, kepada Benny Wenda, anggota kelompok gerakan separatis Kemerdekaan Papua Barat.

Terbukti Langgar Kode Etik Saat Pemilu 2019, DKPP Copot Ketua KPU Sumut

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara (Sumut), Yulhasni diberi peringatan keras dan dicopot dari jabatannya oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI.

Kasus Korupsi Jasmas, Wakil Ketua DPRD dari Gerindra Ini Dijebloskan ke Rutan Medaeng

Wakil Ketua DPRD Surabaya dari Partai Gerindra, Darmawan (Aden) usai diperiksa sebagai saksi terkait aliran dana Jasmas senilai Rp4,9 miliar yang bermasalah tersebut, Selasa (16/7) langsung ditahan penyidik Kejari Tanjung Perak.

Pendidikan Antikorupsi di Perguruan Tinggi

Menurut Laode M Syarif, saat ini 68% pelaku korupsi merupakan lulusan perguruan tinggi. Makanya, perguruan tinggi harus bertanggungjawab atas kejahatan korupsi yang dilakukan lulusannya.

Wow, Utang Pemerintah Kembali Naik Capai Rp4.570 Triliun, Beginilah Posturnya

Jika dibandingkan dengan posisi utang pemerintah pada akhir Desember 2018 yang berjumlah Rp3.995,25 triliun, utang pemerintah pusat ini mengalami kenaikan sebesar 14,39% atau sebesar Rp574,92 triliun.

Terbukti Langgar Kode Etik Saat Pemilu 2019, DKPP Copot Ketua KPU Sumut

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara (Sumut), Yulhasni diberi peringatan keras dan dicopot dari jabatannya oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI.

Ucapkan Selamat Pada Jokowi, Prabowo: Kami Siap Membantu Jika Diperlukan

Prabowo juga menyatakan kesiapannya untuk membantu pemerintahan Jokowi bila diperlukan untuk kepentingan rakyat. “Menjadi Presiden itu mengabdi. Masalah yang dihapi besar, kami siap membantu kalau diperlukan untuk kepentingan rakyat,” ujar Prabowo.

Jokowi-Prabowo Bertemu, Berakhirlah Era Cebong-Kampret

Akhirnya Presiden terpilih dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, Jokowi bertemu dengan calon Presiden Prabowo Subianto. Pertemuan bersejarah itu terjadi di stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) Lebak Bulus Jakarta Selatan, Sabtu (13/7) pukul 10.00 WIB.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

MUI Kecam Iklan Lowongan Kerja Yang Mensyaratkan Melepas Hijab Saat Bekerja

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mengecam perusahaan yang mengiklankan lowongan kerja dengan mensyaratkan harus bersedia melepas jilbab selama bekerja.

Wow, Utang Pemerintah Kembali Naik Capai Rp4.570 Triliun, Beginilah Posturnya

Jika dibandingkan dengan posisi utang pemerintah pada akhir Desember 2018 yang berjumlah Rp3.995,25 triliun, utang pemerintah pusat ini mengalami kenaikan sebesar 14,39% atau sebesar Rp574,92 triliun.