Dr. Syahganda Nainggolan, Direktur Sabang Merauke Circle

SERUJI.CO.ID – Emha Ainun Najib, budayawan besar dan pecinta Jogyakarta, mungkin tidak terlalu pusing dengan bubarnya Indonesia Raya ini, seperti yang dikhawatirkan Prabowo akan terjadi pada tahun 2030 -dua belas tahun lagi. Bagi Emha, sekali lagi mungkin, selama kesultanan Ngajogjakarta dan Sri Sultannya ada, maka dirinya akan tetap nyaman sebagai manusia dalam sebuah sistem sosial yang dinaungi “negara Ngajogyakarta” dan Charismatic Leader nya.

Namun, sebaliknya, bagi Prabowo urusan negara ini begitu merisaukan kalau menjadi bubar. Sebab, Prabowo memikirkan Negara Indonesia sebagai sebuah entiti yang eksistensinya harus nyata dan terus ada.

Orang orang, sebagiannya, berpikir bahwa kerisauan Prabowo ini terlalu sumir dan naif. Sebagiannya lagi, seperti Dahlan Iskan dan Tito Karnavian, meminta kekhawatiran tersebut dimaknai positif, sebagai alarm untuk kita menjaga keutuhan negara ini.

Loading...

Orang orang yang mengecam Prabowo, menunjukkan data-data bahwa kemajuan ekonomi Indonesia tetap membaik dan stabilitas serta kesejahteraan sosial membaik. Bahkan, mereka, sebagiannya lagi, membanggakan ramalan alternatif dari PwC (Price waterhouse Coopers) dan sejenisnya, bahwa Indonesia akan menjadi negara besar pada tahun 2050.

Sebaliknya, Prabowo, yang seolah-olah merujuk Peter Singer dalam novelnya “Ghost Fleet”, dan padahal tentu saja merujuk juga pada buku Prabowo sendiri, “Paradoks Indonesia” (2017), Indonesia mengalami bahaya besar dari sisi geopolitik kawasan (proxy war China vs USA), di mana kita menjadi “planduk” yang akan mati ditengah; ketimpangan dan kemiskinan rakyat kita; oligarki ekonomi dan invasi ekonomi asing yang terlalu besar, dlsb., akan melumpuhkan negara ini dalam waktu dekat jika kepemimpinan nasional begitu lemah seperti saat ini.

Konsepsi Negara Bubar

Negara bubar atau bubarnya sebuah negara sudah kita saksikan dalam penghujung abad lalu. Bubarnya Uni Soviet dan bubarnya negara-negara Balkan. Di masa lalu hal itu juga terjadi, baik dalam konsep negara “khalifah” (Islam maupun Katolik), negara tradisional atau kerajaaan (seperti bubarnya negara Belanda menjadi Belgia dan Belanda), atau di era termodern, berpisahnya Cheko dengan Slovakia serta Sudan vs Sudan Selatan, masing masing menjadi negara baru.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama