PPAD Nilai Kasus Pembunuhan Pekerja di Papua Disebabkan Intelijen Tidak Berfungsi Baik

1
86
  • 105
    Shares
Separatis Papua Bersenjata (foto:istimewa)

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD) meminta pemerintah mengevaluasi kinerja intelijen di Papua, setelah peristiwa tewasnya pekerja Trans Papua di Nduga, Papua pada Ahad (2/12) lalu.

“Kami menyarankan masalah intelijen dievaluasi menyeluruh dan komprehensif karena kesannya kejadian tersebut tidak ada keterpaduan,” kata Ketua Umum PPAD Letjen (Purn) Kiki Syahnakri dalam konferensi pers di Gedung PPAD, Jakarta, Jumat (7/12).

Kiki Syahnakri mengatakan, apabila fungsi intelijen berjalan dengan baik, maka peristiwa penembakan puluhan pekerja proyek Trans Papua oleh separatis Papua yang oleh aparat disebut Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua tidak akan terjadi.

Kiki menilai seharusnya intelijen mewaspadai adanya gerakan separatis di Papua terutama tanggal 1 Desember adalah Hari Ulang Tahun (HUT) Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Baca juga: Pos TNI Diserang Kelompok Separatis Papua, Seorang Tentara Tewas

“Tanggal 1 Desember itu adalah, HUT OPM, masa intelijen tidak ada peringatannya untuk mewaspadai itu,” ujarnya.

Kiki menjelaskan kinerja Intelijen perlu ditekankan karena operasi apapun perlu data intelijen karena kalau tidak maka sasaran tidak dapat dicapai.

Kiki juga meminta pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh terkait penanganan keamanan di Papua, menyangkut masalah manajemen operasi TNI-Polri seperti sistem intelijen, taktis, koordinasi, teritorial.

Baca juga: Sadis, 31 Pekerja Proyek Trans Papua Dibunuh Kelompok Separatis Papua

“Saya tidak tahu kinerja intelijen di Papua seperti apa, sehingga kami sarankan dievaluasi secara komprehensif dan menyeluruh,” katanya.

Menurutnya, kerja intelijen seharusnya dapat mendeteksi senjata yang diduga banyak diselundupkan di Papua sehingga digunakan kelompok bersenjata untuk menyerang warga sipil dan prajurit TNI-Polri.

Kika berharap intelijen Indonesia harus peka dan mengusut asal usul senjata tersebut sehingga bisa dilakukan deteksi dini dan pencegahan agar tidak terjadi peristiwa penembakan.

Baca juga: Tegaskan KKB Pemberontak Bukan Kriminal, Ryamizard: Menyerah atau Diselesaikan!

“Selain itu, Indonesia yang memiliki garis pantai yang panjang, TNI-Polri sulit mendeteksi masuknya senjata sehingga apabila masyarakat mengetahui adanya dugaan senjata yang masuk, mereka harus melaporkan kepada institusi TNI dan Polri,” ujarnya.

Sebelumnya, pekerja proyek jalan Trans Papua yang sedang bekerja membangun jembatan di Kali Yigi dan Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, diduga dibunuh kelompok separatis, Ahad malam (2/12).

Polda Papua menduga sebanyak 24 orang dibunuh di hari pertama sementara delapan orang yang berusaha menyelamatkan diri di rumah anggota DPRD, tujuh di antaranya dijemput dan dibunuh KKB dan satu orang belum ditemukan. (Ant/Hrn)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU