Habibie: Sutan Muhammad Zain Pelopor Bahasa Indonesia

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Presiden ketiga RI Bacharuddin Jusuf Habibie mengagumi sosok mendiang Prof Sutan Muhammad Zain yang dikenalnya sebagai pelopor Bahasa Indonesia.

Habibie menyampaikan apresiasinya terhadap Sutan Muhammad Zain dalam peluncuran dua buku karya profesor tersebut, yakni “Kenangan Peralihan Masa” dan “Sriwijaya dan Kerajaan-kerajaan di Sumatra Era Klasik” di Jakarta Selatan, Sabtu (14/10).

“Dia adalah pelopor dari Bahasa Indonesia,” ujar Habibie saat memberi kata sambutan dalam acara tersebut.

Dia sempat bertemu dengan mendiang saat berkunjung ke tempat tinggal Sutan Zairin Zain yang merupakan anak sulung dari Sutan Muhammad Zain. Saat itu, Zairin Zain menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Jerman.

“Saya diundang oleh Zairin Zain untuk tinggal di rumahnya, di situ ada almarhum (Sutan Muhammad Zain), beliau sedang mempersiapkan bukunya tentang Sriwijaya,” tuturnya.

Dia mengatakan publik dapat belajar dari kegigihan dan kerja keras Sutan Muhammad Zain untuk bisa meningkatkan kualitas kehidupannya tanpa bergantung pada orang lain.

Dia mengatakan Sutan Muhammad Zain banyak memberikan kontribusi pada cikal bakal bahasa pemersatu bangsa, yaitu bahasa Indonesia.

Selain itu, Habibie memandang Sutan Muhammad Zain sebagai pahlawan atau pejuang yang juga berperan pada terwujudnya kemerdekaan RI lewat karyanya mendidik bangsa.

“Tidak ada Sumpah Pemuda kalau tidak ada perjuangan mereka (para pejuang termasuk Sutan Muhammad Zain). Tidak ada Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1945 kalau tidak mereka ini,” ujarnya.

Karena untuk memproklamirkan diri sebagai suatu bangsa, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia, Habibie mengatakan ada tiga kriteria yang harus dipenuhi, yaitu bahasa, nilai-nilai yang sama yang ditentukan oleh sinergi positif antara agama dan budaya, serta keinginan politik yang satu suara dari seluruh bangsa Indonesia untuk merdeka dari penjajahan.

“Kita memiliki dunia seperti dunia indonesia dan kita kehendaki untuk meneruskan perjuangan dari nenek moyang kita, seperti Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit untuk meningkatkan kualitas kehidupan atau peradaban,” katanya.

Dia menuturkan masyarakat Indonesia masing-masing memiliki budaya dan perilaku sendiri yang sangat pluralistik tapi dapat diikat menjadi satu kesatuan oleh bahasa.

Dia mengatakan dengan bahasa Indonesia, masyarakat majemuk Indonesia dapat saling berkomunikasi dan menulis berbagai tulisan seperti artikel tentang politik, ilmu pengetahuan, rekonstruksi pesawat terbang dan kedokteran.

“Bahasa itu yang memungkinkan kita walaupun pluralistik bisa memberikan informasi dan menerima informasi,” ujarnya.

Dia menuturkan akan berusaha menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo di suatu kesempatan untuk menjadikan Sutan Muhammad Zain sebagai sosok pahlawan nasional yang telah berjasa bagi bangsa Indonesia.

“Beliau ini yang memberikan batu-batu (dasar) supaya kita bisa berkembang,” tuturnya.

Ketika Jepang menjajah di bumi Indonesia, Sutan Muhammad Zain mulai menulis buku tentang gramatika bahasa Melayu. Buku inilah yang menjadi dasar gramtika bahasa Indonesia yaitu buku “Djalan Bahasa Indonesia” dan “Kamus Modern Bahasa Indonesia”. Kedua buku tersebut hanya sebagian kecil dari karya Sutan Muhammad Zain.

