Tragedi Lion Air JT-610: Tanggungjawab Siapa?

Oleh: Prof Dr. Hasim Purba, SH. M.Hum, Guru Besar Fakultas Hukum USU & Dekan Fakultas Hukum Universitas Harapan Medan.


SERUJI.CO.ID – Selamatkan Penerbangan Indonesia.

Kecelakaan pesawat milik maskapai penerbangan Lio Air JT-610 pada Senin pagi, 29 Oktober 2018 yang melayani rute penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta ke Pangkal Pinang namun naas jatuh di perariaran Kerawang Jawa Barat telah menelan korban jiwa cukup besar, sesuai data manifest pesawat berisi penumpang sebanyak 178 orang dewasa, 1 anak, dan 2 bayi infant, 2 kru dan 6 awak kabin yang dapat dipastikan semuanya telah gugur akibat kecelakaan yang tragis tersebut.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh TIM SAR dan Pihak terkait lainnya untuk evakuasi dan identifikasi jenazah para korba guna diserahkan kepada keluarga yang ditinggal. Kita berharap para korban mendapat tempat yang mulia disisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggal tetap tabah dan tawakkal.

Segala upaya yang dilakukan TIM SAR dan seluruh pihak yang telah berjibaku siang dan malam untuk menemukan posisi jatuhnya pesawat naas tersebut, evakuasi jenazah para korban, dan puing-puing bangkai pesawat serta barang-barang milik penumpang, patut mendapat apresiasi dan penghargaan dari semua pihak, walaupun mungkin disana-sini penanganan yang dilakukan belum seluruhnya sempurna dan memuaskan semua pihak terutama sebagian keluarga korban.

Semua pihak, baik Pemerintah, Maskapai Penerbangan, Pihak Pengelola Bandara, pihak Pabrikan Pesawat Terbang, dan para Penumpang dan masyarakat luas lainnya harus dapat mengambil pelajaran berharga dari terjadinya musibah kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 ini. Bagaimana kejadian memilukan seperti ini tidak terulang lagi, tentunya ini harus menjadi perhatian para pihak-pihak yang terkait langsung dengan pengawasan, pengelolaan dan pelayanan dalam penyelenggaraan kegiatan penerbangan sebagai suatu jasa pelayanan transportasi yang sangat dibutuhkan masyarakat luas saat ini.

Kejadian-kejadian kecelakaan penerbangan sebenarnya telah pernah melanda dunia penerbangan nasional Indonesia, sehingga Organisasi Penerbangan Internasional (ICAO: International Civil Aviation Organisation) yang memberikan peringkat maskapai-maskapai penerbangan Indonesia pada kategori berbahaya, dan membuat Uni Eropa (UE) sempat memberikan sanksi kepada beberapa maskapai penerbangan Indonesia berupa larangan terbang ke negara-negara Uni Eropa.

Mudah-mudahan kejadian-kejadian accident dalam dunia penerbangan nasional dapat diantisipasi, tentunya dengan komitmen semua pihak terkait (stakeholder) untuk secara bersama-sama mengutamakan keselamatan dan keamanan dalam setiap penerbangan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Fahira ke Haters Anies: Jangan Sering Gol Bunuh Diri Nanti Kehabisan Energi

Bedakan wilayah Bekasi, Tangerang dan DKI saja tidak mampu. Siapa pengelola Kawasan GBK dan Jembatan Utan Kemayoran saja tidak paham. Bagaimana mau mau kritik apalagi menyerang.

Sering Kesemutan di Tangan Maupun Kaki Sejak Usia Muda, Apakah Sebabnya?

Kesemutan yang saya derita mudah timbul, semisal saat mengendarai sepeda motor, tangan saya memegang stang meskipun tidak erat dalam waktu 10 menit kedua tangan saya merasa kesemutan bercampur kebas, dan akan normal kembali apabila saya lepas.

Dinilai Lembek ke China Soal Natuna, PA 212 Minta Presiden Jokowi Pecat Prabowo

Menurut PA 212, langkah yang diambil Prabowo sangat kontras dengan sikap Presiden Jokowi yang tidak mau berkompromi dengan China yang telah melakukan pelanggaran batas wilayah di perairan Natuna.

Inilah Kekayaan Bupati Sidoarjo Saiful Ilah Yang Kena OTT KPK

Jumlah harta Saiful ini melonjak hampir empat kali lipat dibanding saat awal ia menjabat Wakil Bupati Sidoarjo periode 2005-2010, yang berdasarkan LHKPN tertanggal 28 April 2006 bernilai total Rp17.349.095.000.

Flash: Bupati Sidoarjo Kena OTT KPK Terkait Dugaan Pengadaan Barang dan Jasa

OTT KPK ini, adalah juga yang pertama kali sejak revisi UU KPK diundangkan menjadi UU Nomor 19 Tahun 2019 atas perubahan kedua atas UU Nomor 30 Tahun 2002.

Utang RI Meroket Rp4.778 Triliun, Sri Mulyani: Kita Masih Lebih Hati-hati Dibanding Malaysia

Bahkan, jika dibanding negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Filipina, jelas Sri Mulyani, pengendalian utang Indonesia jauh lebih hati-hati.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama
close