Memvonis Media di Tengah Literasi Masyakarat Yang Rendah

Oleh: Ferry Koto, pemerhati pendidikan dan pengamat kebijakan publik.

0
67
  • 6
    Shares
Ilustrasi.

SERUJI.CO.ID – Yang menarik dari sebagian konsumen media di Indonesia adalah kemalasan membaca, tapi pintar menyimpulkan. Jangankan berharap kritis pada isi berita dengan mencari sumber pembanding, kadang hanya membaca judul mereka sudah ambil kesimpulan.

Kebenaran dari kesimpulan yang dangkal ini bahkan dijadikan bahan perdebatan untuk membangun argumentasi. Soal nilai tukar rupiah dan penjudulan berita yang ‘provokatif’ dalam tulisan saya yang baru lalu dapat dijadikan contoh.

Don’t judge a book by its cover’, idiom yang bermakna jangan menilai sesuatu/seseorang dengan hanya melihat tampak depan atau penampilan luarnya semata. Dalam hal berita bisalah kita korelasikan dengan judul berita.

Karena dalam judul berita ada sepatah kata ‘Komunisme’ atau ‘Sosialisme’, tak lantas bisa menyimpulkan ‘Media ini sebarkan ajaran Komunisme/Sosialisme’. Apalagi menuding ‘Awak media/pemiliknya PKI’.

Hal yang sama jika media memberitakan salah satu pasangan capres atau timsesnya, tidaklah berarti bisa disimpulkan ‘Media pendukung X’, ‘Pers dibeli Y’. Terlalu dangkal.

Kondisi ini bisa jadi disebabkan adanya fakta bahwa masyarakat Indonesia termasuk masyarakat dunia yang paling rendah literasi atau minat bacanya.

Dalam sebuah studi ‘Most Littered Nation In the World’ yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Luarrrr biasa !! Peringat runner-up dari bawah, dari 61 negara di dunia.

Kita berada hanya satu tingkat diatas negara di ‘pelosok’ Afrika, Botswana dalam hal minat baca. Hanya diatas Botswana, negara yang namanya mungkin sebagian besar dari kita tak pernah dengar.

Yang mengejutkan dari hasil studi tersebut adalah kenyataan bahwa dari sisi infrastruktur untuk menopang minat baca, justru Indonesia berada di peringkat 34. Infrastruktur Indonesia jauh lebih baik dari Portugal, Jerman, Korsel. Bahkan dibanding dengan negara yang sistem pendidikannya dinilai terbaik dunia, New Zealand.

Artinya apa? Walau kita memiliki banyak perpustakaan, ruang baca, pustaka keliling, buku dan lainnya, yang dibangun pemerintah, tapi ternyata belum mampu meningkatkan minat baca/literasi masyarakat. Menyedihkan?

Sama dengan media (pers) saat ini. Walau media online tumbuh pesat, diperkirakan ada 45 ribu lebih portal online saat ini di seluruh Indonesia. Tapi banyaknya media online tersebut ternyata belum meningkatkan minat baca masyarakat. Yang baru meningkat mungkin hanya ‘minat baca judul berita’. Dan kemudian disalurkan dengan pem-vonisan atas media.

Kondisi ini juga, hemat saya, yang akhirnya berpotensi akan menumbuh suburkan ‘false news’ dan ‘fake news’ di media. Demi menarik pembaca yang hanya tertarik dengan judul berita, akhirnya media ‘menyesuaikan diri’. Media terdorong memproduksi berita dengan judul-judul yang bombastis atau hanya berorientasi ‘klik bait’.

Jika ini terus terjadi, -literacy rendah dan media yang hanya orientasi klik bait- maka “Post-Truth” benar-benar akan kuasai Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU