Jutaan Anak Afghanistan Putus Sekolah Akibat Perang

KABUL, SERUJI.CO.ID –  Sekitar 3,7 juta anak-anak Afghanistan harus putus sekolah akibat perang, kemiskinan, pernikahan, dan pembedaan terhadap murid perempuan, kata sejumlah badan kemanusiaan dalam laporan bersama pada Ahad (3/6).

Kekerasan terus meluas memaksa banyak sekolah meliburkan siswa, sehingga memukul mundur kemajuan, yang sudah diperoleh, dalam pendidikan untuk perempuan di negara tersebut.

Sekitar 3,7 juta anak-anak berusia tujuh hingga 17 tahun, atau 44 persen dari keseluruhan anak-anak, harus berhenti sekolah. Sebanyak 2,7 juta di antaranya adalah perempuan, kata Menteri Pendidikan Mirwais Balkhi dalam seminar, yang menjelaskan temuan penelitian oleh badan anak-anak PBB UNICEF, USAID, dan lembaga Samuel Hall.

Kelompok Taliban di Afghanistan, yang berupaya menggulingkan pemerintahan dan menerapkan aturan keras mereka, dikenal menolak pendidikan untuk perempuan. Selain itu, ancaman dari IS juga memaksa puluhan sekolah menutup diri.

Tanpa menyebut Taliban ataupun IS, Balkhir mengatakan bahwa banyak alasan kenapa anak-anak berhenti sekolah.

“Pendidikan bagi anak adalah hal terpenting bagi pembangunan bagi semua komunitas manusia. Pendidikan juga merupakan alat penting untuk menghentikan peperangan, kemiskinan, dan pengangguran,” kata dia.

Di sejumlah provinsi yang paling terdampak, hampir 85 persen anak perempuan tidak bersekolah sama sekali, kata laporan terbaru ini. Ketiga lembaga yang menggelar penelitian tidak menuliskan periode periode waktu yang spesifik ataupun perbandingan.

Pada April tahun ini, sekelompok orang bersenjata membakar dua sekolah, sementara kekerasan yang meluas membuat ratusan sekolah swasta menutup operasi mereka.

“Afghanistan tidak bisa meneruskan kebijakan yang ada jika ingin memenuhi hak pendidikan bagi semua anak,” kata Adele Khodr dari UNICEF dalam laporan itu.

“Saat anak-anak tidak berada di sekolah, mereka semakin terancam menerima kekerasan, eksploitasi, dan direkrut oleh kelompok bersenjata,” kata dia.

Salah seorang remaja putri, Ziwar, dari provinsi Daikundi yang merupakan salah satu daerah teraman di Afghanistan, mengatakan bahwa dia hanya bisa bersekolah sampai umur 14 tahun.

“Saya bisa membaca dan menulis. Saya bisa menulis sebuah surat,” kata Ziwar dalam seminar yang sama dengan menteri Balkhir.

“Saya belajar dari buku. Saya ingin meneruskan pendidikan saya. Saya bercita-cita menjadi dokter,” kata dia. (Ant/Su02)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Belajar, Bukan Bersekolah

Akhir pandemi belum juga jelas, satu hal sekarang makin jelas: Gedung-gedung megah persekolahan itu makin tidak relevan jika dipaksakan untuk kembali menampung kegiatan bersekolah lagi. Sekolah harus direposisi. Juga guru.

Bertema “Inovasi Beyond Pandemi”, AMSI Gelar Indonesian Digital Conference 2020

Ketua Umum AMSI, Wenseslaus Manggut mengatakan IDC yang digelar AMSI bertujuan untuk melihat sejauh mana berbagai sektor melakukan inovasi di tengah pandemi Covid-19 dan seperti apa ke depan.

Cek Fakta: Debat Pilkada Tangsel, Seluruh Paslon Minim Paparkan Data

Debat pemilihan umum kepala daerah (pilkada) Tangerang Selatan (Tangsel) membeberkan program kerja yang dimiliki para peserta. Sayangnya, dalam debat tersebut masing-masing pasangan calon (paslon) lebih banyak bicara dalam tatanan konsep.

PasarLukisan.com Gelar Pameran Lukisan Virtual Karya Pelukis dari Berbagai Daerah

"Ini adalah solusi yang diharapkan akan memecahkan kebekuan kegiatan kesenian, khususnya pameran seni rupa, akibat pandemi yang belum kunjung berakhir," kata M. Anis,

Paman Donald dan Eyang Joe

Banyak yang usil menyamakan pilpres Amerika dengan Indonesia, termasuk kemungkinan Biden akan mengajak Trump bertemu di MRT dan menawarinya menjadi menteri pertahanan.

Berikut Berbagai Larangan Bagi Penasihat Investasi Yang Diatur dalam Keputusan BPPM

Penasihat Investasi dalam menjalankan kegiatannya harus bersikap hati–hati, dikarenakan terdapat larangan yang harus diperhatikan oleh Penasihat Investasi agar terhindar dari sanksi.

TERPOPULER

Kemcer Di Curug Cipeteuy

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

Hak Asuh Anak Dalam Perceraian

Retaknya perkawinan yang berujung perceraian sering kali mengakibatkan konflik perebutan hak asuh anak. Dalam artikel kali ini, Ruang Hukum akan menjelaskan tentang hak asuh anak sesuai perundangn yang berlaku dan prosesnya di Pengadilan jika terjadi perselisihan perebutan hak asuh anak. Selamat membaca.....