SERUJI.CO.ID – Ada fenomena menarik di pasar saham Indonesia: sebuah emiten perikanan kecil dari Cilacap, Jawa Tengah, yang harga sahamnya melesat 563% dalam setahun, dari Rp11 ke Rp73, sementara secara fundamental masih mencatat kerugian. Itulah ASHA, kode saham PT Cilacap Samudera Fishing Industry Tbk.
Pada penutupan perdagangan Jumat, 17 April 2026, ASHA ditutup di level Rp73, naik 5,88% dalam sehari. Dalam sepekan terakhir, saham ini menguat 10,77%. Apa yang membuat para nelayan virtual ini begitu digemari investor?
🎣 Profil PT Cilacap Samudera Fishing Industry Tbk (ASHA)
PT Cilacap Samudera Fishing Industry Tbk didirikan pada 1 Oktober 1999 dan berdomisili di Cilacap, Jawa Tengah. Perseroan bergerak di bidang perikanan terintegrasi, mulai dari penangkapan ikan di laut, pengolahan, pembekuan, penyimpanan dalam cold storage, perdagangan, hingga pengelolaan dermaga (dockyard). Nama resmi perusahaan dalam bahasa Inggris adalah PT Cilacap Samudera Fishing Industry Tbk, disingkat CSFI.
Model bisnis ASHA mencakup seluruh rantai nilai perikanan: perseroan mengoperasikan armada kapal sendiri sekaligus bermitra dengan ribuan nelayan lokal di seluruh Indonesia. Ikan-ikan segar yang ditangkap langsung dibekukan dan didistribusikan ke lebih dari 300 pelanggan domestik dan 40 klien internasional di negara-negara seperti Thailand, China, Taiwan, Uni Emirat Arab, Filipina, dan Jepang. Dengan jumlah 55 karyawan tetap (per April 2026), ASHA tergolong emiten kecil namun dengan jaringan bisnis yang cukup luas.
Keunggulan kompetitif ASHA terletak pada integrasi vertikal bisnisnya: dari menangkap ikan sendiri, memiliki fasilitas cold storage, hingga mengekspor langsung ke pembeli akhir di luar negeri tanpa melalui perantara. Hal ini memberikan kontrol lebih baik atas kualitas produk dan margin yang lebih tinggi dibanding trader murni.
👥 Struktur Pemegang Saham ASHA
Berdasarkan data KSEI per 27 Februari 2026, berikut susunan pemegang saham PT Cilacap Samudera Fishing Industry Tbk yang memiliki kepemilikan di atas 1 persen:
| No | Nama Pemegang Saham | Tipe | Jumlah Saham | % |
|---|---|---|---|---|
| 1 | PT Asha Fortuna Corpora | Pengendali | 1.500.000.000 | 30,00% |
| 2 | PT Inti Sukses International | Pengendali | 550.000.000 | 11,00% |
| 3 | Ervin Sutioso | Individu | 375.000.000 | 7,50% |
| 4 | PT Mestika Arta Dirga | Institusi | 350.000.000 | 7,00% |
| 5 | PT Tiburon Perkasa Corpora | Institusi | 200.000.000 | 4,00% |
| 6 | Eko Wachyudhi | Individu | 200.000.000 | 4,00% |
| 7 | Erlin Sutioso | Individu | 175.000.000 | 3,50% |
| 8 | Harianto Ling | Individu | 167.500.000 | 3,35% |
| 9 | Sri Indah Rejeki | Individu | 124.456.000 | 2,49% |
| 10 | Rizky Adhi Prasetyo | Individu | 106.323.600 | 2,13% |
| 11 | Masyarakat / Publik | Publik | — | 25,03% |
| TOTAL | 100,00% | |||
PT Asha Fortuna Corpora sebagai pengendali utama memegang 30%, diikuti oleh PT Inti Sukses International (11%). Yang menarik adalah besarnya kepemilikan individu, Ervin Sutioso (7,50%), PT Mestika Arta Dirga (7%), Eko Wachyudhi (4%), Erlin Sutioso (3,50%), Harianto Ling (3,35%), Sri Indah Rejeki (2,49%), dan Rizky Adhi Prasetyo (2,13%), mencerminkan basis pemegang saham yang terdiversifikasi antara institusi dan individual. Float publik 25,03% memberikan likuiditas yang lebih memadai dibanding AGAR maupun NIRO.
