close

Ahmad Dhani The Warrior

Oleh: Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle

SERUJI.CO.ID – Puluhan Youtuber berlomba cepat meng “upload” berita konser musik Dewa di Malaysia Sabtu, 2 Februari 2019 lalu. Baru dalam sehari Youtuber Suhairi telah mencatat 1,5 juta penonton, viva.co mencatat 1 juta viewer, tranding kekinian 1 juta viewer, surya citra tv 538.000 viewer, puluhan peng upload lainnya mencatat penonton 100 ribu sd 200.000. At all, sudah berjuta orang melihat video dengan judul konser Dewa dengan menambah embel-embel anaknya Ahmad Dhani, Dul dan Al menangis.

Cepatnya rakyat dunia maya menonton dan merespon video tersebut tentu saja berhubungan dengan tragedi di penjaranya Ahmad Dhani (ADP) beberapa hari yang lalu, karena mungkin dianggap terlalu banyak “menyulitkan” rezim yang sedang berkuasa saat ini. Atau mungkin karena sesuai tuduhan terhadap dia “hate speech“.

Hate Speech” itu apa? tentu banyak rakyat bingung, karena ungkapan manusia di era “internet of things dan big data” saat ini dapat menjadi “chit chat” yang dimulai dengan obrolan biasa, berkembang jadi saling argumen lalu berkembang jadi ujaran panas, yang bisa menghinggapi siapa saja.

Pemenjaraan Ahmad Dhani 1,5 tahun adalah tragedi terbesar di dunia. Jika kita bandingkan, umpamanya, dengan Geert Wilders di Belanda dan Mark Olic Porter di Arizona, USA. Hukuman yang diperoleh Ahmad Dhani lebih terkesan politik dibanding hukum murni.


Wilders, pemimpin parta ultra Nasionalis, yang selalu menyebarkan kebencian anti Islam dan imigran, khususnya Maroko, di Belanda, pada bulan Desember, 2016, dinyatakan bersalah, untuk diskriminasi bukan menghasut kebencian. Juga dia tidak di penjara dan tidak di denda. “However, the court cleared Wilders of the charge of inciting hatred and imposed no fine or sentence, ruling that a criminal conviction was sufficient punishment for a politician in Wilders’ position”, the Guardian, 9/12/16. Hanya dinyatakan bersalah juga buat Wilders tidak bisa terima. Dia meyakini demokrasi membolehkan dia berbicara terbuka.

Marc Olic Porter, contoh lainya, pada akhir 2016, seorang yang bukan politisi, dihukum 9 bulan penjara karena “Hate Speech” mengejek anak dan ayah berkulit hitam, dengan kasar dan menyebutnya “negro” ( www.sltrib.com ). Jika melihat sebutan Negro yang tidak bisa diterima lagi di Amerika, karena faktor historis, plus cara pengungkapan yang kasar, mingkin hakim berpikir ini sudah masuk ke “crime”.

Namun, secara umum di Amerika tidak dikenal dengan hukuman “hate speech“, karena Amerika memberi kebebasan pada “hate” dan “speech” tersebut (first amandemen of constitution).

Dalam situs American Library Association (www.ala.org/advocacy/intfreedom/hate) dibahas bedanya “hate speech” vs. “hate crime“, dimana yang pertama lebih kepada pikiran sedang yang terkahir pada tindakan. Membakar Masjid, misalnya, di Texas tahun lalu, pelakunya diberikan pasal-pasal terkait “hate crime” alias kriminal.

BACA JUGA

Loading...

Kolom dr. Irsyal, Sp PD

Puasa: Detoksifikasi Dalam Kehidupan Bergelimang Racun

Penelitian juga menunjukkan bahwa pada saat puasa kadar DDT didapatkan meningkat dalam feses, urin dan keringat mereka yang sedang berpuasa. Ini lah salah satu manfaat utama puasa dalam bidang kesehatan, detoksifikasi, purifikasi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Loading...

Media di Tengah Masyarakat Yang Terjangkit Post Truth

Bagi media, Post Truth itu sesungguhnya sangat menguntungkan. Karena di tengah masyarakat yang terjangkiti Post Truth mereka tidak sedang mencari kebenaran, tapi kesukaan.

Diskursus Jernih DAS Citarum

Melalui seminar ini, BPK ingin berperan memperbaiki sungai sepanjang 300 kilometer yang didapuk oleh Bank Dunia sebagai sungai terkotor di dunia tersebut.

Renungan Hari Tenang: Dari Indonesia Pusaka Hingga Tuhan Survei

Dan memang itulah tujuan tertinggi dari ritual pemilu. Kompetisi, adu gagasan, demonstrasi kepentingan, itu semua semacam gerak senam dan angkat beban dalam gymnasium.

Kembali Dalami Kasus Bank Century, KPK Minta Keterangan Muliaman D Hadad

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta keterangan terhadap mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) dan mantan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad dalam penyelidikan kasus Bank Century.

Pedagang Korban Kelompok Perusuh Saat Aksi Damai 22 Mei Bertemu Presiden Jokowi

Pedagang di Jalan KH Wahid Hasyim yang menjadi korban kerusuhan oleh sekelompok massa perusuh saat aksi damai pada 22 Mei 2019, Usma (64), bertemu Presiden Jokowi di Istana Merdeka Jakarta, Senin (27/5).

Nilai Tukar Rupiah Menguat Tipis, Seiring Tumbuhnya Kembali Kepercayaan Investor

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan ini bergerak menguat seiring berkurangnya kekhawatiran investor pascademo yang sempat ricuh pada pertengahan pekan lalu.

Bawaslu Gelar Sidang Pendahuluan Dugaan Pelanggaran Pemilu 2019

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI menggelar sidang pendahuluan kasus dugaan pelanggaran pemilu 2019 di Jakarta, Senin (27/5) pagi.

Pasca Kericuhan 22 Mei, Polda Bali Laksanakan Razia Stasioner

DENPASAR, SERUJI.CO.ID - Jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Bali melaksanakan...

Tiga Buruh Bangunan Jatuh ke Sungai, Satu Ditemukan Tewas

SUKABUMI, SERUJI.CO.ID - Tiga buruh bangunan yang sedang memasang...

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

Viral: Video Prajurit TNI AD Cegah Polisi Keroyok Peserta Aksi 22 Mei

Diduga video tersebut terkait dengan peristiwa unjuk rasa 22 Mei yang berlangsung di Jakarta, namun tidak diketahui dimana lokasi video tersebut diambil.

Yuk, Kenali Jenis Busana Tunik