Pilkada DKI, antara Pemilih Rasional dan Emosional

155

Pilkada di DKI telah usai. Hasil quick count sudah didapat. Akan tetapi hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Calon nomor 2 yang diharapkan terlempar di putaran pertama malah masuk ke putaran kedua. Adapun hasil perolehannya adalah perolehan 17,07 persen (paslon 1), 42,96 persen (paslon 2), dan 39,97 persen (paslon 3) (data Portal KPU tanggal 18 Februari 2017, pukul 18:45 WIB)

Apa yang terjadi? Kenapa Ahok mendapat perolehan suara diatas paslon yang lain?

Kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama telah membangkitkan emosional umat Islam untuk bersatu melakukan perlawanan. Perlawanan ini bukan hanya untuk menuntut Basuki Tjahaja Purnama secara hukum akan tetapi berupaya untuk melakukan perlawanan dalam pilkada.

Sentimen agama dibangkitkan untuk mengembosi calon petahana. Semua komponen digerakkan agar warga Jakarta mengalihkan pilihannya kepada calon lain. Tujuannya bukan tidak agar calon petahana kalah dalam satu putaran.

Berdasarkan data portal resmi Provinsi DKI Jakarta, jumlah penduduk Jakarta, 83,3 persen adalah Islam. Artinya, semua suara umat Islam akan diberikan kepada calon nomor 1 dan nomor 3. Tapi kenyataannya hanya 57,04 persen (dengan asumsi semua Islam) yang memberikan suara kepada paslon nomor 1 dan 3. Sisanya 26,26 persen diberikan kepada paslon nomor 2.

Yang memberikan suaranya kepada paslon nomor 2 adalah mereka yang melepaskan ikatan emosionalnya dengan Islam. Mereka lebih mengedepankan rasional dalam menentukan pilihan. Mereka tidak melihat sesuatu yang menjanjikan di paslon 1 dan 3, mereka melihat paslon nomor 2 lebih rasional dan menjanjikan.

Dengan asumsi pemilih yang menjatuhkan pilihannya kepada Agus-Silvy dan Anies-Sandiaga adalah pemilih emosional, maka dipastikan pada putaran kedua, Anies-Sandiaga akan memenangkan pertarungan.

Tapi kenyataannya tidaklah semua pemilih Agus dan Anies adalah pemilih emosional. Mereka juga ada pemilih yang rasional dan bahkan ada juga swing vote. Mereka-mereka inilah yang harus diantisipasi oleh Anies dalam menghadapi putaran kedua nantinya.

Dalam menghadapi putaran kedua nanti, Anies-Sandiaga harus mengedepankan program-program yang lebih rasional, tidak muluk-muluk. Program yang lebih bisa diterima oleh warga Jakarta, agar warga bisa memberikan kepercayaannya kepada Anies Bawedan dan Sandiaga Uno.

Apakah Anies Bawedan dan Sandiaga Uno bisa memberikan program-program yang rasional? Mari kita tunggu dibabak kedua.

Penulis: Syamsul Arham adalah citizen journalist SERUJI

EDITOR: Rizky

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama