JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Sebuah survei global yang dilakukan Pew Research Center, lembaga riset nonpartisan berbasis di Washington D.C., Amerika Serikat, menempatkan Indonesia di posisi kedua tertinggi dunia dalam hal penolakan terhadap legalisasi pernikahan sesama jenis. Sebanyak 92 persen warga Indonesia menyatakan menolak pernikahan sesama jenis, hanya kalah dari Nigeria yang mencatat angka 97 persen.
Di ujung berlawanan dari spektrum global, Swedia menjadi negara dengan penolakan terendah, hanya 6 persen warganya menolak, disusul Belanda di angka 10 persen. Data ini bukan sekadar angka: ini adalah cerminan dari perbedaan peradaban, nilai, sejarah, dan agama yang sangat dalam antarbangsa di dunia.
Validasi Data: Langsung dari Sumber Pew Research Center
Sebelum masuk ke analisis, penting untuk memastikan keabsahan data yang beredar di media sosial. SERUJI.CO.ID telah melakukan verifikasi langsung ke laman resmi Pew Research Center di pewresearch.org.
Hasilnya: data yang viral tersebut akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Survei ini melibatkan 32 wilayah di seluruh dunia dan menggunakan tiga gelombang survei yang berbeda. Untuk 21 negara termasuk Indonesia, survei dilakukan terhadap 24.546 responden dewasa antara 20 Februari hingga 22 Mei 2023, dengan wawancara tatap muka langsung di Indonesia.
Untuk negara-negara Asia Timur (Hong Kong, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Vietnam), survei dilakukan terhadap 10.390 responden antara Juni–September 2023. Untuk Asia Selatan dan Tenggara (Kamboja, Malaysia, Singapura, Sri Lanka, Thailand), survei dilakukan terhadap 10.551 responden antara Juni–September 2022.
Metode pengambilan sampel menggunakan probability-based sample design, artinya setiap warga dewasa memiliki peluang yang sama untuk terpilih sebagai responden. Data dibobot sesuai benchmark demografis populasi dewasa masing-masing negara. Ini adalah standar riset opini publik tertinggi yang diakui secara akademis.
| Negara | % Menolak | Status Hukum |
|---|---|---|
| 🇳🇬 Nigeria | 97% | Ilegal (ancaman pidana) |
| 🇮🇩 Indonesia | 92% | Tidak diakui (KUHP 2023) |
| 🇰🇪 Kenya | 90% | Ilegal |
| 🇲🇾 Malaysia | 82% | Ilegal (Hukum Syariah) |
| 🇱🇰 Sri Lanka | 69% | Ilegal |
| 🇭🇺 Hungaria | 64% | Tidak diakui |
| 🇿🇦 Afrika Selatan | 59% | Legal (sejak 2006) |
| 🇰🇷 Korea Selatan | 56% | Tidak diakui |
| 🇮🇱 Israel | 56% | Tidak diakui secara penuh |
| 🇵🇱 Polandia | 54% | Tidak diakui |
| 🇸🇬 Singapura | 51% | Tidak diakui |
| 🇬🇷 Yunani | 49% | Legal (sejak 2024) |
| 🇮🇳 India | 43% | Tidak diakui (MA tolak 2023) |
| 🇹🇼 Taiwan | 43% | Legal (pertama di Asia) |
| 🇰🇭 Kamboja | 42% | Tidak diakui |
| 🇧🇷 Brasil | 40% | Legal (sejak 2013) |
| 🇭🇰 Hong Kong | 40% | Tidak diakui |
| 🇺🇸 Amerika Serikat | 34% | Legal (sejak 2015) |
| 🇹🇭 Thailand | 32% | Legal (sejak 2025) |
| 🇲🇽 Meksiko | 32% | Legal (nasional sejak 2022) |
| 🇻🇳 Vietnam | 30% | Tidak diakui |
| 🇯🇵 Jepang | 26% | Tidak diakui secara nasional |
| 🇦🇷 Argentina | 26% | Legal (sejak 2010) |
| 🇮🇹 Italia | 25% | Civil union (bukan pernikahan) |
| 🇦🇺 Australia | 23% | Legal (sejak 2017) |
| 🇬🇧 Inggris | 22% | Legal (sejak 2013) |
| 🇩🇪 Jerman | 18% | Legal (sejak 2017) |
| 🇫🇷 Prancis | 14% | Legal (sejak 2013) |
| 🇨🇦 Kanada | 15% | Legal (sejak 2005) |
| 🇪🇸 Spanyol | 10% | Legal (sejak 2005) |
| 🇳🇱 Belanda | 10% | Legal (sejak 2001, pertama di dunia) |
| 🇸🇪 Swedia | 6% | Legal (sejak 2009) |
*Sumber: Pew Research Center Global Attitudes Survey 2022–2023. Angka “% menolak” dihitung dari 100% dikurangi angka dukungan yang dilaporkan Pew Research Center. Beberapa angka dalam tabel yang beredar di media sosial adalah pembulatan.
