JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan tipis pada perdagangan hari ini, Rabu (26/11). Berdasarkan data terkini, rupiah ditutup pada level sekitar Rp16.655 per dolar AS, menguat sekitar 0,21% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Penguatan ini terjadi di tengah fluktuasi pasar global yang dipengaruhi oleh kebijakan moneter Federal Reserve (FED) AS dan ketegangan geopolitik.
Menurut analisis dari Bank Indonesia dan pelaku pasar, rupiah berhasil rebound setelah sempat melemah di awal pekan. Kurs transaksi BI mencatat nilai tukar rupiah hari ini berada di kisaran Rp16.600 hingga Rp16.700 per dolar AS, dengan faktor pendukung seperti inflow modal asing ke pasar obligasi Indonesia.
“Penguatan rupiah hari ini didorong oleh sentimen positif dari data ekonomi domestik, termasuk pertumbuhan ekspor yang stabil,” ujar seorang analis keuangan dari CNBC Indonesia.
Sementara itu, dari sisi teknikal, data dari Investing.com menunjukkan bid rupiah di level Rp16.638,3 dan ask Rp16.641,8, dengan perubahan harian positif meski masih dalam tren sideways sepanjang tahun ini.
Perubahan tahunan mencapai 5,27%, mencerminkan tekanan inflasi global yang memengaruhi mata uang emerging markets seperti rupiah.
Para ekonom memperkirakan rupiah akan tetap volatil dalam jangka pendek, dipengaruhi oleh rilis data ekonomi AS seperti laporan ketenagakerjaan dan keputusan suku bunga Fed mendatang.
“Investor disarankan untuk memantau perkembangan ini secara hati-hati,” tambah sumber dari Bisnis.com.
Di sisi lain, kurs dari bank-bank besar seperti BCA menunjukkan nilai jual dolar AS di Rp16.655 dan beli di Rp16.595, sementara Wise mencatat konversi real-time sekitar Rp16.646 per dolar AS. Hal ini memberikan gambaran bagi masyarakat yang melakukan transaksi valas hari ini.
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan terus memantau pergerakan rupiah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Penguatan hari ini diharapkan dapat mendukung daya saing ekspor Indonesia di pasar internasional.
