Konsultasi Manajemen Mengapa Riset di Indonesia 'Mandul'? Belajar dari Thomas Edison-GE

RUANG MANAJEMEN

Mengapa Riset di Indonesia ‘Mandul’? Belajar dari Thomas Edison-GE

Riset Hanya Dibutuhkan Perusahaan Prisipal

Keeempat, riset hanya dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan prinsipal alias pemilik merek. Astra International misalnya walaupun merupakan perusahaan besar dan terkemuka di negeri ini, tidak akan bisa melakukan riset seperti L’oreal. Astra bukan perusahaan prinsipal. Selama ini yang dilakukan adalah menjual produk dengan merek milik perusahaan lain atau menjual komoditas. Risetnya sudah dilakukan perusahaan yang produknya dijualkan oleh Astra seperti Toyota, Honda, Komatsu dll.

Perusahaan yang bukan prinsipal juga tidak akan menarik bagi investor. Investor Astra International misalnya saat ini menuntut ROI sebesar 10% per tahun. Angka ini diperoleh dari kebalikan dari angka price earning ratio (PER) Astra yang sebesar 10,14. Artinya, dana hasil penerbitan saham baru Astra hanya bisa digunakan untuk berinvestasi jika mampu menghasilkan imbal hasil di atas 10%.

Bandingkan dengan investor L’oreal yang hanya menuntut ROI 3% karena PER nya 32,62. Itulah mengapa Astra tidak bisa melakukan riset seperti L’oreal. Kondisi ini adalah akibat dari pilihan kebijakan stratejik Astra yang terjebak pada fenomena perusahaan “banci”. Terombang ambing antara investing company dan operating company. Berbeda dengan L’oreal yang full operating company.

Kelima adalah konsekuensi logis dari penjelasan sebelumnya. Tidak adanya kebutuhan dan kemampuan riset perusahaan-perusahaan di negeri ini berakibat tidak digunakannya potensi riset di kampus-kampus.

BACA JUGA:  Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Bangsa

Perusahaan yang kebutuhan risetnya tinggi akan menggandeng periset kampus untuk menghasilkan temuan-temuan baru sesuai dengan bidang bisnisnya. Dana riset mengalir kampus karena hasil riset terjual oleh kemampuan perusahaan.

Ada simbiosis mutualisme antar kampus dan perusahaan terkorporatisasi. Sekitar 30% pendapatan Harvard University misalnya berasal dari riset. Tentu konsumennya adalah perusahaan-perusahaan di USA seperti GE di atas. Ini yang tidak terjadi di Indonesia.

Itulah penjelasan mengapa riset kita tidak bergairah dan mandul. Bagaimana solusinya? Ya tinggal membalik 5 penjelasan bersifat negatif itu menjadi positif.

Anda sudah tidak ragu kan? Nah…sekarang saatnya mengeksekusi sebagai bentuk mental ilmiah. Bukan mental jahiliah. Agar kita tidak jadi bangsa tuna riset. SNF Consulting siap membantu.

Iman Supriyonohttps://seruji.co.id/profile/iman-supriyono
Senior Consultant at SNF Consulting. Untuk konsultasi silahkan isi form di sini atau Chat Via WA

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Block title

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Loading...

Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Bangsa

Walaupun telah merdeka secara politik sejak tahun 1945, akan tetapi RI masih terus tergantung produk perusahaan-perusahaan asing hingga saat ini. Mulai dari bangun pagi ke bangun pagi berikutnya kita menggunakan dan mengkonsumsi produk-produk perusahaan asing.

Mengapa Riset di Indonesia ‘Mandul’? Belajar dari Thomas Edison-GE

Mengapa riset di perguruan tinggi kita mandul? Mengapa hanya menghasilkan dokumen  di rak-rak perpustakaan atau link internet yang hanya dibaca secara terpaksa oleh para mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi? Simak jawabannya di sini

Konsultasi Manajemen Bersama SNF Consulting

Anda dapat konsultasikan masalah terkait menajemen dan pengelolaan perusahaan kepada SNF Consulting dengan mengisi form di bawah dengan lengkap.

Zero Black Out, Mampukah PLN?

Black out tidak disebut secara eksplisit. Hanya menjadi bagian jabaran risiko produksi/operasi yaitu kerusakan peralatan. Inilah  masalah pokoknya. Sesuatu yang berakibat fatal tidak diidentifikasi secara cukup dalam dokumen rencana stratejik jangka panjang PLN.

BUMN, Pseudo CEO, dan Efek Negatifnya

vonis hakim menunjukkan bahwa sejatinya Karen bukan direktur sesungguhnya. Bukan direktur utama yang sesungguhnya. Bukan CEO. Karen hanyalah seorang direktur semu. Seorang direktur-direkturan.

SNF CONSULTING

Senior Consultant at SNF Consulting. Untuk konsultasi silahkan isi form di sini atau Chat Via WA

SNF TERPOPULER

Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Bangsa

Walaupun telah merdeka secara politik sejak tahun 1945, akan tetapi RI masih terus tergantung produk perusahaan-perusahaan asing hingga saat ini. Mulai dari bangun pagi ke bangun pagi berikutnya kita menggunakan dan mengkonsumsi produk-produk perusahaan asing.

Mengapa Riset di Indonesia ‘Mandul’? Belajar dari Thomas Edison-GE

Mengapa riset di perguruan tinggi kita mandul? Mengapa hanya menghasilkan dokumen  di rak-rak perpustakaan atau link internet yang hanya dibaca secara terpaksa oleh para mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi? Simak jawabannya di sini

BUMN, Pseudo CEO, dan Efek Negatifnya

vonis hakim menunjukkan bahwa sejatinya Karen bukan direktur sesungguhnya. Bukan direktur utama yang sesungguhnya. Bukan CEO. Karen hanyalah seorang direktur semu. Seorang direktur-direkturan.

PT Semen Indonesia: Jebloknya Arus Kas Pasca Akuisisi Super Mahal Holcim

Akuisisi mestinya adalah sesuatu yang positif. Tetapi laporan keuangan terbaru SI berkata lain. Akuisisi justru menurunkan kinerja. Mengapa?

Corpopreneur Yes! Entrepreneur No!

Kita tidak butuh lagi peningkatan jumlah atau persentase entrepreneur. Yang dibutuhkan adalah bagaimana membesarkan perusahaan-perusahaan gurem itu menjadi perusahaan perusahaan besar. Perusahaan-perusahaan prinsipal yang karyawannya puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang.