May Day: Apa Yang Mau Diperingati?

Oleh: Ahsanul Fuad Saragih, M.A


Dalam struktur kegiatan ekonomi kapitalis terdapat hubungan negatif antara buruh dan pemilik modal. Hal ini disebabkan karena tujuan para buruh pada dasarnya adalah mencari upah.

Di dalam kajian ekonomi perusahaan diketahui, bahwa upah mempunyai hubungan negatif dengan laba. Apabila jumlah upah besar, maka jumlah laba cenderung berkurang; sebaliknya apabila jumlah laba yang besar, jumlah upah –sebagai salah satu komponen biaya- haruslah kecil. Dengan demikian dapat disimpulkan, di dalam perusahaan kapitalistik, terdapat konflik permanen antara pemilik kapital (modal) dengan buruh.

Abang tidak merasa ragu untuk sampai pada kesimpulan bahwa hal itu sesungguhnya berhubungan dan punya pengaruh signifikan dari prinsip yang dianut pada sistem kapitalis ini -antara lain prinsip “dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya diperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya”. Sungguh, prinsip ini telah memberikan implikasi yang serius bukan saja bagi perusahaan kepada buruh tetapi juga kepada nilai-nilai kemanusiaan secara luas.

Prinsip ini menjadikan nilai seorang buruh (manusia) posisinya sejajar dengan elemen produksi lainnya seperti mesin, peralatan dan sebagainya. Bayangkan! Bagaimana perlakuan Anda kepada sebuah mesin. Kerja… kerja… kerja (jadi ingat Mr Jokowi nih..hehehe). Mesin hanya boleh istirahat kalau pas ganti oli atau masa perbaikan. Kalau masih bisa dipakai, ya dipakai. Kalau sudah tidak bisa produktif, dibuang -semudah membuang tissue.

Dimana lagi letak nilai kemanusiaan?

Ah…salah lagi. Bukankah manusia hanya dipandang sebagai “Homo Homini Lupus” (?), sebuah pandangan yang berangkat dan menjadikan manusia hanya sebagai serigala bagi sesama manusia lainnya?

Abang masih ingat semasa kecil dulu di perusahaan perkebunan tempat orang tua abang menjemput rezeki. Masa itu, perusahaan sangat banyak menyediakan fasilitas untuk kesejahteraan karyawan seperti pendidikan, kesehatan, sandang pangan, fasilitas publik seperti sarana olah raga, pemeliharaan jalan-jalan, bahkan ada bioskop yang disediakan khusus oleh perusahaan untuk para karyawan. Namun semakin kesini, fasilitas-fasilitas tersebut lambat laun terlihat dikurangi karena dan untuk atas nama “efisiensi”. Dalilnya terlihat logis yaitu segala ongkos biaya yang tidak berhubungan langsung dengan faktor produksi sedapat mungkin harus dikurangi -dan kalau bisa dihilangkan.

Dalil ini semakin mendapat tempat di era kesepakatan pasar bebas yang diberlakukan saat ini. Mereka dipandu oleh cara berpikir bahwa perusahaan-perusahaan yang mampu efisienlah yang diyakini akan tampil sebagai market leader. Sistem outsourching yang dianut oleh perusahaan-perusahaan saat ini sesungguhnya merupakan produk turunan dari cara berpikir ini.

Kalau sistem outsourching sedianya hanya diberlakukan pada lini tugas suporting seperti satpam, office boy, saat ini bahkan karyawan-karyawan yang tugasnya masih berhubungan langsung dengan produksi- pun menggunakan sistem outsourching. Tidak terbuka lagi kemungkinan jenjang karir. Jika dulu seorang satpam, office boy, punya harapan untuk menjenjang karir di perusahaan tempat dia bekerja -hari ini- kapitalis mengoyak dan meruntuhkan benih-benih harapan yang masa dulu masih mungkin bisa dirajut.

Kalau begitu, apakah praktek bisnis saat ini semakin mendekatkan kita kepada nilai-nilai kemanusiaan atau sebaliknya? Tak ada keraguan untuk satu jawaban bahwa dalam senyatanya kita semakin jauh, jauh, dan semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Apa solusinya?

