Rupiah Makin Terperosok, DPR: Fundamental Ekonomi Harus Diperkuat

0
30
Uang Rupiah
(Ilustrasi)

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan menyatakan pemerintah perlu memperkuat fundamental perekonomian nasional dalam menghadapi kondisi pelemahan nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

“Fundamental ekonomi kita harus diperkuat agar mampu menahan kuatnya dolar AS,” kata Taufik Kurniawan dalam rilis di Jakarta, Sabtu (30/6).

Menurut Taufik, dengan kebijakan yang mengarahkan kepada penguatan fundamental ekonomi, maka rupiah juga diharapkan bisa kembali menguat.

Politisi PAN itu mengemukakan, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) harus siaga menghadapi pelemahan rupiah ini serta tidak bisa menilai bahwa pelemahan itu adalah sesuatu yang berlangsung sebagai normal atau hanya berlangsung secara musiman.

“Pelemahan ini jangan terus-terusan dianggap hal yang normal,” ucapnya.

Ia juga mengatakan, manfaat dari penguatan fundamental ekonomi juga akan memunculkan serta meningkatkan kepercayaan dari berbagai pihak pemangku kepentingan dan kalangan investor.

Dengan kepercayaan dari investor, lanjutnya, aliran dana keluar juga dapat diredam.

Taufik juga mengingatkan bahwa dampak dari melemahnya rupiah antara lain juga terkait dengan beban pembayaran utang sehingga perlu benar-benar diwaspadai.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyambut baik kenaikan suku bunga acuan “7-Day Reverse Repo Rate”, hingga 50 basis poin menjadi 5,25 persen, sebagai langkah antisipasi untuk membendung tekanan global.

“Kalau soal harus naik, semua orang sudah tahu. Tidak ada cara lain. Tidak naik, ketinggalan. Orang lain naik, itu akan membuat ‘capital flight’. Kami sambut apa yang dilakukan BI,” kata Darmin di Jakarta, Jumat (29/6).

Darmin meyakini kenaikan suku bunga acuan tersebut untuk merespons berbagai perkembangan dunia saat ini mulai dari kenaikan suku bunga The Fed, potensi perang dagang dan kondisi geopolitik terkini.

Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan “7-Day Reverse Repo Rate” hingga 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen pada Rapat Dewan Gubernur 28-29 Juni 2018.

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam jumpa pers RDG di Jakarta, Jumat (29/6), mengatakan bahwa langkah itu diambil untuk membendung tekanan ekonomi eksternal terhadap perekonomian domestik, termasuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Ini kebijakan moneter lanjutan yang ‘pre-emptive’ (antisipatif), ahead of the curve’ (selangkah lebih maju) dan front loading,” katanya. (Ant/Su02)

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BACA JUGA
Telur ayam naik

Heboh Soal Telur Naik: Mendag Tuding Piala Dunia, Mentan Sebut Karena Musim Haji

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Harga telur yang naik tinggi belakangan ini, sampai menyentuh Rp30 ribu perkilogram jadi perbincangan di tengah masyarakat. Bukan hanya karena tingginya...
Caleg

Terkait Menteri Nyaleg, Gerindra: Sebaiknya Mundur

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Wakil Ketua Komisi II DPR Ahmad Riza Patria menyarankan menteri-menteri yang menjadi calon anggota legislatif untuk Pemilu 2019 mundur dari jabatannya...

Terkait Pencalegan Kapitra lewat PDIP, Habib Rizieq: Jangan Lagi Ada di Kapal Kami

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Habib Rizieq Shihab telah mengeluarkan seruan yang tegas agar umat Islam tidak berhubungan dan mendukung partai-partai penista agama pada pemilu 2019....

Tiga Menteri PKB Nyaleg, Kata Cak Imin Tak Akan Ganggu Pemerintahan

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin) yakin bahwa tiga menteri dari PKB yang mencalonkan...
Telur ayam naik

Di Banjar, Harga Daging dan Telor Ayam Melonjak Tinggi

KOTA BANJAR, SERUJI.CO.ID - Harga telur ayam dan daging ayam di pasar Banjar, Jawa Barat, mengalami kenaikan harga. Berdasarkan pantauan di pasar Banjar Jumat...