8 Drone Interseptor Terbaik Dunia 2026: Pembunuh Drone yang Ubah Doktrin Perang Modern

🦅 #7 — Coyote Block 2 | Raytheon / RTX (Amerika Serikat) 🇺🇸

Interseptor Militer Super-Power: Kontrak $5 Miliar, Rail-Launched, Kecepatan 595 km/jam

Sementara drone interseptor Ukraina merebut headline global, sistem yang paling banyak digunakan dalam operasi tempur nyata oleh militer superpower Barat adalah Coyote Block 2 dari Raytheon (RTX).

Berbeda dari semua sistem yang telah dibahas, Coyote bukan lahir dari kebutuhan perang Ukraina, melainkan dari program militer AS jangka panjang yang sudah berjalan sejak 2007.

Pada 29 September 2025, Pentagon menganugerahkan kontrak senilai $5,04 miliar kepada Raytheon untuk sistem Coyote dan radar KuRFS, dengan periode pemesanan hingga 2033 — sinyal terkuat bahwa AS berkomitmen penuh pada arsitektur pertahanan anti-drone berbasis Coyote untuk dekade mendatang.

Drone Interceptor Coyote Block 2
Drone Interceptor Coyote Block 2

US Army Fiscal 2025 mengalokasikan $116,3 juta hanya untuk pengadaan Coyote dalam satu tahun anggaran.

Parameter Spesifikasi Coyote Block 2
Produsen Raytheon Missiles & Defense / RTX, Tucson, Arizona
Propulsi Rocket booster + turbine engine (Block 2); elektrik propeler (Block 1)
Kecepatan Maks. 555–595 km/jam (Block 2)
Jangkauan 10–15 km; re-attack capability jika meleset pertama
Berat ~5,9 kg; panjang ~0,9 m; wingspan 1,5 m
Warhead Tungsten fragmentation, proximity/impact; +varian HPM non-kinetic (Block 3)
Seeker RF seeker (Block 2); paired KuRFS Ku-band radar 360° <16 km
Launch Rail/tube — ground vehicle, kapal, helikopter; M2 Bradley TOW launcher
Endurance Hingga 4 menit aktif setelah launch
Harga/Unit ~$100.000 (Block 2)
Kontrak $5,04 miliar (Sep 2025); $197 juta (2024); $75 juta/600 unit (Jan 2024)
Rekor Tempur Digunakan di CENTCOM (Suriah, Irak, Yordania); menembak jatuh drone di Timur Tengah
Swarm Block 3 HPM: musnahkan beberapa drone dalam satu misi tanpa mengorbankan unit

Coyote Block 2 adalah satu-satunya sistem dalam daftar ini yang benar-benar lahir dari dan untuk kebutuhan militer konvensional dalam kerangka NATO/AS penuh.

Setiap aspek dirancang untuk integrasi ke dalam arsitektur pertahanan multilayer: Coyote beroperasi sebagai bagian dari sistem LIDS (Low-altitude Integrated Defense System) yang mencakup radar KuRFS, komando-kontrol FAAD C2, dan effector Coyote sebagai satu loop deteksi-keputusan-engagement terintegrasi.

Radar KuRFS mampu mendeteksi objek sekecil peluru 9mm pada jarak 16 km — kemampuan yang jauh di atas sistem sensor yang menyertai interseptor drone lainnya. Kontrak $5 miliar untuk Coyote bukan hanya soal volume; ini adalah pernyataan doktrin: AS berkomitmen pada pendekatan sistemik terintegrasi, bukan solusi point defense murah-meriah.

Kelebihan: Kecepatan tertinggi di daftar (595 km/jam Block 2), jangkauan 10–15 km terluas untuk drone interseptor standar, re-attack capability, multi-platform launch (darat/udara/laut), terbukti tempur CENTCOM, Block 3 HPM bisa musnahkan swarm tanpa habiskan unit, ekosistem sistem terintegrasi paling matang.

Kekurangan: Harga $100.000/unit tertinggi di daftar ini, infrastruktur peluncuran kompleks (bukan man-portable), logistik militer berat tidak cocok untuk pertahanan rakyat, ketergantungan pada radar KuRFS sebagai enabler utama, endurance hanya 4 menit sangat terbatas.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER