Politisi Kampungan

Oleh: Haidar Majid, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Provinsi Sulawesi Selatan

Sebenarnya untuk menjadi seorang politisi, bukanlah sesuatu yang susah-susah amat, juga tidak mudah-mudah amat. Tidak susah karena ‘profesi’ ini bisa digeluti oleh siapa saja, tanpa harus berlatar belakang ilmu tertentu. Tetapi tidak mudah karena seorang politisi sebaiknya punya ‘sense’, biar tidak terkesan karbitan atau mungkin juga kampungan.

Sebagian orang ‘percaya’ bahwa menjadi seorang politisi adalah cara menapaki tangga kekuasaan. Sehingga tidak jarang ‘kepercayaan’ itu menjelma dalam bentuk “berlaku apa saja” untuk sebuah kekuasaan. Semua boleh ‘halal’ demi langgengnya kekuasaan. Urusan salah atau benar, bohong atau jujur, biasanya terkesampingkan.

Alur pikir seperti itu bukanlah hal baru dalam dinamika politik. Machiavelli sudah lama ‘merintis’ jalan seperti itu. Semua bisa ‘halal’ demi langgengnya kekuasaan, termasuk menyampaikan “berita sesat dan menyesatkan”, termasuk “memprovokasi” pihak-pihak tertentu. Tujuannya sederhana, biar dirinya bisa dapat simpati dan tentu saja dukungan.

Bohong dan provokasi itu seringkali menuai dukungan yang sifatnya instan, apalagi jika dipoles dengan retorika yang memadai. Hanya saja, politisi seperti ini lupa bahwa segala sesuatu yang berbau “instan”, biasanya bersifat “sesaat” saja. Perlahan-lahan dukungan yang dituai akan susut seiring dengan terkuaknya kebohongan dan provokasi yang disampaikan.

Selanjutnya, ‘kerja politik lain’ yang sering dilakukan oleh politisi seperti itu adalah gemar menuding orang lain, terlebih yang dianggap sebagai “kompetitor” dengan berusaha mencari-cari kesalahan. Jika tak menemukan kesalahan yang dicari, maka dirinya akan menggali kebiasaan lama yang mungkin telah mengendap di sanubarinya, yakni “mengarang bebas”.

Karena kapasitas yang pas-pasan dengan pemahaman akan banyak hal yang jauh dari cukup, politisi seperti itu memang cuma bisa berkutat di urusan tuding-menuding. Apa sebab, mungkin dipikirnya, hanya dengan begitu, segala kekurangan yang dimilikinya bisa tertutupi. Padahal dirinya lupa, bahwa kebiasaan “menuding”, adalah cara paling efektif menunjukkan kekurangan diri sendiri.

Tuntutan “kuasa” yang ‘over dosis’, membuatnya seringkali tak lagi bisa membedakan mana “percaya diri”, mana “tidak tahu diri”. Apa saja yang keluar dari mulutnya dalam bentuk kata dan kalimat, diyakini sebagai kebenaran. Meski setelah semua terlontar, barulah dirinya menyadari bahwa apa yang dikatakannya jauh dari kebenaran. Karena percaya diri, untuk menyamarkan kesalahan itu, ditudinglah orang lain sebagai “salah” mendengar pernyataannya.

Kebiasaan buruk politisi berjenis seperti ini akan terus berlanjut. Jika gagal menuding orang lain “salah mendengar” pernyataan yang disampaikan, maka langkah berikutnya adalah “menuntut” mereka, dengan alasan ‘memanipulasi’ pernyataannya dan menyebarkannya. Langkah ini adalah “lagu lama” yang membosankan bahkan cenderung memuakkan.

Ya, pasti membosankan karena ‘lagu’ itu pernah terdengar dan diputar berulang-ulang. Juga pasti memuakkan, karena politisi seperti itu hanya piawai melempar batu lalu sembunyi tangan, tetapi tetap setor muka dan mencari pendukung. Politisi ini alpa menimbang rumus awal, bahwa dukungan instan akan pupus dengan cepat setelah kedangkalan pikirnya terlihat nyata.

Karena gaya seperti itu membosankan dan memuakkan, maka berhentilah menjadi politisi yang hanya berorientasi kekuasaan, politisi yang semua halal demi kekuasaan, politisi yang bisa menciptakan kambing hitam, politisi yang gemar menuding pihak lain untuk menyembunyikan kelemahan. Ini penting, sebab jika anda bergaya politisi seperti itu, sungguh kasihan karena anda terlihat norak alias kampungan.

Makassar, 8 Agustus 2017

Salam #akumemilihsetia

 

(Hrn)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Mengenal Lebih Dekat Komisi Anti Korupsi Hongkong

Hubungan persahabatan antara KPK dan ICAC telah terjalin dengan baik selama dua tahun terakhir. Kerjasama kedua lembaga anti rasuah tersebut sebagian besar menyangkut peningkatan kapasitas KPK, terutama dibidang akuntansi forensik, pemulihan aset, dan tehnik investigasi.

Inilah 4 Keuntungan Membeli Apartemen Tipe Studio

Tinggal di apartemen saat ini sudah menjadi gaya hidup. Lokasi yang strategis dan ditunjang dengan berbagai fasilitas kemudahan menyebabkan banyak masyarakat urban, khususnya para eksekutif muda tertarik untuk tinggal di hunian vertikal.

Aksi Solidaritas Jurnalis-Aktivis di Pengadilan Tinggi Kalsel: Diananta Tidak Sendiri

Para aktivis dan jurnalis terus menggelar aksi solidaritas untuk mantan Pemred Banjarhits, Diananta Putera Sumedi yang disidang sebab menulis berita konflik lahan masyarakat adat versus perusahaan.

Masuki Masa Transisi New Normal, AMSI Jatim Keluarkan 7 Poin Imbauan

Mencermati perkembangan penyebaran Covid-19 di masa transisi New Normal yang semakin meningkat, AMSI Jawa Timur, mengeluarkan 7 poin imbauan.

CFD Kembali Ditiadakan, Fahira: Review dan Evaluasi Kunci Jakarta Kendalikan Covid-19

Senator DKI Jakarta Fahira Idris mengapresiasi keputusan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang kembali meniadakan sementara kegiatan car free day (CFD).

Inilah 5 Kota Yang Jadi Incaran Calon Pembeli Rumah Saat Pandemi Covid-19

Pandemi corona telah mengubah wajah bisnis tanah air, termasuk sektor properti. Jika dulu orang membeli rumah harus datang ke lokasi proyek, sekarang tidak lagi.

Senator DKI: Pasar Harus Jadi Area Paling Aman dari Penyebaran Corona

Pencegahan penyebaran corona di pasar termasuk pasar tradisional menjadi salah satu langkah strategis dan efektif untuk menahan laju dan menghentikan penularan dan penyebaran Covid-19 di Indonesia

TERPOPULER