Cak Nun : Jakarta Sedang Panas, Jangan Pilih Pemimpin yang Mulutnya Bau Bensin

12
6034

JOMBANG – Kondisi Jakarta sedang panas. Bahkan api sudah membara dimana-mana, maka jangan memilih pemimpin yang mulutnya bau bensin. Nanti kebakarannya akan semakin besar dan merata.  Penegasan metafora itu disampaikan Budayawan Emha Ainun Najib yang akrab dipanggil Cak Nun, dalam forum Majelis Maiyah Padhangmbulan, Minggu (12/2) menjelang Subuh tadi.

Pengajian rutin bulanan di Desa Menturo, Jombang itu dihadiri ribuan jamaah dari berbagai kota di Jawa Timur. “Pemimpin umat Islam harus belajar menggunakan bahasa yang baik, metafora, melingkar, agar mendidik masyarakat dengan kecerdasan logika. Bukan hanya verbal yang akhirnya melahirkan permusuhan,” tambah Cak Nun.

“Banyak sekali bisa kita gunakan istilah yang jelas, tetapi tanpa harus melahirkan permusuhan. Kalau saya pribadi sebenarnya begini. Ada 3 pilihan makanan, 2 pilihan sepoh (ibarat masakan kurang bumbu), sementara yang satu bakteri bahkan racun. Jadi jelaskan? Pilih yang mana?, “ tegas Cak Nun disambut riuh jamaah.

Pengamatan SERUJI, ribuan jamaah Padhangmbulan yang memasuki halaman Sentono Arum, area pengajian sejak sore, antusias mengikuti hingga pukul 03.00 WIB yang kemudian diakhiri dengan berdiri bersama, bershalawat, dan berdoa. Yang menarik, jamaah antre panjang untuk bersalaman dengan Cak Nun hingga 1 jam lebih. Acara seperti ini sudah berlangsung 24 tahun, dengan jamaah yang setiap lima tahun berganti generasi.

Sementara dalam kajian soal kepemimpinan dalam majelis semalam juga disampaikan pemikiran  Dr. A Fuad Effendy, guru utama Maiyah yang akrab dipanggil Cak Fuad.

“Rasulullah SAW tidak melarang kita menjadi pemimpin tapi melarang kita meminta jadi pemimpin. Hadistnya sahih dari Bukhari Muslim. Banyak hadis yang memperingatkan betapa beratnya tanggung jawab seorang pemimpin. Banyak pemimpin yang di dunia dihinakan dan di akhirat dicampakkan ke neraka,” jelas Cak Fuad.

Seorang muslim yang menjadi pemimpin punya kewajiban untuk menegakkan agama dalam arti menegakkan keadilan, kebaikan, dan kebenaran yang merupakan inti dari ajaran agama.

“Beberapa perilaku pemimpin yang disebut oleh Rasulullah sebagai penyebab mereka dihinakan dunia akhirat antara lain orientasi kekuasaan bukan pengabdian, memilih pejabat atas dasar nepotisme dan like-dislike, membohongi, menyulitkan dan menyusahkan rakyat, tebang pilih dalam penegakan hukum, “ tegas Cak Fuad. (Imam)

Foto : Hari/SERUJI.

BAGIKAN
loading...

12 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

Terbaru

Meski Tertunda Karena Hujan, Akhirnya Tenda Bantuan Untuk Rohingya Dapat Didirikan

BANGLADESH – Akhirnya tenda bantuan dari Indonesia untuk pengungsi Rohingya sudah berdiri. meskipun sebelumnya sempat tertunda akibat hujan deras pada hari Kamis (21/9), di...

Oktober, Jadi Tidaknya Demokrat Usung Khofifah Ditentukan

SURABAYA, SERUJI.CO.ID - Peluang Mensos Khofifah Indar Parawansa untuk mendapatkan rekomendasi dari Partai Demokrat pada Pilgub Jatim 2018 mendatang terbuka lebar. Pasalnya, menurut rencana...

Pengamat: Emil-Daniel Perpaduan Yang Saling Melengkapi

JAKARTA- Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, mengatakan bila Partai Golkar memutuskan mendukung pasangan Ridwan Kamil (Emil)-Daniel Mutaqien pada...

Uber Terancam Dilarang Beroperasi di London

LONDON - Perusahaan operator transportasi online Uber terancam tidak dapat beroperasi di London setelah perpanjangan lisensi operasinya ditolak oleh otoritas transportasi London, Transport for...

Rotasi Pejabat, Soekarwo Promosikan Adik La Nyalla Mattalitti

SURABAYA, SERUJI.CO.ID - Gubernur Jawa Timur Soekarwo merotasi sejumlah nama menduduki jabatan baru di Pemprov Jatim. Tak terkecuali adik kandung La Nyalla Mattalitti, yakni...

Polisi Mimika Sita Ribuan Sachet Obat Batuk

TIMIKA - Kepolisian Sektor Mimika Baru, Polres Mimika, Papua, menyita 40 karton berisi 59.610 sachet obat batuk jenis komix yang dijual bebas tanpa izin...