Sidang Ahok: Majelis Hakim Tegur Saksi dari Polisi

Jakarta.Seruji.Com — Saat ini persidangan masih dalam pemeriksaan terhadap saksi Briptu Ahmad Hamdani (Polresta bogor) selaku pihak yang mencatat pengaduan dari pelapor Ahok.

Saksi Briptu Ahmad Hamdani pada kesaksiannya sempat ditegur oleh Majelis Hakim karena tidak tegas dalam menjawab pertanyaan soal pencatatan tanggal pelapor saat menyaksikan video Ahok.

Pada pertanyaan Majelis hakim kepada Briptu Ahmad Hamdani dalam sidang lanjutan Ahok di auditorium Kementan, Jalan RM Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan (17/01)

“Sebelum ditandatangani ada beberapa koreksi, apakah tanggal 6 September menjadi Oktober?”

Jawab dari Briptu Ahmad Hamdani, “Kurang tahu”.

Majelis Hakim lagi-lagi bertanya soal permasalahan tanggal pelapor Willyudin menonton video Ahok saat berada di Kepulauan Seribu yang ditulis 6 September 2016. Kebetulan Willyudin di hadirkan kembali di persidangan ini, yang langsung di dikonfrontir dengan Briptu Ahmad mengaku melihat video pada 6 Oktober. “Jadi tanggal dikoreksi pelapor?” tanya hakim.

Lagi-lagi jawaban dari Briptu Ahmad Hamdani “Kurang tahu” kepada Majelis Hakim, jawaban tersebut hanya mengulang-ulang jawaban yang sama atas pertanyaan sebelumnya.

Lantaran mendengarkan jawaban yang diberikan oleh Briptu Ahmad Hamdani, membuat Majelis Hakim menegur Briptu Ahmad. Majelis Hakim mengingatkan kepada Briptu Ahmad Hamdani pentingnya keterangan pelaporan polisi dibuat sesuai fakta tanpa ada kesalahan penulisan, karena sebelumnya ada kesalahan penulisan yang seharusnya pizza hut menjadi fitsa hats.

Majelis Hakim menegur “saudara sudah disumpah, jangan ketawa-ketawa begitu, kalau saudara tidak ingat itu lupa, saudara mengerti bahasa Indonesia saya kira. Saya menerima laporan ini fatal nanti.” (JM)

Reporter : HKY CH
Editor : HKY CH

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Selesai ?

Penggratisan Suramadu: Memperdalam Kekeliruan Kebijakan Pemerintah

"Kebijakan ini dibangun di atas paradigma benua, bertentangan dengan paradigma kepulauan. Dalam paradigma benua, kapal bukan infrastruktur, tapi jalan dan jembatan. Kapal disamakan dengan truk dan bis," Prof Danie Rosyid.

Gus Ipul Mentransformasi Kota Pasuruan Menuju Smart City

Pemerintah cerdas adalah pemerintah yang mampu menggunakan teknologi untuk melayani masyarakat secara lebih cepat, lebih murah sekaligus lebih terukur. Dinamika perkembangan teknologi juga berpengaruh terhadap kebutuhan dan harapan masyarakat terhadap pelayanan.

E-Sambat, Cara Gus Ipul Manfaatkan Teknologi Digital untuk Layani Warga Kota Pasuruan

Program Smart City atau Kota Cerdas membuat kerja pemerintah menjadi lebih efisien, termasuk dengan cepat dapat merespon berbagai keluhan masyarakat. Seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Pasuruan dengan aplikasi e-Sambat.

Smart City di Surabaya Bukan Sekadar Urusan Aplikasi

Ada enam faktor pendukung terciptanya smart city di Kota Surabaya, Jawa Timur. Program ini bukan sekadar urusan aplikasi, namun juga untuk memberdayakan UMKM.

Terinspirasi Jack Ma, Khofifah Dorong UMKM Masuk ke Dunia Digital

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sejak awal berupaya agar usaha mikro kecil menengah diberikan peluang melalui digitalisasi sistem. Ia terinspirasi Jack Ma, pemilik Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok.

Ketum AMSI: Kebutuhan Publik Zaman Now Bukan Hanya Hard News

Media massa digital atau dalam jaringan sudah harus mulai meninggalkan pola pikir konservatif dan konvensional. Masyarakat tak hanya butuh berita keras (hard news), tapi juga informasi keseharian.

Target Pemerintah: 6,1 Juta UMKM On Boarding Setiap Tahun

Usaha mikro kecil menengah di daerah membutuhkan teknologi digital untuk berkembang di era pandemi.

TERPOPULER

Diserbu Penumpang, Tarif Kapal Pelni Kendari-Jakarta Hanya Rp529 Ribu

Kebetulan harga tiket kapal laut milik Pelni masih relatif murah. Untuk penumpang dewasa dari Kendari hingga Tanjung Priuk, Jakarta Utara hanya dibanderol Rp529 ribu, termasuk tiket kapal super ekspres Jetliner Kendari-Baubau hanya Rp100 ribu perpenumpang.

Makan Dikit, Perut Kok Buncit?