TEHERAN, SERUJI.CO.ID — Salah satu ironi terbesar dari Perang AS-Iran yang bergejolak sejak 28 Februari 2026: justru Iran yang paling diuntungkan secara finansial dari kekacauan yang ditimbulkan di Selat Hormuz. Sementara dunia menyaksikan krisis energi terbesar sejak tahun 1970-an, Teheran diam-diam menghitung keuntungan.
Berdasarkan perhitungan Bloomberg mengacu pada estimasi TankerTrackers.com dan harga minyak Iran Light, Iran meraup pendapatan sekitar US$139 juta per hari dari ekspor minyak pada Maret 2026, lebih tinggi dari rata-rata US$115 juta per hari di bulan Februari. Dengan kurs Rp16.000, angka itu setara sekitar Rp2,2 triliun setiap harinya.
Bagaimana Iran Bisa Tetap Ekspor?
Kuncinya ada pada dua faktor yang selama ini tidak dipublikasikan luas. Pertama, infrastruktur minyak Iran tidak pernah menjadi target utama serangan AS dan Israel, meski fasilitas militer dihancurkan, kilang, pipa, dan tangki penyimpanan minyak sebagian besar tetap utuh.
Saat AS menyerang Pulau Kharg pada 13 Maret 2026, yang dihancurkan adalah target militer, bukan kapasitas penyimpanan minyaknya.
Kedua, Iran menggunakan taktik “transit gelap”, kapal tanker mematikan transponder pelacak posisi untuk menghindari pengawasan dan sanksi Barat. Data dari Lloyd’s List Intelligence menunjukkan setidaknya 90 kapal, termasuk tanker minyak, berhasil melintas Selat Hormuz secara diam-diam sejak awal konflik.
Dan pembeli utamanya? China, menyerap 90,8 persen ekspor minyak Iran. Kilang-kilang independen di Tiongkok terus memborong minyak Iran yang dijual dengan harga diskon, mengabaikan tekanan sanksi Barat. Di tengah perang sekalipun, permintaan Beijing tidak berhenti.
Sementara Negara-Negara Teluk Merugi Triliunan
Sebaliknya, negara-negara Teluk yang justru bukan pihak terkait perang menanggung kerugian terbesar. Karena mereka tidak bisa mengekspor minyak melewati Selat Hormuz yang kini berbahaya. Produksi minyak di seluruh kawasan Teluk Persia anjlok hingga 6,2 sampai 6,9 juta barel per hari dibanding tingkat produksi Februari, menurut lembaga kajian perminyakan Argus.
Saudi Aramco bahkan menangguhkan operasi di empat tambang lepas pantai utamanya.

Ironisnya, penutupan Selat Hormuz yang secara teknis dilakukan Iran untuk melawan AS, justru membuat harga minyak global melonjak melampaui US$100 per barel, dan Iran, yang juga menggunakan jalur yang sama untuk ekspor, menikmati lonjakan harga tersebut sambil terus mengirim minyaknya ke China.
Situasi ini menjadi salah satu alasan utama mengapa Trump akhirnya menunda serangan ke infrastruktur energi Iran: jika ladang minyak Iran dihancurkan sepenuhnya, harga energi dunia bisa meledak jauh lebih tinggi — dan efeknya akan dirasakan langsung oleh rakyat Amerika sendiri.
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan laporan media media kredibel, CNN, Bloomberg. SERUJI.CO.ID berkomitmen pada akurasi dan keberimbangan informasi.