Setelah selesai menjadi Dekan di Universitas Nasional pada 1956, Sutan Muhammad Zain menyusul anak sulungnya Zairin Zain di Jerman. Di tempat itu, dia leluasa melakukan penelitian tentang Sriwijaya dengan rinci.

Buku “Sriwijaya dan Kerajaan-kerajaan di Sumatra Era Klasik” menampilkan pendapat bahwa Sriwijaya pernah mengalahkan dan menguasai Semenanjung Malaysia, Thailand, Filipina, Sailan, dan Jawa.

Wati Zain yang adalah cucu dari Sutan Muhammad Zain memandang kakeknya itu sebagai sosok teladan tiada henti belajar dan mencintai pengetahuan sepanjang hayat.

“Beliau banyak menulis dan menerbitkan buku khususnya tentang Bahasa Indonesia,” ujarnya.

Dia berharap buku “Sriwijaya dan Kerajaan-kerajaan di Sumatra Era Klasik” dapat menjadi bahan informasi untuk meneliti dan menggali lebih dalam lagi terkait Kerajaan Sriwijaya di masa lalu.

“Harapan kami agar kedua karya ini (“Kenangan Peralihan Masa” dan “Sriwijaya dan Kerajaan-kerajaan di Sumatra Era Klasik”) dapat berguna bagi pelajar, mahasiswa, dan pihak terkait lainnya,” tuturnya. (Ant/SU02)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Terpilih Secara Aklamasi, Sutopo Kristanto Pimpin IKA ITS Periode 2019-2023

Pria kelahiran Tulungagung, 25 Desember 1954 ini menggantikan Ketua Umum sebelumnya, Dwi Sutjipto yang merupakan Kepala SKK Migas. Adapun Sutopo sehari-harinya adalah Presiden Direktur PT Jaya Konstruksi.

“Tenggelamkan!” Yang Populer di Era Susi Pudjiastuti, Bakal Hilang di Era Edhy Prabowo

"Tenggelamkan!" yang selama 5 tahun belakangan akrab di telinga masyarakat, akan hilang pasca Susi tidak lagi menjabat sebagai Menteri KKP, digantikan politisi Gerindra, Edhy Prabowo.

Bantah Pangkas Anggaran Pendidikan Demi Formula E, Begini Penjelasan Pemprov DKI

Malah kata Syaefuloh, Pemprov DKI Jakarta terus melakukan peningkatan anggaran rehabilitasi total gedung sekolah secara signifikan, terutama pada 2017 sampai 2020

Pangkas Anggaran Pendidikan Demi Formula E, PSI: Bukti Kepedulian Anies Sangat Rendah Pada Pelajar

Diungkapkan Anggara, bahwa untuk melaksanakan perhelatan balap mobil listrik tersebut, Pemprov DKI menganggarkan sebesar Rp1,16 triliun. Namun, anggaran sebesar itu ternyata diambil dengan cara memangkas anggaran lain yang jauh lebih penting.

Bertemu Dubes Saudi Siang Ini, Menhan Prabowo Akan Bahas Soal Habib Rizieq

Dalam pertemuan yang direncanakan berlangsung pukul 15.00 WIB tersebut, Prabowo berharap dapat juga membahas soal klaim HRS yang mengatakan dicekal Kerajaan Arab Saudi.

Setelah 25 Tahun Bekerja Sebagai Dokter, Baru Ketahuan Ijazah Yang Digunakan Palsu

Ijazah kedokteran SU diketahui palsu setelah 25 tahun bekerja sebagai dokter di PT Pelni.

TERPOPULER

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

BUMN, Pseudo CEO, dan Efek Negatifnya

vonis hakim menunjukkan bahwa sejatinya Karen bukan direktur sesungguhnya. Bukan direktur utama yang sesungguhnya. Bukan CEO. Karen hanyalah seorang direktur semu. Seorang direktur-direkturan.

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama
close