Sidang ke-21, Tidak Ada Replik-Duplik Atas Pledoi Ahok


JAKARTA – Hari ini, Selasa (25/4/2017), Pengadilan Negeri Jakarta Utara kembali menggelar sidang kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, di auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan.

Dalam sidang ke-21 ini, Ahok dan tim kuasa hukumnya telah selesai membacakan pledoi atau pembelaan atas tuntutan yang disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang yang digelar pada Kamis (20/4/2017) lalu. Ahok membacakan pledoi sekitar 5 halaman, sedangkan tim kuasa hukumnya membacakan 600-an halaman nota pembelaan.

Ahok menyatakan bahwa dirinya tidak berniat melakukan penistaan agama. Tim kuasa hukumnya juga menilai kasus penistaan agama terkesan dipaksakan untuk kepentingan Pilkada DKI.

Usai pembacaan pledoi, JPU memutuskan tidak menggunakan hak replik nya atas nota pembelaan dari terdakwa dan kuasa hukumnya. Replik adalah jawaban atas pledoi tergugat. Karenanya, kuasa hukum juga tidak melakukan deplik yakni hak jawab atas replik dari jaksa penuntut umum.

Hal ini disampaikan Ketua JPU, Ali Mukartono usai mendengar pledoi terdakwa dan kuasa hukumnya. Awalnya, Ketua Majelis Hakim, Dwiarso Budi Santiarto, meminta tanggapan JPU mengenai nota pembelaan terdakwa dan kuasa hukumnya.

“Selanjutnya kami tanya kepada Penuntut Umum terhadap nota pembelaan ini apakah saudara akan memberi tanggapan?” tanya Dwiarso.

Dalam tanggapannya, Ali Mukartono menilai tidak ada fakta baru dari pembelaan yang dibacakan terdakwa dan kuasa hukum. Sebagian pembelaan juga merupakan pengulangan dari materi eksepsi. Hal inilah yang menjadi pertimbangan dari JPU tidak menggunakan hak replik.

“Kami juga harus mengembalikan jadwal yang pernah mundur. Maka untuk menghindari pengulangan yang tidak perlu, kami merasa apa yang kami sampaikan pada tuntutan sudah cukup. Pada prinsipnya kami tetap pada tuntutan sebagaimana surat tuntutan yang kami bacakan. Demikian sikap kami,” kata Ali.

Senada dengan JPU, penasihat hukum juga menyatakan tetap pada pada nota pembelaannya. Kuasa hukum menyatakan menyerahkan keputusan kepada majelis hakim.

“Sebagaimana yang kami dengar, JPU tetap pada tuntutan sehingga menurut proses hukum apa yang kami kemukakan dalam pembelaan kami dan terdakwa. Dan segalanya kami serahkan kepada yang mulia,” ujar Teguh Samudera, anggota kuasa hukum.

Setelah mendengar pendapat dari kedua belah pihak, majelis hakim memutuskan akan langsung melangkah kepada sidang putusan. Sidang ke-22 tentang putusan kasus dugaan penodaan agama akan digelar pada Selasa, 9 Mei 2017 mendatang.

Seperti diketahui, dalam sidang yang digelar Pengadilan Jakarta Utara pada Kamis (20/4/2017) lalu, JPU menuntut Ahok dengan hukuman 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun. Saat membacakan tuntutan terhadap Ahok, Ketua Tim JPU, Ali Mukartono menyatakan perbuatan Ahok terbukti memenuhi rumusan-rumusan unsur pidana dalam Pasal 156 KUHP.

JPU hanya menuntut Ahok dengan hukuman yang cukup ringan, yaitu 1 tahun penjara dengan 2 tahun masa percobaan. Artinya, apabila Ahok divonis bersalah sesuai tuntutan JPU, maka ia tidak perlu ditahan selama dalam 2 tahun yang bersangkutan tidak melakukan tindak pidana lain yang memiliki kekuatan hukum tetap.

Kemudian, JPU hanya menggunakan Pasal 156 KUHP. Artinya, Ahok sudah terlepas dari jerat Pasal 156a KUHP yang selama ini selalu dijadikan jaksa untuk menuntut terdakwa kasus penistaan agama.

 

EDITOR: Iwan Y

8 KOMENTAR

  1. Ayoo umat islam seindonesia.
    .yg tau dg agama dan yg takut akan ALLAH S.W.T…BANGKIT DAN HUKUM PENISTA AGAMA…JANGAM HUKUM RUNCING K BAWAH DAN TUMPUL KEATAS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Media di Tengah Masyarakat Yang Terjangkit Post Truth

Bagi media, Post Truth itu sesungguhnya sangat menguntungkan. Karena di tengah masyarakat yang terjangkiti Post Truth mereka tidak sedang mencari kebenaran, tapi kesukaan.

3 Kunci Sukses Pasarkan Properti Saat Wabah Covid-19

Webinar ini sendiri sengaja diadakan oleh Lamudi untuk membantu para pangembang properti memasarkan produk mereka agar tetap mendapatkan hasil yang maksimal di tengah pandemi corona.

Pasca Kecelakaan Tulang Belakang, Kaki Sering Nyeri dan Perih, Apa Sebabnya?

Pada 16 tahun yang lalu saya pernah kecelakaan dan tiga ruas tulang belakang remuk. 3 bulan awal kaki kiri saya tidak bisa berjalan, 6 bulan berikutnya sudah bisa jalan walaupun tidak sekuat kaki kanan, sampai sekarang.

Breaking News: Akhirnya, Presiden Jokowi Putuskan Tes Massal Covid-19

Tidak mengambil kebijakan Lockdown, Presiden Jokowi akhirnya lebih memilih melakukan tes massal Covid-19.

Tahukah Anda, Berwudhu Dapat Kurangi Risiko Tertular Virus Corona?

Berwudhu merupakan kegiatan yang tak bisa dipisahkan dari muslim.. Tahukah anda bahwa berwudhu bisa mengurangi resiko tertular virus Corona?

Cegah Kepanikan, AMSI Imbau Media Kedepankan Kode Etik dalam Pemberitaan Wabah Corona

Wens menjelaskan beberapa langkah yang harus dilakukan media-media anggota AMSI dalam pemberitaan terkait virus Covid-19 tersebut.

Fahira: Milenial Butuh Teladan, Bukan Tik Tok untuk Membumikan Pancasila

"Membumikan Pancasila secara populer sah-sah saja, tetapi yang dibutuhkan millenial saat ini bukan itu. Milenial butuh teladan dari para penyelenggara negara dan para pemimpin bangsa," kata Fahira

TERPOPULER

Tentang Korupsi Sektor Publik

Sebenarnya fenomena korupsi sektor publik terjadi di hampir semua Negara. Bukan hanya di Indonesia yang masuk dalam kategori negara yang belum mapan secara ekonomi. Namun korupsi sektor publikpun terjadi di negara yang sangat mapan perekonomiannya seperti Saudi Arabia.

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

close