Allah berfirman “innaa ad diina ‘indallaahi al islaam/sesungguhnya hanya ad-din (sistem, hukum, tata cara, tata tertib) yang hanya dari sisi Allah sajalah yang bisa Islam -menyelamatkan, menyejahterakan, dan memberikan kedamaian. Mafhum mukhallafahnya (pemahaman secara kebalikannya) bahwa keselamatan, kesejahteraan, dan kedamaian itu tidak mungkin akan hadir kalau Islam absen dan tidak jadi rujukan dalam menata sebuah sistem.

Kalau begitu, apa sebenarnya makna peringatan hari buruh hari ini?

Boleh jadi kita sedang dan akan terus memperingati “konflik permanen buruh dan pemilik modal”.

Selamat memperingati hari konflik buruh dan pemilik modal!

________________________

Penulis: Ustadz Ahsanul Fuad Saragih, S.H, M.A adalah Ketua Dewan Syariah SERUJI, Ketua Gerakan Gotong Royong Muslim Kuasai Media (GMKM) Medan, Pengurus KAHMI Medan.

EDITOR: Iwan Y

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Bangsa

Walaupun telah merdeka secara politik sejak tahun 1945, akan tetapi RI masih terus tergantung produk perusahaan-perusahaan asing hingga saat ini. Mulai dari bangun pagi ke bangun pagi berikutnya kita menggunakan dan mengkonsumsi produk-produk perusahaan asing.

Buruh, Rumah dan Kejahatan Negara

Kementerian kesehatan merilis 6771 KK buang air besar sembarangan di Bekasi. Menjijikkan tentunya. Namun, disebelah kota Bekasi, Kerawang, Luhut Binsar Pandjaitan telah melakukan "topping off" perumahan dan kawasan bisnis Meikarta, dengan nilai projek 20 miliar dolar AS, atau sekitar Rp300 Triliun

Fahira: Milenial Butuh Teladan, Bukan Tik Tok untuk Membumikan Pancasila

"Membumikan Pancasila secara populer sah-sah saja, tetapi yang dibutuhkan millenial saat ini bukan itu. Milenial butuh teladan dari para penyelenggara negara dan para pemimpin bangsa," kata Fahira

Begini Ciri Rumah Idaman untuk Pasangan Muda

Beberapa waktu lalu, portal properti Lamudi melakukan survei tentang rumah impian bagi pasangan muda, survei tersebut dilakukan kepada 100 pasangan yang baru menikah. Inilah hunian idaman untuk pasangan muda.....

5 Alasan Kita Perlu Membuat Undangan Pernikahan Digital

Kini era sudah berubah. Kini ada sebuah cara baru untuk mengirim undangan pernikahan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs desain online, di mana kita bisa menciptakan desain sendiri, juga memanfaatkan Internet untuk mengirimkannya.

Inilah Tulisan AR Baswedan Bantah Tudingan Gerakan Islam Bertentangan dengan Pancasila

AR Baswedan menyebut, pihak-pihak yang sering mempertentangan gerakan Islam dengan Pancasila justru adalah pihak-pihak yang pada hakikatnya tidak paham Pancasila. Justru sebaliknya, pemuka-pemuka ahli pikir Islam memberi pengertian-pengertian yang baik tentang Pancasila yang keluar dari keyakinan yang kuat.

Antisipasi Pelambatan Ekonomi, Ketua DPD Kumpulkan Kadin Provinsi se Indonesia

“Saya sengaja mengumpulkan para ketua umum Kadin provinsi, karena hari ini kita menghadapi masalah serius di sektor dunia usaha dan dunia industri," kata La Nyalla

Kontroversi Omnibus Law, Fahira: Wujud Frustasi Pemerintah atas Kemendegkan Ekonomi

Omnibus Law RUU Cipta Kerja (sebelumnya Cipta Lapangan Kerja atau Cilaka) dinilai sebagai bentuk rasa frustasi pemerintah atas kemandegkan ekonomi yang terjadi lima tahun belakangan ini.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama
close