Sukmawati dilaporkan ke Polisi
Sukmawati Soekarnoputri

SERUJI.CO.ID – Di atas panggung Anna Aventie, produsen kebaya ternama, Sukmawati Soekarnoputri, melalui puisi, mengatakan bahwa wanita berkonde lebih indah dari wanita bercadar, dan suara kidung ibu Indonesia lebih indah dari suara azan. Setelah diawali pernyataan, “Aku tak tahu Syariat Islam“.

Sukmawati melakukan dua hal pada saat itu, pertama, Sukma menegaskan bahwa perempuan Indonesia itu mempunyai identitas yang berbeda dengan perempuan Islam, khususnya ibu Indonesia, adalah perempuan berkonde dengan kebaya, bukan perempuan dengan berjilbab.

Kedua, Sukma menggunakan panggung “Fashion Show”, sebuah industri kapitalis, untuk menyampaikan pesannya ini. Artinya, atau dapat dimaknai, Sukma bersekutu dengan kapitalisme menyerang identitas Islam.

Wacana yang disampaikan Sukma menarik untuk ditanggapi. Pertama, apakah perdebatan soal perempuan dipanaskan sebatas kecantikan alami berkonde vs. bercadar? Bukankah itu sudah menjadi diskursus kaum feminisme abad lalu? Kedua, apakah kebaya sebagai simbol identitas berkontestasi dengan hijab? Bukankah runtuhnya kebaya sebagai simbol keterbelakangan dan kebodohan perempuan terjadi ketika Suharto mengimpor faham liberal dan kapitalisme ke Indonesia?

BACA JUGA:  Cabut Laporan Polisi, NU Jatim Himbau Warga Nahdliyin Maafkan Sukmawati

Ketiga, apakah Sukma sedang melakukan langkah politik untuk menyerang calon gubernur dan wakil gubernur perempuan tertentu yang sedang bekontestasi dalam pilkada di Jawa?

Dalam pentas perempuan nasional saat ini, umpamanya, kita melihat adanya model Rini Sumarno, yang gambarnya terekspos hampir bersentuhan dengan lelaki Batak beristri, Luhut Binsar Panjaitan (LBP), ketika Rini menyentuh dasi pak LBP dengan tangannya. Perempuan kudua adalah Susi Pudjiastuti, perumpuan dengan pamer tato di kakinya dan merokok di publik dan ketiga Khofifah, dengan kerudung (hijab/cadar) yang selalu tampil kalem di publik.

Tidak ada ketiga wanita itu memakai kebaya sehari harinya, ataupun berkonde.

Pertanyaannya, bagaimana Sukma menilai ketiga orang di atas? Mengapa Sukma tidak menyerang negara yang tidak mewajibkan konde dan kebaya bagi elit-elit nya?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama