Survei: Pemerintahan Jokowi Dinilai Anti Islam dan Represif

4
907
  • 990
    Shares
alfian tanjung
Ustadz Alfian Tanjung dalam orasinya pada Aksi Bela Islam 55 (ABI 55) di depan Stasiun Gambir, Jakarta, Jum'at, 5/5/2017. (FOTO: Jarot Sumarjono/SERUJI)

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – ‎Lembaga Media Survey Nasional (Median) baru-baru ini merilis kondisi terkini Indonesia yang cukup mencengangkan. Meski memiliki pendapat yang berbeda-beda, namun secara spontan 79,4 persen publik menyebutkan kekurangan rezim Presiden Jokowi dibandingkan melihat keberhasilanya.

Yang cukup mengejutkan dari hasil survei tersebut, responden menilai Jokowi adalah  Presiden yang anti Islam dan ulama, 33,3 persen mempercayai hal tersebut. Sedangkan 30,0 persen tidak percaya, sisanya 36,7 persen tidak menjawab.

Dalam survey yang dilakukan pada 14-22 September 2017 menyebutkan, alasan mengapa publik percaya bahwa Jokowi anti Islam, dikarenakan banyak mentersangkakan ulama, seperti Habib Rizieq dan aktivis Islam mendapat score 25,2 persen.

Loading...

Kemudian mengeluarkan Perppu anti Ormas Islam, 14,2 persen, membubarkan Ormas Islam 9,2 persen, kurang adil terhadap aktivis Islam 6,1 persen, isu PKI 3,4 persen dan terlalu membela Basuki Tjahaja Purnama saat Pilkada DKI 3,2 persen.

Kendati demikian, bagi yang mempercayai bahwa Jokowi tidak anti Islam juga punya alasan tersendiri. Dalam survey ini dipaparkan, publik meyakini Jokowi tidak anti Islam karena partai-partai Islam banyak di koalisi pemerintah mendapat score 19,8 persen, Jokowi merangkul NU (ormas Islam terbesar) 16,5 persen, menindak ulama yang kena kasus diartikan bukan anti Islam 8,5 persen dan ulama yang menebar kebencian pantas ditindak sebesar 6,5 persen.

Isu sensitif keduanya adalah terkait tindakan represif pemerintah. Sebagian besar publik menilai pemeritahan Jokowi represif/otoriter dengan mendapat score 34,6 persen. Namun, sebanyak 34,4 persen tidak percaya.

loading...

4 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

TERBARU