Sidang ke-20 Digelar, Ahok Dituntut 1 Tahun Penjara dengan Masa Percobaan 2 Tahun

3
230
sidang ahok
Suasana sidang kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta.

JAKARTA – Jaksa Penuntut Umum (JPU) sidang kasus dugaan penodaan agama menyatakan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok bersalah. Tuntutan dibacakan tim JPU yang dipimpin Ali Mukartono dalam sidang ke-20 yang digelar Pengadilan Negeri Jakarta Utara di auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Kamis (20/4/2017).

Jaksa menganggap sebagai terdakwa, Ahok tidak terbukti melakukan tindakan yang melanggar Pasal 156a KUHP dalam dakwaan primer. Namun, Ahok dinyatakan secara sah dan terbukti melanggar Pasal 156 KUHP dalam dakwaan alternatif. Hal itu terkait dengan pernyataan Ahok yang mengutip Surat Al Maidah Ayat 51, saat kunjungannya dan bertemu warga dalam rangka panen ikan kerapu di tempat pelelangan ikan (TPI) di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016.

“Perbuatan saudara secara sah dan meyakinkan telah memenuhi unsur 156 KUHP, oleh karena itu terdakwa harus dijatuhi pidana 1 tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun,” kata JPU Ali Mukartono di hadapan majelis hakim.

Dalam materinya, JPU mendasarkan tuntutan dari dakwaan terhadap Ahok. Ahok didakwa dua pasal, yakni Pasal 156 dan 156a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Pasal 156 KUHP berbunyi, “Barang siapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian, atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak Rp 4.500”.

Sedangkan isi Pasal 156a KUHP adalah, “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia”.

Berdasarkan persidangan sebelumnya, Ali menjelaskan bahwa Pasal 156a KUHP tidak berlaku untuk perkara ini.

Ali mengungkapkan hal-hal yang memberatkan dalam tuntutan tersebut. Yaitu tindakan Ahok disebut menimbulkan keresahan di masyarakat dan kesalahpahaman.

“Sedangkan hal yang yang meringankan, terdakwa menjalani persidangan dengan baik, bersikap baik, membangun Jakarta,” ujar Ali Mukartono.

Surat tuntutan juga disusun berdasarkan keterangan para saksi fakta dan ahli yang telah dihadirkan penuntut umum dan kuasa hukum terdakwa pada persidangan sebelum-sebelumnya. JPU juga mempertimbangkan berbagai barang dan alat bukti, termasuk dokumen-dokumen terkait.

Sidang pembacaan tuntutan berlangsung singkat sekitar 2 jam, dimulai sekitar pukul 09.00 pagi. Sebelumnya, ketua majelis hakim Dwiarso Budi Santiarto meminta JPU hanya membacakan tuntutan. Adapun berkas dakwaan dan keterangan saksi-saksi tidak dibacakan.

Sidang berikutnya akan dilanjutkan pada Selasa 25 April 2017 mendatang. Sidang tersebut beregandakan pembelaan dari pihak Ahok.

 

EDITOR: Iwan Y

BAGIKAN

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama