Memvonis Media di Tengah Literasi Masyakarat Yang Rendah

Oleh: Ferry Koto, pemerhati pendidikan dan pengamat kebijakan publik.

SERUJI.CO.ID – Yang menarik dari sebagian konsumen media di Indonesia adalah kemalasan membaca, tapi pintar menyimpulkan. Jangankan berharap kritis pada isi berita dengan mencari sumber pembanding, kadang hanya membaca judul mereka sudah ambil kesimpulan.

Kebenaran dari kesimpulan yang dangkal ini bahkan dijadikan bahan perdebatan untuk membangun argumentasi. Soal nilai tukar rupiah dan penjudulan berita yang ‘provokatif’ dalam tulisan saya yang baru lalu dapat dijadikan contoh.

Don’t judge a book by its cover’, idiom yang bermakna jangan menilai sesuatu/seseorang dengan hanya melihat tampak depan atau penampilan luarnya semata. Dalam hal berita bisalah kita korelasikan dengan judul berita.

Karena dalam judul berita ada sepatah kata ‘Komunisme’ atau ‘Sosialisme’, tak lantas bisa menyimpulkan ‘Media ini sebarkan ajaran Komunisme/Sosialisme’. Apalagi menuding ‘Awak media/pemiliknya PKI’.


Hal yang sama jika media memberitakan salah satu pasangan capres atau timsesnya, tidaklah berarti bisa disimpulkan ‘Media pendukung X’, ‘Pers dibeli Y’. Terlalu dangkal.

Kondisi ini bisa jadi disebabkan adanya fakta bahwa masyarakat Indonesia termasuk masyarakat dunia yang paling rendah literasi atau minat bacanya.

Dalam sebuah studi ‘Most Littered Nation In the World’ yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Luarrrr biasa !! Peringat runner-up dari bawah, dari 61 negara di dunia.

Kita berada hanya satu tingkat diatas negara di ‘pelosok’ Afrika, Botswana dalam hal minat baca. Hanya diatas Botswana, negara yang namanya mungkin sebagian besar dari kita tak pernah dengar.

Yang mengejutkan dari hasil studi tersebut adalah kenyataan bahwa dari sisi infrastruktur untuk menopang minat baca, justru Indonesia berada di peringkat 34. Infrastruktur Indonesia jauh lebih baik dari Portugal, Jerman, Korsel. Bahkan dibanding dengan negara yang sistem pendidikannya dinilai terbaik dunia, New Zealand.

Artinya apa? Walau kita memiliki banyak perpustakaan, ruang baca, pustaka keliling, buku dan lainnya, yang dibangun pemerintah, tapi ternyata belum mampu meningkatkan minat baca/literasi masyarakat. Menyedihkan?

Sama dengan media (pers) saat ini. Walau media online tumbuh pesat, diperkirakan ada 45 ribu lebih portal online saat ini di seluruh Indonesia. Tapi banyaknya media online tersebut ternyata belum meningkatkan minat baca masyarakat. Yang baru meningkat mungkin hanya ‘minat baca judul berita’. Dan kemudian disalurkan dengan pem-vonisan atas media.

Kondisi ini juga, hemat saya, yang akhirnya berpotensi akan menumbuh suburkan ‘false news’ dan ‘fake news’ di media. Demi menarik pembaca yang hanya tertarik dengan judul berita, akhirnya media ‘menyesuaikan diri’. Media terdorong memproduksi berita dengan judul-judul yang bombastis atau hanya berorientasi ‘klik bait’.

Jika ini terus terjadi, -literacy rendah dan media yang hanya orientasi klik bait- maka “Post-Truth” benar-benar akan kuasai Indonesia.

BACA JUGA

Loading...

Kolom dr. Irsyal, Sp PD

Nikmat Allah Jangan Dustakan

Kenapa anak itu bahagia? Karena dia tahu berterimakasih dan menghargai hadiah yang didapatnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Loading...

Pendidikan Antikorupsi di Perguruan Tinggi

Menurut Laode M Syarif, saat ini 68% pelaku korupsi merupakan lulusan perguruan tinggi. Makanya, perguruan tinggi harus bertanggungjawab atas kejahatan korupsi yang dilakukan lulusannya.

Media di Tengah Masyarakat Yang Terjangkit Post Truth

Bagi media, Post Truth itu sesungguhnya sangat menguntungkan. Karena di tengah masyarakat yang terjangkiti Post Truth mereka tidak sedang mencari kebenaran, tapi kesukaan.

Pakar Gempa AS Minta Maaf ke Masyarakat NTB Atas Prediksi Potensi Gempa di Lombok

Ahli geologi dan kegempaan asal Amerika Serikat, Prof Ron A Harris meminta maaf kepada masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) atas pernyataanya mengenai hasil penelitian potensi gempa di selatan Lombok, sehingga membuat rasa takut masyarakat.

Indonesia Kecam Dewan Kota Oxford Yang Berikan Penghargaan Pada Benny Wenda

Pemerintah Indonesia mengecam keras pemberian penghargaan oleh Dewan Kota Oxford, Inggris, kepada Benny Wenda, anggota kelompok gerakan separatis Kemerdekaan Papua Barat.

Terbukti Langgar Kode Etik Saat Pemilu 2019, DKPP Copot Ketua KPU Sumut

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara (Sumut), Yulhasni diberi peringatan keras dan dicopot dari jabatannya oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI.

Kasus Korupsi Jasmas, Wakil Ketua DPRD dari Gerindra Ini Dijebloskan ke Rutan Medaeng

Wakil Ketua DPRD Surabaya dari Partai Gerindra, Darmawan (Aden) usai diperiksa sebagai saksi terkait aliran dana Jasmas senilai Rp4,9 miliar yang bermasalah tersebut, Selasa (16/7) langsung ditahan penyidik Kejari Tanjung Perak.

Pendidikan Antikorupsi di Perguruan Tinggi

Menurut Laode M Syarif, saat ini 68% pelaku korupsi merupakan lulusan perguruan tinggi. Makanya, perguruan tinggi harus bertanggungjawab atas kejahatan korupsi yang dilakukan lulusannya.

Wow, Utang Pemerintah Kembali Naik Capai Rp4.570 Triliun, Beginilah Posturnya

Jika dibandingkan dengan posisi utang pemerintah pada akhir Desember 2018 yang berjumlah Rp3.995,25 triliun, utang pemerintah pusat ini mengalami kenaikan sebesar 14,39% atau sebesar Rp574,92 triliun.

Terbukti Langgar Kode Etik Saat Pemilu 2019, DKPP Copot Ketua KPU Sumut

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara (Sumut), Yulhasni diberi peringatan keras dan dicopot dari jabatannya oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI.

Ucapkan Selamat Pada Jokowi, Prabowo: Kami Siap Membantu Jika Diperlukan

Prabowo juga menyatakan kesiapannya untuk membantu pemerintahan Jokowi bila diperlukan untuk kepentingan rakyat. “Menjadi Presiden itu mengabdi. Masalah yang dihapi besar, kami siap membantu kalau diperlukan untuk kepentingan rakyat,” ujar Prabowo.

Jokowi-Prabowo Bertemu, Berakhirlah Era Cebong-Kampret

Akhirnya Presiden terpilih dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, Jokowi bertemu dengan calon Presiden Prabowo Subianto. Pertemuan bersejarah itu terjadi di stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) Lebak Bulus Jakarta Selatan, Sabtu (13/7) pukul 10.00 WIB.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

Pendidikan Antikorupsi di Perguruan Tinggi

Menurut Laode M Syarif, saat ini 68% pelaku korupsi merupakan lulusan perguruan tinggi. Makanya, perguruan tinggi harus bertanggungjawab atas kejahatan korupsi yang dilakukan lulusannya.

Wow, Utang Pemerintah Kembali Naik Capai Rp4.570 Triliun, Beginilah Posturnya

Jika dibandingkan dengan posisi utang pemerintah pada akhir Desember 2018 yang berjumlah Rp3.995,25 triliun, utang pemerintah pusat ini mengalami kenaikan sebesar 14,39% atau sebesar Rp574,92 triliun.