TEL AVIV, SERUJI.CO.ID — Sebuah kilatan cahaya tak terlihat. Roket meluncur dari selatan Lebanon, melintas di langit malam — lalu meledak di udara, bukan karena rudal penyergap, melainkan karena berkas sinar laser berkekuatan 100 kilowatt yang menghantamnya dengan kecepatan cahaya.
Inilah Iron Beam, atau dalam bahasa Ibrani Or Eitan — “Cahaya Eitan” — sistem pertahanan laser pertama di dunia yang kini resmi bertempur.
⚡HISTORIC: For the first time ever, Israel used the Iron Beam to intercept rockets fired by Hezbollah. pic.twitter.com/DU63REU22k
— Israel War Room (@IsraelWarRoom) March 2, 2026
Pada 2 Maret 2026, Israel mengonfirmasi penggunaan tempur perdana Iron Beam ketika Hizbullah meluncurkan serangan roket ke wilayah utara Israel menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan Israel-Amerika Serikat. Sistem laser itu membakar roket-roket tersebut di udara — sebelum sempat menghantam permukiman warga.
🔥 Revolusi Pertahanan: Dari Rudal ke Laser
Israel telah menerima Iron Beam secara resmi dari Kementerian Pertahanan dan perusahaan industri pertahanan Rafael Advanced Defense Systems pada 28 Desember 2025, dalam sebuah seremoni di markas besar Rafael di wilayah utara Israel.
Penyerahan itu menandai era baru dalam sejarah pertahanan udara global — untuk pertama kalinya, sebuah negara mengintegrasikan sistem senjata terarah berenergi tinggi ke dalam jaringan pertahanan udara aktifnya.
“Ini bukan sekadar sistem baru. Ini perubahan aturan pertempuran,” ujar Brigjen (Purn.) Daniel Gold, Kepala Direktorat Penelitian dan Pengembangan Pertahanan Kementerian Pertahanan Israel, saat menyerahkan sistem tersebut. Menteri Pertahanan Israel Katz menyebut Iron Beam sebagai “sistem intersepsi laser berkekuatan tinggi pertama di dunia yang mencapai kematangan operasional.”
💡 Hanya $2–$5 per Tembakan, Tapi Bukan Berarti Murah Sepenuhnya
Klaim yang beredar di media sosial — bahwa sistem laser Israel hanya memerlukan biaya $3 per intersepsi — sebagian besar benar, namun menyederhanakan gambaran sesungguhnya. Ketua Rafael, Yuval Steinitz, pernah menyebutnya “seperti menyalakan lampu — harganya antara $1 hingga $2, lebih murah dari hot dog di New York.”
Sumber resmi militer Israel menyebut kisaran $2 hingga $5 per tembakan, dibandingkan $40.000 hingga $80.000 untuk satu peluru penyergap Iron Dome.
Namun ada angka lain yang sering dilupakan: setiap unit pengarah laser (laser director) — perangkat yang menembakkan berkas sinar penghancur roket itu — diperkirakan berharga puluhan juta dolar per unit. Dengan kata lain, biaya per tembakan memang nyaris nol, tetapi investasi awal untuk membangun dan menyebarkan sistem ini sangatlah besar.
Kementerian Pertahanan Israel sendiri mengakui bahwa penyebaran penuh Iron Beam di seluruh penjuru negeri membutuhkan waktu panjang dan anggaran sangat besar.
Untuk konteks perbandingan: satu rudal penyergap Tamir milik Iron Dome berharga sekitar $50.000 per peluncuran, sementara roket murah yang kerap ditembakkan Hamas atau Hizbullah hanya menelan biaya $500 hingga $1.000 per roket — sebuah asimetri ekonomi yang selama dua dekade membebani Israel. Iron Beam hadir untuk membalik ketidakseimbangan itu.
