Menanti Perdamaian Abadi Bagi Rohingya

Menjadi Rohingya

Setelah lari dan melintasi batas negara, orang Rohingya yang sejatinya mencari suaka juga harus ditolak negara tujuan. Sebegitu dilematisnya menjadi seorang yang terlahir dari rahim ibu dari kalangan Rohingya. Jika mengetahui nasibnya akan terlunta tentu tidak ada satupun manusia yang ingin dilahirkan menjadi seorang Rohingya jika harus dipersekusi dan ditolak di tempat tujuan yang seharusnya melindungi mereka.

Atas krisis tersebut, simpati dan bantuan kemanusiaan bagi Rohingya terus mengalir dari segala penjuru dunia untuk etnis tertindas Rohingya. Kendati begitu, tanpa mengesampingkan manfaat yang positif atas simpati dan bantuan kemanusiaan tetap saja masalah utama Rohingya di Myanmar harus segera menemukan jalan keluar sehingga etnis yang mayoritas beragama Islam itu bisa nyaman kembali ke tanah kelahiran mereka tanpa harus terlunta-lunta di negara lain antah berantah.

Presiden Asian Conference of Religions for Peace (ACRP) Din Syamsuddin mengapresiasi bantuan kemanusiaan untuk Rohingya meski sejatinya itu tidak memadamkan sumber utama konflik di Rakhine State, Myanmar.

“Kami mendesak ASEAN, OKI dan PBB agar melakukan langkah cepat, tepat dan efektif agar menghentikan tindak kekerasan untuk menciptakan perdamaian abadi,” kata Din.

Menurut dia, aksi kemanusiaan masyarakat internasional dapat meringankan beban korban kebrutalan militer Myanmar terhadap Rohingya lewat donasi pangan, bantuan obat-obatan, kesehatan, tempat pengungsian dan semacamnya.

Tetapi, lanjut dia, terdapat persoalan mendasar yaitu pada kebijakan pemerintah Myanmar yang cenderung rasialis sehingga Rohingnya mendapatkan diskriminasi, bahkan kekerasan dan persekusi. Maka dari itu, Din mengusulkan perdamaian abadi bagi Rohingya dengan pemenuhan hak-hak mereka sebagai manusia.

Din mengibaratkan aksi bantuan kemanusiaan untuk Rohingya seperti menanggulangi korban bencana kebakaran sementara penyebab kebakaran itu tidak disasar sehingga bencana terus terjadi.

Menurut Din, yang lebih dibutuhkan saat ini oleh setiap pihak adalah upaya politik mendesak pemerintah Myanmar agar mengakui Rohingya yang telah menjadi bagian negara itu selama bertahun-tahun lamanya. Lewat pengakuan itu, maka sudah seharusnya Rohingya akan mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara Myanmar.

Kekerasan di Myanmar, kata dia, tidak sesuai dengan ajaran agama manapun, termasuk Islam dan Buddha yang sejatinya mengajarkan kasih sayang, kerukunan dan perdamaian antarsesama.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER