Adapun untuk tingkat keterpilihan atau elektabilitas, La Nyalla sebesar 18,6 persen, ditempel ketat Risma 18,3 persen, Khofifah 17,9 persen, dan Gus Ipul 17,7 persen.
“Dengan temuan survei itu sebenarnya La Nyalla punya potensi besar diusung Demokrat, tapi dia memilih strategi politik yang tepat dengan mundur dari pencalonan Demokrat. Sehingga profil politik dan citra tegasnya kian terbentuk untuk mendulang simpati publik yang lebih besar,” jelas Firman.
Sementara itu Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) Arifin Nur Cahyono juga menilai langkah La Nyalla sudah tepat dalam memilih mundur dari pencalonan di Partai Demokrat.
“Saya kira itu insting politik yang bagus. Meski hasil survei La Nyalla cukup oke, termasuk di survei LKPI, dia memilih jalan memutar dan agak panjang untuk semakin meningkatkan citra tegasnya. Publik makin beranggapan bahwa La Nyalla adalah orang tegas, tidak kenal kompromi pada deal-deal dan manuver politik yang tidak pantas,” jelas Arifin.
Seperti diberitakan sebelumnya, Senin (2/10) La Nyalla menyatakan mundur dari penjaringan bacagub Jatim di Partai Demokrat. Pasalnya, La Nyalla menilai Demokrat tidak memberi edukasi politik yang baik ke publik seiring sikap partai tersebut yang mengubah-ubah jadwal pendaftaran cagub dan cawagub Jatim.
